Tag Archives: pearl jam nite

Pearl Jam Nite 10 Cirebon

PJID di Gambir (foto oleh Che Cupumanik)
PJID di Gambir (foto oleh Che Cupumanik)

Hanya orang gila yang mau menempuh jarak ratusan kilometer untuk sebuah konser komunitas. Dan kami, anak-anak PJID, adalah orang gila.

Bersebelas (9 dari Jakarta dan 2 sisanya bergabung di Bekasi), saya bertolak ke Cirebon menumpang kereta dari Gambir, Sabtu (6/8) pagi. Apalagi kalau bukan untuk menghadiri perhelatan konser tahunan PJID? Pearl Jam Nite (PJ Nite) kesepuluh memang diputuskan untuk kembali digelar di Kota Udang, setelah sebelumnya PJ Nite 7 sempat digelar di sana pada tahun 2013.

Sungguh sial. Indomie rebus dan kopi susu panas ternyata sudah tidak lagi jadi menu kuliner di kereta. Entah dengan pertimbangan apa, penyedia jasa kereta menghapusnya dan menggantinya dengan suguhan makanan lain. Payah.

Tiba di Cirebon saat jam makan siang, kami langsung menyikat empal gentong. Sedap!

Bedah buku Rock Memberontak di Pilaradio Cirebon (foto oleh Che Cupumanik)
Bedah buku Rock Memberontak di Pilaradio Cirebon (foto oleh Che Cupumanik)

Di kedai empal gentong yang terletak di depan stasiun Cirebon itu kami bertemu dengan rombongan Bittertone dan ketua panitia kali ini, Urip. Setelah makan dan ngobrol sebentar, saya, Che, dan Urip memisahkan diri dari rombongan. Bermobil, kami bertiga menggelinding ke Pilaradio 88,6 FM, sebuah radio Cirebon yang ternyata digawangi seorang anak grunge garis keras bernama Lutfi.

Dalam sesi bedah buku Rock Memberontak dan promo PJ Nite 10 di Pilaradio, Angga – pembawa acara yang sungguh cerdas – mengupas banyak aspek buku dan konser komunitas. Tidak hanya soal buku dan konser komunitas, sesi wawancara sore itu juga mengupas pengalaman Nito menonton 4 konser Pearl Jam langsung di Amerika Serikat berturut-turut pada bulan Mei 2016. Fans Pearl Jam di Indonesia, silakan merasa iri.

Soundcheck (foto oleh Denny Andriyana)
Soundcheck (foto oleh Denny Andriyana)

Jelang maghrib, kami merapat ke venue. Kali itu yang terpilih jadi venue konser adalah Famouz Café. Saat tiba di sana, Bittertone yang diperkuat Dony Cupumanik sedang melakukan soundcheck. Lebih tepatnya, latihan. Bagaimana tidak saya sebut latihan, nyaris satu jam saya duduk di sana dan melihat mereka memainkan lebih dari 7 lagu termasuk Got Some, Sitting on The Dock of The Bay, hingga Godfather’s Theme Song.

Omong-omong, Godfather’s Theme Song akhirnya benar-benar mereka bawakan malam itu dan jadi melodi yang saya ingat sampai pulang ke hotel dini harinya. Sial!

Saya hadir sedikit telat. PJ Nite 10 sudah dimulai oleh Bandung Lost Dogs ketika sekitar jam 8 malam kurang sedikit saya tiba di Famouz Café bersama Che Cupumanik. Seperti biasa, kumpulan fans Pearl Jam asal Bandung itu membawakan nomor-nomor yang bukan merupakan lagu sejuta umat. In My Tree, I See Red, dan Don’t Gimme No Lip adalah beberapa contoh lagu langka yang malam itu mereka suguhkan dengan ciamik.

Seperti pada perhelatan PJ Nite sebelumnya, rombongan Bandung Lost Dogs menumpang bus yang dikoordinasi oleh kang Budhi Wibawa. Dengar-dengar, dia juga yang tahun depan akan dikorbankan jadi seksi repot pagelaran PJ Nite 11 di Bandung. Good luck, kang!

