Tag Archives: synchronize festival

Catatan Konser: Synchronize Festival 2019

Sabtu (5/10) siang itu panasnya luar biasa. Matahari seperti mengigiti kulit kepala. Arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, tempat Synchronize Festival 2019 diselenggarakan, masih terbilang lengang. Sebagian penonton, seperti saya, jalan-jalan saja melihat musisi yang sedang soundcheck di beberapa panggung terpisah. Atau mengamati booth makanan dan minuman yang sebagian mulai dikunjungi pembeli.

Baru pukul 14.00. Bayang-bayang di lantai beton mulai memanjang.

Saya ke sana tengah hari bolong seperti itu bukan tanpa tujuan. Bersama seorang kawan, saya menyengajakan diri untuk menikmati aksi panggung Dialog Dini Hari (DDH). Kalau tidak salah hitung, siang itu akan jadi konser DDH ke-33 yang saya datangi. Walah. Rupanya saya memang doyan trio folk asal Bali itu. Doyan banget!

Sekitar pukul 14.45 (terlambat 15 menit dibanding jadwal resmi), DDH akhirnya muncul di panggung. Nomor pembuka mereka adalah juga nomor perdana dari album teranyar mereka, sebuah lagu folk yang temanya sedikit gelap berjudul Pralaya. Seperti pada saat konser peluncuran album Parahidup di Rossi Music Fatmawati beberapa bulan sebelumnya, siang itu DDH juga dibantu oleh seorang penyanyi latar cantik yang suaranya sungguh ciamik.

Dadang alias Pohon Tua terlihat santai, nyaris sumringah. Sepertinya suasana hatinya sedang baik. Gitar andalannya yang tempo hari pecah sudah diganti. Kalau saya tidak keliru, itu merupakan jenis gitar yang serupa.

Cahaya Perkasa dan Jerit Sisa jelas jadi lagu baru yang saya tunggu. Keduanya dibawakan dengan sempurna. Dalam hati saya bersyukur siang itu mereka tidak membawakan Kuingin Lihat Wajahmu. Lagu itu belakangan ini terlampau beracun bagi hati yang sedang sakit. Sungguh beruntung ia tidak dipanggungkan.

Gantinya, tentu saja, adalah Tentang Rumahku. Sebuah lagu sederhana yang benar-benar indah. Tentang hidup dan cinta yang juga sederhana, namun teramat sangat indah. Saya rasa, Pohon Tua adalah segelintir musisi yang mampu menyuling pengalaman pahit pedihnya kehidupan menjadi lagu yang terang dan memancarkan cinta. Bukan kebencian.

Sejenak, di bawah deraan sinar matahari yang seperti punya dendam pribadi siang itu, saya tersadar kenapa mencintai karya-karya Pohon Tua sejak kali pertama. Karena dalam lagunya termuat doa. Puja puji kebaikan. Sebuah semangat yang saat ini memang sedang sangat saya butuhkan.

Usai DDH, saya dan kawan saya itu berjalan mencari makanan dan minuman. Maklum, selain memang saya belum makan siang, umur juga sudah tidak dapat dibohongi. Tubuh saya tidak sepenuhnya mampu menampung semangat yang ada.

Sore berlalu dengan nyaris membosankan. Dari semua panggung yang ada (kalau tidak salah ada 6 jumlahnya), tidak satu pun musisi yang menarik perhatian saya. Sampai akhirnya menjelang petang, ada sekelompok musisi yang manggung di hadapan ribuan penonton berusia muda. Sangat muda. Dengan atraktif mereka menyuguhkan music yang sama sekali tidak saya kenali. Gaya vokalis utamanya asyik. Energik. Dan lirik-liriknya terdengar puitis. Nyaris sedih.

Ribuan penonton muda itu, kecuali saya tentu saja, bersama menyanyikan lirik yang bunyinya kira-kira seperti ini: “Berlari lari ditaman mimpiku… Imajinasi t’lah menghanyutkanku… Mimpiku sempurna tak seperti orang biasa…”

Ah, masa remaja yang penuh cinta. Petang itu saya seperti ditampar kenyataan. Masa muda bagi saya sudah berlalu. Masa bercinta yang menggelora juga sepertinya sudah usai. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa orang hidup haruslah bermakna. Haruslah jujur pada dirinya sendiri. Dan, ini yang utama, dalam kepedihan dan kelemahannya, harus memaksa diri untuk terus berkarya.

Petang itu berlalu sedikit pilu, dengan paduan suara massal generasi muda yang melantunkan Indonesia Pusaka, dipimpin oleh kelompok musisi yang rupanya bernama Fourtwnty. Anak-anak muda itu, mereka peduli pada bangsanya. Justru generasi sayalah, generasi separuh tua, yang sudah demikian banyak membuang hal baik dan menghadirkan kekacauan tatatanan sosial. Mohon maaf.

