Tag Archives: pohon tua

Album Terbaru Dialog Dini Hari: Parahidup (2019)

Manusia terlahir dengan segala ketidaksiapan. Dalam perjalanan hidup, kita menemukan apa yang kemudian kita suka, cinta, dan kuasai. Juga yang kemudian hilang dan kita rindukan. Menikmati Dialog Dini Hari (DDH), rasanya tidak ada yang lebih dekat dibanding perasaan seperti itu. Perasaan yang demikian dekat, seperti melihat diri sendiri: lahir, tumbuh, dan berkembang.

Bicara soal perkembangan musik mereka, sudahi sajalah. Sejak Lengkung Langit yang kemudian diikuti Tentang Rumahku, DDH seperti tak terhentikan. Menikung mereka, menanjak, bahkan terkadang seperti terbang bebas. Bebas lepas dalam berkarya. Tak henti menyentak dan memberi rasa hangat di dalam hati. Perasaan nyaman yang seperti berbisik lekat di telinga, “Tenang, mas. Di sini, di negeri yang semakin kering keberanian berkarya ini, masih ada kami.”

Rasanya saya bakal pensiun dini menulis opini soal lagu-lagu mereka. Sudahlah. Nikmati saja. Hidup, Peran Terakhir, Jerit Sisa, Kuingin Lihat Wajahmu dan semuanya. Dan semuanya. Ini melampaui semua yang pernah ada.

Pohon Tua di Indofest 2019

Menikmati Pohon Tua mendendangkan lagu-lagu bertemakan keselarasan jiwa manusia dan alam memang nikmat. Terlebih kalau itu digelar di tengah audiens yang memproklamirkan diri sebagai para penikmat alam (karena sebutan pecinta alam, menurut saya, terlalu berat beban moralnya), di sebuah acara pameran perlengkapan kegiatan outdoor berskala nasional bertajuk Indofest 2019. Ah, tiada duanya!

Seperti biasa, Pohon Tua selalu membuka solo set-nya dengan gugup. Sekian ratus panggug – besar dan kecil, mewah dan butut – sudah dia arungi, namun rupanya perasaan gugup seorang seniman tak pernah sungguh-sungguh sirna. Barangkali itu adalah bagian tak terpisahkan dari keinginan kuatnya untuk selalu memberikan yang terbaik bagi audiensnya.

Saya sendiri sudah lupa, malam tadi kali keberapa saya menghadiri aksi Pohon Tua. Kalau penampilannya bersama Navicula, Dialog Dini Hari, dan A Conscious Coup dimasukkan dalam hitungan, saya yakin angkanya sudah melebihi 60.

Enam puluh kali. Dem! Apa tidak bosan? Tentu tidak!

Tidak ada yang membosankan dalam diri Pohon Tua. Mulai dari rambut gimbalnya, lirik-liriknya yang seperti puisi dalam kitab suci, permainan gitarnya yang bernuansa magis, hingga celoteh gugupnya di atas panggung yang kerap terdengar garing, semua enak untuk dinikmati. Bagi saya, saat ini rasanya tidak ada musisi lokal yang sedemikian berani melabrak dan menerjang batas-batas musik seperti dirinya. Tidak percaya? Tunggu saja rilisan terbaru Dialog Dini Hari nanti, hihihi…

Oh, ya. Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengarkan bocoran album baru mereka. Dengan rayuan maut penulis buku indie dan sebotol whiskey, saya dan Rudi (desainer buku-buku saya di Tim Edraflo) berhasil membuat Pohon Tua memperdengarkan keseluruhan album barunya melalui tata suara di dalam mobil. Tentu saja saya tidak boleh membocorkan satu pun lagu tersebut, baik bunyi, tema lirik, maupun nuansanya. Biarlah dunia nanti mendengarkan pada saat yang tepat saja, sesuai yang sudah direncakan Dialog Dini Hari dan tim manajemen mereka.

Syit! Jadi melantur.

Malam tadi tidak berjalan mulus. Listrik di panggung sempat mati sekitar sepuluh menit lamanya, tepat saat Pohon Tua memainkan lagu ketujuh, Renovasi Otak. Setelah narasi pengantar yang berbau politik, lagu itu tadinya akan menancap di kepala karena sangat kontekstual dengan keributan pilpres yang memuakkan belakangan ini. Apa lacur, genset berkehendak lain. Jadilah Pohon Tua dan semua audiens yang duduk manis di lantai tersenyum kecut.

Ketika listrik akhirnya kembali menyala, Pohon Tua terpaksa langsung menutup penampilannya dengan Tentang Rumahku. Biasa. Masalah durasi.

