Tag Archives: pear jam

Pearl Jam Indonesia di Kedai Mantap Djiwa

Rasanya sudah seabad lewat sejak terakhir kali saya menikmati Nito memainkan lead guitar dalam Alive, Yellow Ledbetter, dan setumpuk lagu hit sejuta umat miliki Pearl Jam lainnya. Sama lamanya sejak terakhir kali saya menyaksikan dan mereguk energi Hasley saat menyanyikan Porch. Atau bersama dari bangku penonton melolongkan semua lirik dari semua lagu yang ditumpahkan penampil yang menggila di panggung.

Ya. Rasanya memang sudah lama sekali saya melupakan hal-hal yang secara mendalam sangat saya sukai. Saya cintai.

Sabtu malam (7/12), semua itu kembali. Adalah Ikhwan alias Kuda yang menyediakan kedainya sebagai tempat berjumpa. Kedai kopi mungil yang nyaman itu bernama Mantap Djiwa. Terletak di bilangan BSD, tak jauh dari Pasar Modern.

Orang-orang itu, para penampil dan penontonnya, sudah saya kenal lebih dari satu dekade lamanya. Bersama mereka, saya sudah berkali-kali menggelar konser musik komunitas, menerbitkan majalah, dan perjalanan wisata ke luar kota. Mereka, segila dan sepayah apa pun, terasa seperti keluarga. Itulah dia, Pearl Jam Indonesia.

Sesi gonjrang-gonjreng sore itu tidak dari awal bisa saya ikuti. Seharian penuh saya memang ikut kelas penulisan skenario yang dimentori oleh Salman Aristo, yang lucunya, adalah juga bagian dari keluarga besar Pearl Jam Indonesia. Kelas Skenario, setelah sebelumnya selama 3 bulan mengikuti Kelas Cerita – keduanya diselenggarakan oleh Wahana Kreator Nusantara – adalah bagian tak terpisahkan dari fase hidup saya yang belakangan ini berputar-putar di persimpangan jalan.

Saya tiba di kedai Mantap Djiwa sekitar jam 6 sore, ketika penampil sedang rehat setelah menyelesaikan sesi pertama mereka. Suasana sudah ramai. Dan ramah. Wajah-wajah lama yang saya kenal hadir. Berbagi cerita layaknya kawan lama yang sudah sekian waktu tidak berjumpa.

Sebagian sudah bawa anak. Sebagian lainnya membawa cerita yang berbeda. Namun semuanya datang untuk hal yang sama: bernyanyi sambil menikmati sore dan malam dan obrolan santai antarkawan.

Band bertajuk 40+ (kalian tahulah kenapa namanya demikian) yang digawangi oleh Jessy, Nito, dan Alex Kuple tampil prima. Silih berganti Jessy, Hasley, Dedot, Amang, dan Andi mengisi posisi sebagai vokalis. Mereka menumpahkan nomor-nomor beken milik Pearl Jam (tentu saja!), Alice in Chains, RHCP, dan banyak lagi yang lainnya.

Semalam, saya menyadari betapa sebagai manusia kita kerap melupakan apa yang sudah ada. Kita kelewat memfokuskan diri mengejar apa yang kita mau dan belum tersedia. Lebih parah, mengharapkan apa yang barangkali tidak bakal bisa kita dapatkan.

Semalam, di kedai kopi mungil yang nyaman itu, saya menyadari dan mengakui, bahwa bersama Pearl Jam Indonesia, saya sebenarnya punya apa yang barangkali tidak dipunya banyak orang di dunia: kawan-kawan yang sederhana. Yang menjadi bagian penting dalam hidup dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka. Dengan satu kesamaan yang mengatasi semua perbedaan, yaitu kecintaan pada musik.

Kedai Mantap Djiwa, you boleh!