Di panggung yang sama, beberapa puluh menit setelah Fourtwnty undur diri, tampillah Erwin Gutawa. Dengan kepiawain bermusiknya, band yang dia pimpin benar-benar mencuri hati. They fucking steal the show!

Rangkaian lagu legendaris yang melejitkan Chrisye ke jajaran musisi paling sakti di Indonesia selama 3 dekade dibawakan tanpa jeda. Malam jatuh dan tawa pun bergemuruh. Cinta yang pedih dan ceria, perpaduan aneh yang sepertinya hanya wajar kalau disuguhkan oleh Chrisye seorang, berkumandang. Ribuan orang yang memadati bibir panggung hingga ke area makanan seolah sepakat untuk menjeritkan hati bersama dalam Seperti Yang Kau Minta, Pergilah Kasih, Andai Aku Bisa, Kala Cinta Menggoda, dan banyak lagi lainnya. Saya, tentu saja, mengenal sebagian besar lagu tersebut. Umur berbicara, hahaha!

Erwin Gutawa selesai, saya cari makan. Sungguh kaget melihat panjanganya antrean pengunjung yang ingin membeli anggur Orang Tua. Alamak! Seingat saya, sejak pukul 16.00 tadi sudah demikian padat yang antre. Empat jam kemudian, antreannya malah semakin menggila. Dan, asal kalian tahu saja, antrean itu baru mereda sekitar pukul 23.30 ketika Navicula mempersiapkan diri membakar panggung dengan lagu-lagu keras dan orasi lingkungan hidup/politik yang sama kerasnya.

Menurut saya, selama festival musik masih berkibar dan generasi baru dengan suka cita menenggak alkohol sembari merayakan kemudaan mereka, dunia akan baik-baik saja.

Malam itu kami semua mendapat kejutan manis. Sangat manis. Sebuah nama penampil yang tidak signifikan (Leo Bla2… Karaoke Bla2…) ternyata adalah… Iwan Fals! Ya, Iwan yang itu. Dengan gagah ia tampil seorang diri. Bermodalkan gitar kopong dan harmonika, dia membawakan Belum Ada Judul dan Di Mata Air Tak Ada Air Mata, dua lagu yang jelas masuk ke dalam jajaran lagu-lagu tersaktinya.

Kompas, tempat saya bekerja, boleh sombong dengan ujaran “Lintas Generasi”-nya. Tapi malam itu, Iwan Fals jelas membuktikan diri bahwa karyanya benar-benar lintas generasi. Bahkan lagu tentang kisah cinta masa remaja yang dia tulis tahun 1982 pun mampu dinyanyikan dengan fasih oleh bocah-bocah yang malam itu berbaru bersama generasi saya, merayakan kemerdekaan bermusik.

Saya sendiri pernah menonton Iwan Fals konser di Gelora Bung Karno dan di halaman rumahnya di Bogor. Jadi, malam itu saya tidak merasa perlu sekali untuk menyelesaikan sesi Iwan. Disamping, kawan saya yang satu itu, ngotot sekali kepengin menonton Gigi.

Jadilah. Kami bergeser agak jauh dan menikmati energi dan keceriaan khas Gigi. Arman, di umurnya yang dipastikan lebih tua ketimbang saya, tetap pecicilan dan cerewet. Dan, di antara Andai, Kuingin, Nirwana, 11 Januari, Nakal, Perdamaian, dan nomor-nomor lain yang disambut heboh oleh cewek-cewek yang tidak lagi terlihat seperti remaja, Arman manyampaikan opininya yang lumayan menginspirasi. Dia bilang, bagi musisi muda, janganlah patah langkah. Jangan layu sebelum berkembang. Gigi yang sudah 25 tahun pun, menurutnya, masih kerap dipandang sebelah mata. Jadi, tidak ada salahnya bagi musisi muda untuk terus berkarya dengan berani sampai kemudian menemukan jati dirinya sendiri-sendiri.

Selesai Gigi, tengah malam sudah menghampiri. Menu pamungkas saya, jelas, Navicula. Itu adalah kali ke-40 saya menghadiri konser mereka. Sebenarnya lebih, namun catatan saya sebagian hilang ketika laptop kantor mendadak mati dan enggan nyala kembali. Dammit!

Tidak ada yang berbeda dari Navicula. Tampil di panggung raksasa seperti malam itu atau di sebuah klub kecil yang busuk dengan asap rokok dan bau bir murahan, mereka selalu menghantam dengan penuh tenaga. Dan malam itu, Robi rupanya sedang kerasukan semangat aktivis.

