Tag Archives: pearl jam

PJID Kembali Sederhana

Nito Kesurupan (foto oleh Hilman)

Nyaris dua dekade dan tidak ada yang berubah. Sebagian bertambah gendut, tentu. Tapi tidak melemah. Sama sekali tidak! Semalam, setelah dua tahun lebih tidak kumpul dalam acara resmi komunitas, Pearl Jam Indonesia (PJID) kembali menggelar ritualnya: Pearl Jam Nite. Seperti biasa, semua berteriak keras, baik dari atas maupun bibir panggung. Melolong seperti anjing hutan. Melepaskan semua yang perlu dilepas.

Omong-omong, semalam adalah gelaran Pearl Jam Nite kesebelas sejak pertama kali perkumpulan fans garis keras itu mengibarkan bendera pada 2005. Sebelas gig digagas dan kemudian dieksekusi oleh dan untuk sebuah komunitas kecil dalam rentang waktu belasan tahun. Wagelaseh!

Ketika Dedot cs. membawakan I Got Shit, siapa pun yang hadir malam itu mestilah langsung paham, ini bukan sembarang acara. Bukan sebuah perayaan cover song yang hanya membawakan lagu hits sejuta umat. Nope! Pearl Jam Nite memang sepertinya tidak pernah dirancang untuk jadi gelaran seperti itu.

Apalagi ketika Jessy, dari atas panggung, mengumumkan bahwa sudah tiba waktunya “PJ dan kawan-kawan”. Itu adalah kode keras. Sejak detik itu, jangan harap ada lagu “normal”. Alih-alih nomor megahit macam Jeremy, yang menggelinding justru Crown of Thorns, Comfortably Numb, Baba O’Riley, sampai Under Pressure. Gila, kan? Gak juga, sih. Biasa aja. Ini PJID, tempatnya orang gila musik berkumpul untuk merayakan keragaman genre.

Tentu saja ada bintang tamu, kalau Nugie yang sejak mula memang sudah tergabung dalam PJID mau dikasih predikat seperti itu. Dan tentu saja dia boleh memainkan lagu-lagunya sendiri. Tidak ada larangan untuk itu. Pearl Jam Nite bukan acara keramat yang mengharamkan lagu selain milik Eddie Vedder cs. berkumandang. Jadilah kemudian trio Nugie, Nito, dan Kuple membawakan dua hits lawas: Pembuat Teh dan Pelukis Malam.

Wah, mereka bertiga sepanggung dan bawakan tembang lawas. Apa tidak tergugah untuk reuni dan menulis materi baru?

Ada masanya ketika PJID menjadi terlalu mainstream. Seingat saya, itu terjadi setelah ada liputan khusus tentang komunitas itu di harian Kompas. Satu atau dua tahun setelah liputan itu, PJID seolah terbebani untuk menampung banyak orang dan mengibarkan bendera perjuangan bertajuk “Bring PJ to Indonesia”.

Masa itu adalah yang paling gemerlap karena banyak sekali musisi lokal menyodorkan diri menjadi bintang tamu. Namun ironisnya, itu juga adalah masa yang paling terasa penuh tekanan, karena kegembiraan membicarakan band yang digilai tercampur dengan kewajiban berdakwah, mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menggilai. Betapa buang-buang waktu dan energi.

Semua itu pada akhirnya masuk ke comberan. Menjadi bagian masa silam yang separuh jadi bahan tertawaan. Dan saya merasa bersyukur bahwa dari comberan itu kemudian malah muncul jiwa-jiwa keras kepala yang memang sejak dulu menyukai Pearl Jam tampa embel-embel. Tidak perlu bintang ini itu. Tidak butuh liputan media anu. Semua dikembalikan ke khitahnya: menikmati Pearl Jam.  Itu saja.

Sekali lagi, semua menjadi sederhana. Terang. Dan sangat menyenangkan.

Seperti malam tadi. Saat masih ada tangan-tangan kokoh yang berkenan mengangkat tubuh tambun ini ber-crowd surfing. Saya sudah kelewat mabuk untuk ingat di lagu apa itu semua terjadi. Namun yang saya ingat, itu sungguh teramat sangat menyenangkan.

Apa yang Ada di Kepala Eddie Saat Ini?

