Tag Archives: record store day 2017

DDH: Jakarta, Jagalah Rumah Kalian

DDH di Record Store Day Jakarta (foto oleh Topang)

Rasanya tidak ada ajakan mengarungi bahtera hidup dalam kasih yang lebih indah dari apa yang dinyanyikan Dialog Dini Hari (DDH) dalam konsernya di Record Store Day di Kuningan City, Jakarta, Jumat (21/4) malam. Dengan suara paraunya yang hangat, Pohon Tua melantunkan bait ini: Perempuanku, genggam tanganku… Lalu menyusurlah bersamaku… Jika suaramu tak terdengar… Ku ‘kan berteriak bersamamu…

Setelah dibuka oleh Zio yang membawakan tiga lagu dari solo album-nya yang bakal segera rilis, DDH menyejukkan gerahnya udara malam dengan delapan lagu. Berurutan mereka membawakan Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Kita dan Dunia, Jalan dalam Diam, Pelangi, Renovasi Otak, Aku Adalah Kamu, dan Tentang Rumahku.

Semalam adalah konser Pohon Tua (tunggal atau bersama DDH) ke-28 yang saya tonton. Dan, anehnya, baru semalam saya akhirnya benar-benar sadar, DDH bukanlah sekadar band bagus dengan lagu-lagu dan live performance bagus, melainkan sebuah band hebat yang mengusung pesan-pesan penting dalam karya dan keseluruhan kehadirannya. Mereka adalah permata Indonesia. Sebagai fans, saya merasa bangga.

Pohon Tua boleh saja tinggal di Bali. Sosoknya pun seperti enggan bicara soal ide-ide hebat nan melangit layaknya banyak musisi lain. Namun dia sama sekali tidak buta politik. Sebaliknya, dia sangat melek. Dan punya pandangan yang luar biasa jernih tentang itu.

Sambil terkekeh, dia menggoda penonton sebelum membawakan Jalan dalam Diam. “Senang sekali. Malam ini wajah kalian ceria semua. Sumringah. Mungkin karena mau dapat rumah baru, ya?” Kontan semua tertawa dan kemudian bersatu menyanyikan keseluruhan lagu itu. Sebenarnya, kami semua yang hadir di situ bernyanyi bersama dari awal konser hingga usai. Delapan lagu penuh. Sepenuh jiwa.

Tentu saja DDH bukanlah band politik. Lagu-lagu mereka rasanya tidak ada yang bicara terbuka soal itu. Di setiap gelombang nada, lekuk lirik, dan penjuru tikungan harmoni lagu-lagu mereka kita bisa menemukan kekuatan hidup. Bukan kekerasan. Apalagi kebencian.

Susana politik Jakarta yang beberapa bulan terakhir direkayasa oleh beberapa pihak sedemikian rupa hingga memunculkan perpecahan antar-umat beragama, di mata DDH, adalah hal yang sangat disayangkan. Namun demikian, bukan sesuatu yang harus dibenci, melainkan bersama diperbaiki.

Dengan semangat itu, DDH kemudian membawakan satu lagu lama tentang kebersamaan. Tentang kenyataan yang sering kita lupakan, bahwa umat manusia sesungguhnya adalah satu, bahwa ketika saya menyakitimu, sebenarnya saya sedang menyakiti diri sendiri. Aku adalah Kamu.

Gamblang dan jelas, juga dengan sangat lembut seperti biasanya, Pohon Tua menyampaikan pesan kasihnya itu sebelum menutup konser dengan Tentang Rumahku. Dalam suaranya tidak ada paksaan untuk setuju. Untuk satu suara. Yang terdengar hanyalah ajakan untuk kembali mendengarkan suara hati dan menjalani hidup dalam harmoni.

“Jakarta,” begitu katanya. “Jagalah rumah kalian.”