Tag Archives: tatap muka

Bertatap Muka dalam Nuansa Akustik dengan Navicula

IMG_20150522_200946

Bermodalkan 8 lagu dari album teranyar mereka, “Tatap Muka”, dan 5 rendisi akustik dari nomor-nomor lama, Navicula sukses membuai audiens yang memadati Paviliun 28, Jumat (22/5) malam lalu. Tampil dengan diperkuat 3 personil tambahan pada piano, perkusi, dan contrabass, mereka memuaskan dahaga penikmat musik (indie) Jakarta yang memang terbilang jarang mendapat suguhan berkelas seperti itu.

“Tak Pernah Berubah”, “Merdeka”, dan “Suara Hati” langsung menancap di kepala. Maklum, sudah tua. Lagu-lagu manis nyaris mengharukan, apalagi dengan lirik yang mengangkat tema-tema emosional seperti itu, memang jadi favorit saya sejak dulu.

“Alien”, yang malam itu dibawakan dalam rendisi akustik, ternyata bisa terdengar sangat psikadelik. Favorit saya, tetap, adalah “Zat Hijau Daun” versi akustik yang malam itu kembali disuguhkan dengan ciamik. Itu adalah kali ketiga saya menikmati rendisi akustiknya, setelah tiga malam sebelumnya di @America dan beberapa tahun lalu di pesta peluncuran DVD “Djaksphere” di bilangan Kemang.

Robi pernah bercerita, beberapa lagu dari album “Salto” dan “Alkemis” awalnya akan dimasukkan ke “Tatap Muka”, setelah diaransemen ulang dalam nuansa akustik. Entah karena pertimbangan apa, akhirnya dibatalkan. Hanya “Merdeka” yang masuk, dan, menurut pendapat saya, memang sangat pantas. Barangkali Navicula ingin menghindari tudingan bahwa album baru mereka terlalu banyak memuat materi daur ulang.

Saya dan semua audiens yang malam itu hadir sangat menikmati suguhan akustik mereka. Ketika lagu terakhir dari setlist resmi usai, audiens kompak meneriakkan encore. Jadilah “Di Rimba”, yang adalah juga favorit saya dari album terdahulu mereka, “Love Bomb”, berkumandang. Manis dan megah.

Malam itu Navicula menegaskan kepada kita semua bahwa mereka punya materi album baru yang luar biasa dan kemampuan bermain live yang mumpuni. Mengulang pertanyaan Jason Tedjasukmana di sesi screening dan talk show di @America tiga malam sebelumnya, strategi marketing apa yang akan ditempuh Navicula untuk meraih audiens yang lebih luas dengan itu semua?

Navicula Menggila di @America

PhotoGrid_1432088087666

Satu atau dua rock band terbaik di dunia, berkebalikan dari fitrahnya yang hingar bingar, justru dikenang sepanjang masa karena suguhan akustiknya yang demikian transenden hingga melampaui batas bunyi dan makna. Siapa yang bisa melupakan pesona Eddie Vedder dan Kurt Cobain dalam dua konser akustik berbeda besutan MTV? Penghujung “Black” dan “Where Do You Sleep Last Night” adalah momen ketika pertunjukan musik terangkat ke langit lalu menyusup masuk ke relung hati yang paling rahasia.

Dua dekade kemudian, kita punya Navicula. Setelah 7 album dan berkali-kali digilas kenyataan, mereka memutuskan untuk menyuguhkan 8 lagu yang sepenuhnya akustik di album ke-8 mereka, “Tatap Muka”.

Navicula, nenek-nenek mau beranak juga tahu, adalah rajanya distorsi. Di lubang neraka yang sempit dan pengap atau di panggung besar nan megah, mereka selalu menghantam dengan gelombang distorsi yang keras namun harmonis. Larut dalam konser-konser mereka rasanya seperti membiarkan ombak besar menggulung diri kita. Tiba-tiba kamu tersadar dan mati, lalu terlahir kembali sebagai seorang fan.

Kenapa akustik dan dalam format video? Tanya saja sendiri ke mereka.

Satu hal yang pasti, screening sealbum penuh “Tatap Muka”, talk show, dan live performance mereka semalam (19/5) di @America sungguh luar biasa mempesona. Itu, jika kamu mau tahu, adalah salah satu suguhan konser rock akustik terbaik yang pernah saya tonton secara langsung.

Di tangan mereka yang sarat bakat, suguhan akustik tidak menjadi lemah. Tidak serta merta jadi menye-menye. Sebaliknya, musik mereka terdengar lebih bertenaga dan sangat dinamis. “Tatap Muka”, saya duga, akan sampai ke spektrum audiens yang lebih lebar dari sekadar penggemar grunge dan pada saat bersamaan menjadi pencapaian bermusik yang signifikan bagi Navicula.

Sudah, ah! Gak sabar pengen nonton konser akustiknya lagi di Paviliun 28, Jumat 22 Mei 2015 ini. Hey ho, let’s gooo…!!!

Sudahkah Navicula Benar-benar Merdeka?

Screenshot_2015-05-11-07-59-08-2

Salah satu album paling dinanti tahun ini, “Tatap Muka” milik Navicula, akhirnya unjuk diri. Single-nya yang berjudul “Merdeka” tayang di YouTube minggu ini. Tak butuh waktu lama, video itu sudah ditonton ribuan kali oleh fans mereka dari seluruh Indonesia.

Meski jelas tidak ada hubungannya, saya senang sekali bahwa “Merdeka” versi album “Tatap Muka” sebelumnya pernah dibawakan oleh Robi dan Dankie di peluncuran #BukuGrungeLokal versi Wujudkan.com, 8 Desember 2014.

Saya ingat sekali, Denny, yang baru kali itu melihat Navicula secara live, bilang begini, “Lagunya enak-enak, ya? Tar gua beli, ah!” Saya hanya tersenyum.

Beberapa hari kemudian, Denny beli album Navicula serta merchandise dari website dan saya ketawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Dia kaget mendengar lagu-lagu Navicula di album yang dibelinya ternyata keras. Ganas. Sama sekali tidak mirip “Merdeka” yang dimainkan dalam rendisi akustik malam itu.

Saya rasa, apa yang akan terjadi pada fans Navicula, dengan lahirnya “Tatap Muka” yang kabarnya semua berisi lagu akustik, adalah kebalikan dari reaksi Denny. Mereka, fans Navicula, sudah kenyang dengan aransemen lagu keras dan suguhan konser yang liar penuh energi. Nomor-nomor akustik di album terbaru ini, sungguh akan menguji telinga dan kesetiaan mereka.

“Love Bomb”, album sebelumnya, meski berisi katalog lengkap dan sangat ciamik, bagi saya terasa seperti menyimpan keraguan. Navicula, di album itu, masih merasa perlu menempelkan atribut “rekaman di AS”. Karenanya, “Tatap Muka”, dengan format video dan lagu-lagu akustiknya, seolah berkata bahwa mereka, akhirnya, sampai di tingkat itu. Tingkatan di mana para seniman sungguhan bersemayam.

“Merdeka”, saya duga, memang dijadikan simbol. Semacam pernyataan kolektif, bahwa Navicula saat ini hadir sepenuhnya sebagai seniman. Sosok yang bebas berkarya dalam visinya sendiri. Mereka merdeka dari definisi grunge. Juga dari kebisingan rock n’ roll.

Ah, kita tunggu saja minggu depan, saat semua lagu dimainkan di Paviliun 28. Bersama album barunya ini, benarkah Navicula merdeka, atau malah tercebur ke penjara baru tanpa definisi yang pasti?