Untuk memastikan diri mereka tidak terlanjur jadi tragedi berikutnya, Eddie Vedder kemungkinan akan membubarkan Pearl Jam dan melanjutkan hidup dengan berjualan es kelapa muda di Hawaii. Mungkin sesekali dia menulis lagu dan memainkan ukulele di pesta-pesta kecil di depan api unggun. Itulah pikiran gila yang bergentayang di kepala saya dua hari terakhir ini.

Sebenarnya, pikiran itu tidaklah kelewat gila. Coba sabar sebentar. Saya akan urutkan satu per satu argumennya. Meski demikian, saya sarankan kalian janganlah terlalu memercayai ide ini. Anggap saja ini adalah obrolan warung kopi. Seru, mungkin saja terjadi, tapi tidak punya landasan fakta yang meyakinkan sama sekali. Tidak jauh beda dengan pertengkaran Pilkada DKI yang ramai beberapa bulan belakangan ini.

Kebangkitan Soundgarden, kalau boleh disebut demikian, tak lepas dari dukungan penuh Pearl Jam. Mereka membebaskan Matt Cameron dari jadwal tur demi merekam King Animal (rilis 2012), album pertama Soundgarden setelah 16 tahun vakum dan yang ternyata jadi album terakhir mereka. Mereka juga mengosongkan jadwal tur Pearl Jam demi memberi kesempatan bagi Matt Cameron tur bersama Soundgarden tahun ini. Kematian Chris Cornell, bagi yang belum mengetahuinya, terjadi beberapa jam setelah Soundgarden melakoni konser di Detroit, AS yang merupakan bagian dari rangkaian tur singkat tahun 2017.

Tidak berhenti di situ, rumor menyebutkan bahwa Telephantasm, album kompilasi yang rilis tahun 2010, juga menggunakan materi yang dikumpulkan oleh manajemen Pearl Jam. Belum lagi studio untuk latihan dan tenaga pengelola website. Semua itu, meski sepertinya tidak tercatat dalam pemberitaan resmi media massa, bermuara pada satu kesimpulan: Pearl Jam punya andil sangat besar dalam kebangkitan Soundgarden satu dekade terakhir.

Sekarang, pertanyaannya adalah: kalau ternyata kebangkitan itulah yang memberi beban berlebih pada jiwa Chris Cornell sehingga memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri (seperti yang dinyatakan secara resmi oleh kepolisian), bagaimana perasaan Eddie Vedder dan kawan-kawan?

Semua orang tahu bahwa Eddie Vedder punya kecenderungan memboikot dirinya sendiri. Menolak membuat album “pasaran” dan kemudian menelurkan No Code, menyatakan perang melawan Ticket Master, dan menimbang untuk berhenti bermusik setelah tragedi kematian 9 fans di Roskilde tahun 2000, semua sudah dia lakoni. Dan bukan tanpa gembar-gembor.

Kalau kemudian kematian Chris Cornell jadi genderang kesadaran bagi dirinya, kita bisa apa? Bagaimana kita bisa memahami seperti apa rasanya jadi satu-satunya suara grunge yang bertahan hidup setelah ditinggal mati Kurt Cobain, Layne Staley, dan kini Chris Cornell? Dengan semua mata di dunia menatap tajam ke dirinya, apa Eddie Vedder bisa tahan?

Kenyataan bahwa Eddie Vedder menulis Sirens setelah mendengar jeritan sirene tangah malam yang mengingatkan dirinya akan rapuhnya kehidupan, menyadarkan dirinya bahwa setiap saat bisa saja sirene itu menjerit untuk dirinya, sama sekali tidak menenangkan hati. Kematian tidak pernah jauh dari benaknya.

Sudah larut dan saya masih belum mengantuk. Pikiran gila seperti ini sebaiknya disuruh berhenti saja.

Nirvana vs. Pearl Jam yang Damai Sentosa

Che Cupumanik membawakan "Porch" dan "Alive"
Che Cupumanik membawakan “Porch” dan “Alive”

Sebotol bir dingin dan puluhan lagu sakti milik Nirvana dan Pearl Jam jadi menu utama di RedBox, Wijaya. Malam tadi (Selasa, 24/11), saya mengisi energi di sebuah konser dengan tajuk yang (menurut saya) rada basi, “Nirvana vs. Pearl Jam”. Tak apa. Banyak konser yang judulnya bagus tapi isinya payah. Konser malam tadi sebaliknya. Kick ass!