Bukan hanya rombongan saya dan Bandung Lost Dogs yang datang dari jauh. Malam itu ada sekelompok lainnya yang berkendara dari Batang, Jawa Tengah khusus untuk menghadiri PJ Nite 10. Kalau tidak salah, mereka menamakan dirinya Batang Grunge Ranger. Cool.

Setelah Bandung Lost Dogs menyelesaikan suguhan mereka, giliran saya, Che, dan Nito berbagi pengalaman dan pandangan mengenai buku musik Indonesia, Pearl Jam, dan konser. Boy Krucil dan Dhia bergantian menjadi moderator.

Jiwa yang Berani (foto oleh Denny Andriyana)
Jiwa yang Berani (foto oleh Denny Andriyana)

Sesi diskusi semacam itu adalah kali pertama di perhelatan PJ Nite. Menurut saya – meski akan terdengar tidak objektif karena saya sendiri yang jadi narasumber – diskusi seperti itu asyik juga kalau jadi menu rutin. Berbagi pengalaman dan pandangan seputar musik, bagi orang-orang seperti saya, sungguh menyenangkan.

Che tentu saja kemudian membawakan single berjudul Jiwa yang Berani bermodalkan gitar akustik. Single tersebut ditulisnya bersama Robi Navicula dan kemudian direkam di studio milik Ian Zat Kimia di Bali, beberapa hari sebelum peluncuran buku Rock Memberontak. Video dokumenter pembuatan lagu Jiwa yang Berani buatan Topang dapat ditonton di sini: JIWA YANG BERANI.

Hingga hari ini, single tersebut belum dirilis resmi. Asal tahu saja, lagu itu sudah direkam sempurna dalam format full band dan nongkrong manis di laptop saya. Kalau kalian sependapat dengan saya, silakan desak Che dan Robi untuk segera merilis single keren tersebut.

Kelar membawakan Pesan dari Surga, Che turun panggung. Menu pamungkas malam itu adalah Bittertone.

And guess what, mereka membuka konser dengan Pendulum. Fucking epic!

Setlist mereka malam itu, sudah bisa kita diduga, tidak umum. Bertahun-tahun kenal mereka, saya paham betul betapa ambisius Bittertone dalam menyusun setlist-nya. Push Me Pull Me adalah bukti yang tidak terbantahkan. Band mana lagi yang mau memainkan lagu itu, selain Pearl Jam sendiri.

Dony Cupumanik, sungguh brengsek bakat musiknya, membuat permainan drum di lagu-lagu Pearl Jam seolah demikian mudah. WMA, bagi saya, adalah yang paling memukau. Pukulannya yang terlihat santai namun bertenaga sungguh aduhai. Sudahlah, culik saja dia untuk jadi drummer tetap Bittertone!

Nito, Che, Sany BLD, dan beberapa musisi lain kemudian berbagi panggung dan membawakan Why Go, Better Man, Rearview Mirror, hingga Rockin’ in The Free World dalam sesi jamming.

PJ Nite 10 Cirebon (foto oleh Denny Andriyana)
PJ Nite 10 Cirebon (foto oleh Denny Andriyana)

Penutupan PJ Nite 10 malam itu, meneruskan tradisi tahun-tahun sebelumnya, adalah foto bersama di panggung diiringi lagu pamungkas, Yellow Ledbetter. Performers, panitia, dan penonton jadi satu, berfoto dan bernyanyi seperti orang gila.

Sebagian audiens yang rupanya berasal dari konser The SIGIT yang batal digelar akibat kerusuhan penonton malam itu bisa melihat betapa asyik dan serunya kami, anak-anak PJID, menikmati musik yang sudah dua dekade lebih tidak menjadi jawara televisi.