Bersama Dhandy Laksono yang baru beberapa hari saja dilepas polisi setelah diciduk secara sepihak, Navicula membawakan Mafia Hukum. Menurut saya, belum ada lagu tentang korupsi sedahsyat lagu itu. Ketika semua penonton mengosongkan paru-paru mereka meneriakkan “Hukum direkayasa hanya buat yang kaya… Yang jadi korbannya… RAKYAT JELATA!!!”

Bait itu adalah persaudaraan dalam ketertindasan. Persaudaraan yang bila diabaikan negara akan mematuk balik. Menghantam penguasa dengan semua kekuatan akar rumput yang ada. Saran saya, pemerintah Indonesia baik-baiklah memperlakukan rakyat jelatanya.

Setlist Navicula tentu saja ditutup dengan Metropolutan. Anthem yang mengutuk bututnya kondisi kota Jakarta, yang ditulis Robi saat dia terpaksa menahan kencing karena tertahan di taksi dalam kegilaan macetnya Jakarta.

Navicula usai, usai pula perjalan spiritual saya hari itu. Dibuka dengan panggangan matahari dan ditutup dengan dinginnya angin kering kemarau yang tak kunjung selesai. Bagi saya, itu seperti satu hari yang telah demikian lama terlupakan. Sebelum hari itu, selama dua tahun lebih saya seperti melupakan betapa cintanya saya pada konser musik. Saya seperti tersesat dalam pekerjaan kantor dan lingkungannya yang semakin beracun. Yang perlahan telah menghancurkan saya dan keluarga kecil saya.

Dan sekelebat saya teringat kembali lirik yang tadi siang dilantunkan Pohon Tua bersama kami semua.

“Adakah yang lebih indah dari semua ini… Rumah mungil dan cerita cinta yang megah… Bermandi cahaya di padang bintang… Aku bahagia…”

Pohon Tua dan semua musisi di dunia, terima kasih atas semua keajaiban dan keindahan rasa yang telah kalian suguhkan. Barangkali di sudut-sudut pedih dan gelap dunia ini, ada jiwa-jiwa rapuh yang berpegang pada lagu yang kalian lantunkan. Berpegang agar tidak kehilangan jati dirinya. Berpegang untuk terus melangkah. Untuk terus hidup.

Sekali lagi, terima kasih.

Aku Keluar di Dalam!

Navicula di Lake Stage (foto oleh Danudika)
Navicula di Lake Stage (foto oleh Danudika)

Sudah sejak lama saya berharap Robi mengurangi porsi orasinya (yang lebih terasa seperti ceramah satu arah) di panggung dan menggantinya dengan satu atau dua lagu tambahan. Namun, setelah melihat aksi panggung Navicula di Lake Stage dalam Synchronize Festival semalam (30/10), kemungkinan saya harus memendam dalam-dalam harapan itu. Robi, dengan segudang pemikiran di kepalanya, sepertinya akan terus nyerocos di setiap kesempatan yang ada.

Biarlah. Setidaknya di Kemayoran tadi malam musik mereka kick ass dan meledak sempurna.

Delapan lagu yang mereka bawakan sungguh ciamik. Everyone Goes to Heaven, Aku Bukan Mesin, Mafia Hukum, Orangutan, Busur Hujan, Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti, Refuse to Forget, dan Metropolutan mengalir buas. Didukung oleh tata suara mumpuni, Navicula sukses menghadirkan suguhan konser rock sesungguhnya. Konser yang energik sekaligus apik. Liar namun sepenuhnya bisa dinikmati.

Dan Dankie, diberkatilah jiwa dan gitar barunya, bermain sepenuh hati. Solo guitar-nya di Mafia Hukum, Orangutan, dan Busur Hujan terasa manis mencabik langit Kemayoran yang pengap namun enggan hujan.

Belakangan ini Robi boleh dibilang jadi media darling. Beberapa bulan lalu dia terpilih jadi Sosok of The Month di Harian Kompas dan jadi salah satu Asia Young Leaders yang digelar Asia Society. Dengan posisi sosialnya itu – kita bicara soal pengaruh dan sumbangsih pada komunitas, bukan jumlah kekayaan – Robi jelas punya banyak agenda. Juga kewajiban. Maka wajarlah kalau dia kemudian malah tambah banyak nyerocos di depan publik. There goes my not-so-secret-dream. Ha!

Namun demikian, bukan Robi namanya kalau tidak bermulut mesum. Di tengah distorsi dan gemuruh drum pada pengujung lagu Metropolutan yang legendaris, dia memelintir lirik lagu karangannya sendiri dan meneriakkan: “Aku keluar di dalam!” What the fuck!