Bagi saya, konser rock, di panggung raksasa maupun kelas kambing, sejatinya adalah kesempatan untuk kembali mengisi energi. Konser rock membuat saya merasa seperti ikan yang kembali ke samudera. Dalam beberapa kesempatan, kalau saya sedang beruntung, konser-konser itu bahkan bisa transendental.

Telat masuk ke arena gig, saya kebagian separuh suguhan Marigold. Tiga pria berbadan subur itu sukses menghibur. Dengan tutup kepala dan kacamata khas Kurt Cobain, gitaris sekaligus vokalis Marigold menghadirkan nomor-nomor milik Nirvana dengan penuh tenaga. Kegigihan mengopi citra Kurt seperti itulah yang disinggung oleh Wenzrawk (Managing Editor Rollingstone.co.id) dalam kata pengantarnya untuk buku “Rock Memberontak”.

Immortality, cover band khusus Pearl Jam asal Cianjur, jadi menu berikutnya. Saya pernah menonton penampilan mereka di perhelatan “Pearl Jam Nite” di tempat yang sama, sekitar satu tahun yang lalu. Mereka tetap OK dengan pilihan setlist oktan tingginya. Malam itu mereka kembali membuktikan bahwa band keren tidak selalu harus berasal dari ibu kota.

Usai Immortality hadirlah Pogo Zombie. Dimotori Uncal yang lebih saya kenal sebagai fans garis keras Layne Staley, tiga pria dari beragam latar belakang selera musik itu menghantam malam. Sebagian lagu kehilangan momentum, beberapa berakhir penuh pesona. “In Bloom” yang katanya khusus dibawakan untuk saya dan “Breed” yang disuguhkan bersama Amar Besok Bubar adalah dua di antaranya. Kedua lagu itu benar-benar maknyus!

Di sesi Pogo Zombie itulah crowd surfing mulai menggulung dan tidak berhenti hingga malam berganti pagi.

Perfect Ten, dengan segudang musisi tamunya, adalah menu terakhir yang saya nikmati malam itu, meski saya tahu menu pamungkas sesungguhnya adalah Bulldozer yang bakal membawakan lagu-lagu Nirvana. Bahkan seorang pemberontak seperti saya pun tetap harus tunduk pada kebutuhan balita akan sebotol susu dini hari, hihihi…

Ghayoung, yang malam itu menjadi MC bersama Irsya, berkelakar, “Ini baru anak band. Efeknya banyak!” Memang seperti itulah Perfect Ten yang sudah saya kenal selama 6 tahun lamanya. Mereka selalu serius setengah mati kalau sudah urusan Pearl Jam.

Amank OMNI, Amar Besok Bubar, Jon Angels, Nial Bunga, Dendi Mike’s Apartment (dulu saya mengenal dia sebagai Dendi Kunci), Jimmy Pitstop, Tapenk, Olitz Alien Sick, Adi Artificial Sun, Ryo Domara, dan Che Cupumanik adalah beberapa musisi tamu yang malam tadi unjuk gigi (tentu saja itu hanya nama yang saya ingat, karena saya pastikan jumlahnya lebih banyak dari itu!).

Amank menggila dengan “Evenflow”. Joget kejang, geleng-geleng kepala seperti kesetanan, dan orasi suka-suka jadi gayanya. Saya sempat khawatir kepalnya copot saat dia kelojotan di penghujung lagu. Setengah mabuk, Amar Besok Bubar membawakan “Do The Evolution” dengan sangat mantap. Salah satu versi terbaik yang pernah saya saksikan sejauh ini.

Semua membawakan lagu Pearl Jam jatahnya masing-masing dengan sepenuh hati. Namun demikian, justru “I Believe in Miracles” yang dibawakan Perfect Ten bersama Jimmy Pitstoplah yang bikin saya berdiri dari kursi. Gesture tubuh dan caranya bernyanyi, cool. Saya serasa melihat Eddie Vedder muda yang intens dan mencurahkan cintanya pada The Ramones. Suka!

Sudah hampir jam dua belas malam dan saya segera bergegas ke pintu keluar. “Nirvana vs. Pearl Jam” jelas bukan konser terbaik yang pernah saya hadiri. Meski demikian, konser semalam sudah memberi apa yang saya cari. Energi.