Mungkin ada yang akan bertanya: bukankah Pearl Jam sudah ketinggalan jaman? Sekarang kan eranya bayar tiket mahal untuk nonton orang memainkan laptop di panggung dengan tata cahaya yang membutakan mata. Ah, bodo amat!

Sampai jumpa di Bandung dalam perhelatan PJ Nite 11. Keep on rockin’!

Beli buku Rock Memberontak.

Pearl Jam Nite IX

image
PJNIX (foto oleh Dina Oktaviani)

Di Bandung, saya menulis review PJNVI sambil duduk di atas toilet, di sebuah kamar hotel yang disesaki teman, di bawah gempuran beragam dengkuran, jam 5 pagi. Di Cirebon, saya menulis review PJNVII menggunakan tablet abal-abal dalam perjalan di bus, sore hari.

Dini hari ini, saya menulis review PJNIX menggunakan henpon, sambil rebahan di sofa, di rumah sakit. Di atas ranjang di samping saya terbaring Abby, anak saya yang sudah seminggu sakit dan mulai pulih, sedang dipeluk ibunya.

Bicara soal Pearl Jam, meski itu hanya di level konser kelas kambing seperti malam tadi, saya selalu serius.

Immortality, band asal Cianjur, tampil mengejutkan. Jujur saja, saya tidak pernah berharap mereka tampil sesolid itu. “Better Man”, ” Yellow Ledbetter”, dan “Jeremy” apik mereka suguhkan.

Tentu saja ini adalah menu penutup mulut usil yang kerap bicara nyinyir soal band komunitas. Immortality jelas pantas tampil malam itu. Tepuk tangan dan koor dari audiens jadi bukti sahih. Mereka hadir bukan lantaran belas kasihan. They earned our respect. Period.

Bandung Lost Dogs, dengan menumpang satu bus carteran, menghantam seperti orang gila. Sejujurnya, saya tidak ingat lagu apa saja yang mereka mainkan. Yang menancap di kepala adalah kesan mendalam bahwa sesi mereka terasa seperti ledakan energi yang kasar dan indah.

Dan “Why Go”. Saya ingat betul itu. Dibawakan dengan kenaifan dan anger yang sudah lama tidak saya temukan di panggung-panggung bawah tanah macam ini.

Pasukan bas muncul sebagai menu tambahan. Lima pemain bas mengaransemen ulang ” Daughter”, “Dirty Frank”, dan ” Rats” yang lumayan asyik dibawakan Hasley, Dhia, dan Deddot.

Bittertone, yang malam itu ganti nama jadi Bitter F@cking Tone, tampil dengan dua bintang tamu. Yoda Idol yang keriting seperti Limbad dan Windy yang seksi bagai peri.

OK. Mereka berdua OK. Meskipun, setidaknya menurut saya, rekam jejak Bittertone yang identik dengan permainan yang detil dan setlist ambisius sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi kami, penggila Pearl Jam. Malam itu mereka membuktikan kembali identitas tersebut. ” Whipping”, dari semua nomor yang disuguhkan, terasa seperti mutiara yang harus dibawa pulang.

Drummer mereka, yang dicomot dari Artificial Sun, jelas lebih dari OK. He’s fucking sick!

Sonic Wood, dengan Boym Serius dan Che Cupumanik sebagai bintang tamu, menutup malam yang beranjak pagi.

Ryo, alamak! Vokalnya memang aduhay. “Sirens” ditebas. “Lightning Bolt” yang susah minta ampun, lumayan mulus disikat.

“Glorified G” dan “Nothingman” juga patut dikenang.

Malam itu, secara keseluruhan, memang patut dikenang. PJID, sekali lagi, berhasil menggelar konser dengan tema itu-itu lagi dalam nuansa yang cukup menyegarkan. Bahkan Faizal, yang tidak pernah absen sekali pun di gelaran PJN, saya rasa merasa puas dan terkesan.

Pertanyaannya sekarang, kita bakal nonton PJ di Indonesia sebelum atau setelah mereka reuni?