Bumiku Buruk Rupa, Bisik Laut, Kita dan Dunia, Hey Ya (Kubu Carik), Pelangi, Ku Kan Pulang, Renovasi Otak, dan Tentang Rumahku adalah 8 lagu yang sempat dia bawakan malam tadi. Dua lagu yang batal menggelinding adalah Matahari Terbit dan Kancil. Sungguh celaka! KZL!

Di sela-sela permainan gitarnya, Pohon Tua sempat bercerita tentang buku bertajuk Dua Senja Pohon Tua (yang saya tulis, tentu saja, hahaha!) dan bagaimana proses penulisan buku itu kemudian mendorongnya membuat album solo perdananya: Kubu Carik. Dia juga mengumumkan bahwa baru saja merilis sebuah single berjudul Mendulang Cinta. Lagu yang dia tulis khusus berdasarkan naskah buku I’m All Ears yang menceritakan sepak terjang duo musisi yang sekaligus adalah suami istri, Endah dan Rhesa. Buku itu, tentu saja, adalah juga saya penulisnya, hahaha!

Batal berangkat ke Jepang bersama Navicula karena kaki Robi masih belum pulih setelah telapak kakinya dipasangi pen, Pohon Tua dan Dialog Dini Hari dijadwalkan tampil di Bintaro Exchange pada Jumat, 22 Maret 2019. Ah, dekat sekali dengan rumah. Sungguh saya berharap mereka akan memainkan bocoran album terbarunya yang luar biasa itu. Berangkat!

Dialog Jatuh dalam Gerimis

DDH di Rolling Stone Indonesia
DDH di Rolling Stone Indonesia

Di antara gerimis, Silampukau membius ratusan penonton yang memadati Rolling Stone Indonesia, Rabu malam (25/11). “Malam Jatuh di Surabaya”, lagu favorit saya di album mereka, benar-benar terasa pas. Malam memang baru saja jatuh di Ampera, bersama rintik hujan yang membawa rindu.

Saya tidak datang ke sana untuk mereka. Saya hadir untuk Dialog Dini Hari (DDH). Malam itu ternyata DDH tampil tanpa Brozio. Posisinya digantikan oleh Rhesa, basis Endah N’ Rhesa.

Dadang membuka dengan ukulele. Sendirian dia membawakan “Hey Ya (Kubu Carik)” dari solo album perdananya yang bertajuk “Kubu Carik”. Saya berani bertaruh bahwa separuh lebih fans DDH yang menyemut di bibir panggung malam itu tidak bisa ikut bernyanyi. “Kubu Carik” memang belum secara resmi diluncurkan ke publik. Sampai hari ini, hanya 200 orang saja yang sudah memilikinya. Mereka adalah orang yang datang ke konser peluncuran buku “Dua Senja Pohon Tua” atau yang membelinya melalui jalur terbatas.

Berikutnya meluncur “Pohon Tua Bersandar”, “Temui Diri”, “Pelangi”, “Tentang Rumahku”, “Pagi”, dan “Oksigen”.

Deny, yang malam itu tampil necis dengan potongan rambut barunya, terlihat santai. Mengingat Rhesa bukanlah Brozio, tampaknya Deny memilih untuk bermain aman. Sesekali saja dia memainkan improvisasi drum. Sisanya, dia memastikan DDH menunggangi malam yang semakin dingin itu dengan mulus.

Sebaliknya dengan Rhesa. Dia justru terlihat sangat menikmati kolaborasi panggungnya dengan DDH. Tak henti dia meluncurkan jurus-jurus improvisasi, termasuk aksi solo di “Oksigen” yang kemudian disambut riuh penonton.

Bahwa DDH digemari banyak orang karena bicara cinta dengan cara yang elegan, itu memang benar adanya. Namun Dadang yang saya cintai adalah musisi yang konsisten (bahkan boleh dibilang berkeras) menyematkan pesan-pesan penting dalam lagu-lagunya. Malam itu, pesan penting itu berasal dari Wiji Thukul yang hingga kini tak tentu rimbanya.

Sebagai menu pamungkas, DDH membawakan lagu “Ucapkan Kata-katamu”. Lirik lagu itu berasal dari puisi perlawanan bawah tanah milik Wiji Thukul. Dengan gemilang DDH mampu menyuguhkannya menjadi sebuah lagu yang kiranya layak bersanding dengan “Kesaksian” milik Kantata Takwa.

Jadilah kemudian saya melangkah pulang dengan bait-bait ini bernyanyi dalam kepala, di bawah siraman gerimis yang seolah menolak berhenti menerpa, “Jika kau tahan kata-katamu… Mulutmu tak bisa mengucapkan… Apa maumu terampas… Kau akan diperlakukan seperti batu… Dibuang dipungut… Atau dicabut seperti rumput… Atau menganga… Diisi apa saja menerima… Tak bisa ambil bagian.”