Delapan lagu jelas tidak mencukupi. Saya ingin lebih. Seribu lebih penonton yang setia menikmati suguhan sarat energi Navicula di bibir panggung Lake Stage tentu setuju. Maka ketika Robi mengumumkan bahwa Navicula akan memainkan long set dalam gig di Noname Bar, Poins Square Lebak Bulus, Selasa 1 November 2016 mendatang, saya mendadak lega. Yihaaa!

Sampai jumpa di kegilaan tengah malam. Sampai jumpa di lubang neraka berikutnya.

Space Rock Bau Sate Padang

The Sigit di Forest Stage (foto oleh Danudika)
The Sigit di Forest Stage (foto oleh Danudika)

Forest Stage, salah satu panggung besar dalam perhelatan Synchronize Festival, malam itu (30/10) dipadati penonton. Saya dan Gede sudah berdiri manis di barisan belakang, sejak line checking masih berlangsung. Di belakang, sedikit ke kanan, tukang sate Padang sibuk bekerja. Asapnya yang membawa aroma khas memenuhi udara malam Kemayoran yang pengap dan mengandung uap hujan.

Telat sekitar 10 menit dari jadual, akhirnya The Sigit membuka konsernya malam itu. Sialnya, saya tidak kenal lagunya. Dan lebih sial lagi, sepanjang konser tidak satu pun lagu yang saya kenal, kecuali lagu pamungkas yang membuat hampir seluruh penonton berlompatan, Black Amplifier, hahaha!

Saya menduga sebagian besar lagu yang mereka bawakan malam itu berasal dari album Detourn keluaran tahun 2013 yang kebetulan belum sempat saya dapatkan cakram fisiknya. Alhasil, sambil menulis curhatan penikmat rock paruh baya ini, saya mendengarkan album itu melalui layanan streaming Apple Music.

Satu lagu yang saya ingat betul malam itu, dan akhirnya saya temukan di album Detourn sebagai dua lagu berjudul Black Summer dan Red Summer, sungguh ciamik. Cool. Energetic. Classic!

Tapi The Sigit, untungnya, adalah rock band yang suguhan live performance-nya dapat dinikmati tanpa terlebih dulu kenal lagu-lagunya. Saya belajar itu dari pengalaman. Dulu, kali pertama saya menonton mereka adalah di perhelatan Java Rockingland. Saya sama sekali belum pernah mendengar lagu mereka sebelumnya. Setelah itu, barulah saya membeli 3 albumnya. Semuanya, menurut saya, kick ass!

Tiga gitar – termasuk yang dimainkan oleh Rekti – tak henti berkelindan, memuncratkan distorsi yang menghentak dan mencabik langit. Vokal Rekti, untuk ukuran kuping saya, sungguh penuh energi. Liar. Bebas. Bisa berlari dan berkelok ke mana dia suka. Dan drummer mereka, alamak! Gila! Tenaga dan teknik yang diperagakannya semakin mengukuhkan opini saya tentang bagaimana mustahilnya memiliki rock band yang kick ass tanpa kehadiran drummer yang luar biasa sakti.

The Sigit, jelas, sakti.

Satu jam penuh mereka menghantam dengan sesuatu yang pantas disebut sebagai space rock. Rekti yang sepertinya sedang berbulan madu dengan sampling, kerap mengganti gitarnya dan berasyik-masyuk dengan sampling yang mengeluarkan suara terompet, keyboard, suling, hingga raungan vokalnya sendiri yang terdengar seperti lolongan serigala yang tengah mengumpulkan pasukan mimpi.

Tata suara yang tidak terlalu sempurna – setidaknya kalau dibandingkan dengan yang dinikmati Navicula dan Barasuara di Lake Stage – sungguh tidak jadi masalah. The Sigit menghantam, membahana, dan menggila. Mereka nyaris seperti sedang kesurupan.

Sebagian besar penontonnya yang berusia remaja – Fuck, I’m old! – agak terlalu kalem untuk disebut sebagai penikmat rock tegangan tinggi seperti yang mereka suguhkan malam itu. Dan sebagian kecil, seperti orang Indonesia pada umumnya, sibuk berlalu-lalang, ngobrol, dan mengembuskan asap rokok ke mana-mana. Well, fucking Indonesian.

Apa pun, di tengah aroma sate Padang yang membuat perut bergejolak, suguhan space rock The Sigit yang meledak-ledak, dan kehadiran lebih dari seribu remaja di area Forest Stage menjadi bukti bahwa di Indonesia, ternyata, rock belum mati.