Pearl Jam Nite VIII: Faithfull

PJ Nite 8 (poster by Roel)
PJ Nite 8 (poster by Roel)

Jakarta kebanjiran. Di Bogor angin ngamuk. Dan bersama kebenaran lirik lagu (Alm). Benyamin. S itu, kami bernyanyi, berteriak, lompat-lompatan, larut dalam kegembiraan event musik tahunan garapan Pearl Jam Indonesia (PJID).

Kali ini temanya adalah #faithfull. Sepenuhnya percaya. Yakin bahwa, entah bagaimana, Pearl Jam dalam waktu dekat ini akan menggelar konser perdananya di Jakarta, Indonesia. Tajuk lengkapnya, “Pearl Jam Nite VIII: Faithfull”.

Sebelum kamu ngeledek dan mengira saya tidak belajar bahasa Inggris dengan baik, tema ini mencomot judul lagu Pearl Jam yang memang menggunakan dua huruf “l”. Makna sebenarnya apa? Hanya Eddie dan Tuhan yang tahu.

Tepat pukul 19:00 WIB, acara dimulai. Rolling Stone Café yang terletak di bilangan Ampera, Jakarta, sudah mulai ramai.

Angin malam masih membawa butir-butir hujan yang dingin ketika Uwie dan Reza menyuguhkan sajian akustik. Dari semua penampil malam itu, merekalah pemilik setlist paling ambisius. Tidak sepenuhnya sempurna, memang. Namun nomor super langka semacam “4/20/02” yang dipersembahkan Eddie untuk (Alm). Layne Staley sungguh patut diacungi jempol. Dan rendisi mereka atas nomor magis “Love Reign O’er Me” lumayan ciamik.

Penampil berikutnya adalah tamu jauh. Rombongan Bandung Lost Dogs. Yang datang menggunakan ELF sewaan, menembus macet, banjir, dan beberapa kali nyasar. Jika ada kategori diehard fans di PJID, jelas mereka masuk dengan sempurna ke dalamnya.

Audiens mulai bosan duduk di kursi dan beranjak ke bibir panggung. Sejak dulu, yang namanya Pearl Jam Nite memang identik dengan kerusuhan di depan panggung. Mau duduk manis menikmati musik sambil makan malam? Ke café sebelah aja, nonton band Top 40!

Beberapa nomor dari album lawas mengudara. Membuktikan bahwa mereka bukan fans Pearl Jam yang berhenti di tiga album awal, Bandung Lost Dogs membawakan “Unthought Known” dan “Force of Nature” dari album “Backspacer” serta satu nomor dari album teranyar, “Lightning Bolt”.

Saya naik panggung sebentar. Bukan untuk nyanyi, tentu saja, melainkan untuk membual soal Rearview Magazine (@RVMagz). Hilman menemani dengan bualan berbeda, tentang sejarah PJID. Lumayan lah. Gara-gara bualan saya itu, Rearview Magazine edisi lampau yang dijual di pintu depan laku beberapa eksemplar.

Perfect Ten hadir dengan kekuatan penuh, dibantu Dedi dan Razak di bagian vokal. Malam itu Didit, dengan tampang lempeng-nya yang seperti sedang tidur, menghantam dengan sayatan gitar dan segudang efek di kakinya. Benar-benar kick ass!

Meski dengan sedikit takut, karena lantai di depan panggung basah, crowd surfing kecil-kecilan terjadi. Saya sih sadar diri, dengan bobot lebih dari 80 kg, hanya Tuhan yang mau mengangkat tubuh saya. Jadi, malam itu saya bertugas sebagai tukang angkat saja.

“Whipping”, “Why Go”, “Rats”, “Given to Fly”, “Breath”, dan “Lukin” adalah beberapa nomor yang dibawakan oleh Perfect Ten. Karena tidak terhitung lagi berapa kali sudah saya menonton mereka, saya tidak bisa bilang ini penampilan terdahsyat mereka. Namun demikian, ini adalah Perfect Ten, yang sepanjang sejarah PJID, sudah terbukti punya standar kualitasnya sendiri dalam membawakan lagu-lagu Pearl Jam.

Blackrock Entertainment, yang bersama Eits!Production, dan Happify menjadi penyelenggaran event kali ini, sejatinya akan tampil membawakan “Black” dan “Better Man”. Namun apa daya, banjir yang melanda Jakarta rupanya membuat vokalis mereka tak bisa meninggalkan rumah, sehingga batallah rencana tampil mereka malam itu.

Krishna, bersama Farry, menjelaskan bagaimana upaya yang sudah dilakukan oleh promotor dan komunitas fans untuk membawa Pearl Jam ke Indonesia. Menurut saya, semua upaya itu sudah sangat mencukupi. Sekarang terserah kepada Pearl Jam, bersedia atau tidak menggelar konser di sini. Yang percaya pada Tuhan, silahkan berdo’a.

The Mind Charger, dengan format akustik, sukses menyuguhkan lagu-lagu Pearl Jam dalam warna berbeda. Lembut, pop, dan easy listening. Nomor-nomor macam “Light Years” dan “Severed Hand”, di tangan mereka, seperti terlahir kembali.

Seolah menyempurnakan kegelisahan para jomblo di bawah siraman hujan Sabtu malam, mereka membawakan combo beracun “Sirens” dan “Sleeping by Myself”. Di barisan penonton terlontar celetukan, “Ambulan mana, ambulaaannn???!!!”

Menutup penampilannya malam itu, The Mind Charger menghadirkan satu bintang tamu bernama Lala. Cantik dan suaranya punya kualitas mainstream. Membawakan “Daughter”, Lala yang tidak saya kenal ini menyatakan bahwa dia senang sekali akhirnya bisa membawakan lagu Pearl Jam di panggung. Penonton, yang lebih banyak sibuk dengan smartphone dan kameranya, saya yakin tidak keberatan dengan penampilan gadis cantik ini.

Pearl Jam Nite VIII ditutup dengan penampil yang, sejujurnya, saya tunggu-tunggu. Sonic Wood!!!

Kenapa saya tunggu? Karena ini adalah penampilan perdana mereka dalam format full band, full distortion. Juga, karena Ryo, vokalisnya, sudah cukup lama hilang dari peredaran. Dan malam itu, seperti yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, menjadi come back yang memuaskan bagi Ryo.

Tiga lagu pertama mereka, “World Wide Suicide”, “Rearview Mirror”, dan “Marker in The Sand”, menurut saya, adalah sesi terbaik Sonic Wood. Energi mereka luar biasa, kualitas vokal Ryo benar-benar prima, dan permainan mereka secara keseluruhan super tight, kayak celana dalamnya Jennifer Lawrence!

Omong-omong, riasan wajah Adhit malam itu cukup mengerikan. Baru kali itu saya lihat gitaris bertopeng membawakan lagu-lagu Pearl Jam, bukan Kiss atau Slipknot, hahaha!

Che Cupumanik, Fadly dan Rindra Padi jadi bintang tamu di sesi ini. Mereka membawakan “Alive”, “Eldery Woman” dan “Animal”.

Sonic Wood didaulat untuk membawakan lagu tema event kali ini, “Faithfull”. Dan, sungguh beruntung, salah satu lagu favorit saya di album terbaru Pearl Jam, “Future Days”, muncul di setlist mereka. Bagaimana mereka membawakannya? Ciamik!

Bagi saya, Pearl Jam Nite kali ini sangat memuaskan. Tiga ratusan audiens yang memenuhi Rolling Stone Café di bawah siraman hujan sepanjang malam tak henti bernyanyi. Semua terlihat benar-benar menikmati.

Jika ada sedikit penyesalan, itu adalah karena tidak hadirnya lagu sejuta umat “Black” dan nomor gembira ria favorit banyak orang, “Baba O’Riley”. Ah, mungkin disimpan untuk event selanjutnya saja, ya?