Dark by Netflix: Penyiksaan Otak yang Nikmat

Dengan 3 dunia dan setidaknya 6 timeline (1888, 1921, 1954, 1987, 2020, 2053, dan beberapa varian seperti 1986 dan 2019), tantangan terbesar serial “Dark” adalah memastikan kode-kode visual di tiap dunia dan timeline jelas tertangkap oleh audiens. Dan memang demikianlah adanya. Meski harus dengan konsentrasi penuh seperti saat mengerjakan tes masuk kerja, tidak satu dunia dan timeline pun yang kemudian salah saya pahami. Gilanya lagi, tiap karakter juga sama jelasnya. Saya tidak mungkin salah mengenali Jonas muda di dunianya pada timeline 2020, Jonas dewasa di dunianya pada timeline 1888, Jonas yang sudah berubah jadi Adam yang mengerikan di dunia Martha pada timeline 2020, atau Jonas muda di dunia ketiga yang baru ia temukan bersama Martha di timeline 2020.

Bingung? Tidak apa-apa. Ini bukan ujian. Ini hiburan. Dinikmati saja kalau memang kepengin atau lupakan kalau memang tidak kepengin. Tidak perlu memaksakan diri. “Dark”, tentu saja, memang bukan untuk semua orang.

Bagi saya, serial tv yang baik adalah yang dibuka dengan adegan ditemukannya mayat anak kecil dengan penyebab kematian tidak wajar. “Dark”, sejak episode 1 pada season perdananya, sudah memenuhi syarat tersebut. Dan kemudian ceritanya menggelinding sedemikian rumit sampai-sampai membuat mabuk. Membuat candu. Betapa tidak? Adik pacarmu ternyata adalah bapakmu. Anakmu adalah ibumu. Dan orang yang mengajarimu hal baru ternyata adalah dirimu di masa depan. Dalam “Dark”, semua pemahaman saya soal waktu dengan indah dan keji telah diporakporandakan.

Sebut saya berkecenderungan self-harm atau self-injury – gemar menyiksa diri – tapi saya menikmati setiap penyiksaan yang lahir dari plot dan rahasia-rahasia tergelap manusia dalam “Dark”. Dan rasanya inilah yang menjadi pembeda mutlak “Dark” dan saingan terdekatnya, “The Stranger Things”. Dalam “Dark” kita akan sering sekali berhadapan dengan pertanyaan mendasar soal kehidupan manusia. Pertanyaan yang hanya hadir saat kita tersudut. Saat kenyataan mengimpit. Saat nasib buruk dan takdir celaka datang menghantam. Apakah sesungguhnya kenyataan itu? Apakah sesungguhnya waktu? Apakah manusia memang terikat takdir yang keji atau punya kemerdekaan atas nasibnya sendiri? Pertanyaan semacam itu tidak kita temui dalam “The Stranger Things”.

Sebagian orang akan membenci “Dark” karena ceritanya yang terlampau rumit. Sebagian lagi akan memujanya, lucunya, dengan alasan yang sama. Saya menempatkan “Dark” di sudut hati yang sangat khusus, bersama “True Detective” season pertama, “Mindhunter” season pertama, dan “Broadchurch” season pertama.

Lihat polanya? Tidak ada satu pun serial tv yang punya cerita rumit dan gelap yang mampu mempertahankan pesonanya lebih dari satu season. Tepat di situlah “Dark” layak dinobatkan jadi juara. Tiga season, semua dalam tataran performa yang boleh dibilang sama baiknya. Sama-sama mencengangkan dengan caranya sendiri-sendiri.

Uang dan waktu yang sudah saya belanjakan menonton 3 season “Dark” benar-benar sepadan dengan kenikmatan yang saya reguk.

 

Lagu Tersakti Dialog Dini Hari: Ku Ingin Lihat Wajahmu

Sejak nada pertama, lagu ini sudah menghantam jiwaku. Menusuk dalam di hati. Mencincang perasaan kesepian yang pekat menggelayut.

Memang, kala itu aku rapuh. Sangat rapuh. Hidupku seperti terpelanting ditendang nasib. Tercabik dan terburai di lantai. Aku tengah mati-matian dan asal-asalan mencari pegangan. Pun demikian, nyaris setahun setelah itu semua, ketika aku memberanikan diri untuk kembali mendengarkan lagu ini, sama saja. Hancur.

Nyaris setahun setelah “Ku Ingin Lihat Wajahmu” dimainkan di Rossi, Jakarta, badai dalam hidupku sepertinya sudah berlalu. Setidaknya, mereda. Tapi tentu saja luka terserak di mana-mana. Di dalam dada orang-orang yang aku sayangi. Di dalam hati orang yang telah pergi. Dan terlebih, di relung batinku sendiri. Luka itu masih basah menganga.

Bagiku, sejak kali pertama mendengarnya di YouTube, lagu ini seperti menyuarakan isi hatiku. Isi hati yang mengerikan, karena pada saat bersamaan meneriakkan tiga nama berbeda: anakku, istriku, dan kekasih rahasiaku. Bisakah kau bayangkan jiwa yang terbelah tiga? Tiga. Bukan dua.

“Tangismu ajarkan aku sejuknya cinta, dalamnya rindu / Ketakutanku akan kehilangan waktuku ‘tuk menjagamu tetap hidup,” demikian Dadang bernyanyi. Parau suaranya, seperti pengelana yang sudah berhari-hari tak berjumpa air. Dan ketika cello masuk menyayat, usailah semuanya. Kesedihan dan kesepianku bersatu, menjadi lumpur hidup yang menyerapku sempurna.

Sungguh celaka, memang akhirnya hidupku banjir air mata.

Bagiku, “Ku Ingin Lihat Wajahmu” adalah lagu paling mengerikan yang pernah dilahirkan Dialog Dini Hari. Tanggal semua citra indie unyu-unyu mereka. Citra musisi indie pada umumnya yang belakangan kian kurasa dibuat-buat belaka. Bagiku, inilah wajah sesungguhnya mereka. Tiga makhluk bunyi yang besar kemungkinan tidak berasal dari dunia tempatku berpijak.

Butuh keberanian luar biasa untukku berani mendengarkannya lagi. Dan hari ini, aku memutuskan untuk berani. Karena bagaimana pun, hidupku tentu harus terus berlanjut.

Lokus, Proyek Punk Rock Salman Aristo dan Gengnya

Menyandingkan nama Salman Aristo dengan naskah atau bahkan penghargaan bergengsi industri perfilman Indonesia adalah perkara mudah. Namun jadi tidak biasa urusannya kalau namanya disandingkan dengan musik profesional. Di semesta itu, namanya boleh dibilang sama sekali belum pernah terdengar.

Bersama Lokus, Salman merilis 10 lagu bernapaskan punk rock yang terangkum dalam sebuah album dengan judul yang khas. Khas Salman, maksud saya: penuh pemikiran. Judul albumnya Pastiche, Solidus, dan Remahan Lainnya. Unik? Atau malah memusingkan? Coba saja Googling, apa arti kata pastiche dan solidus.

Saya berani taruhan kau malas Googling. Jadi saya jelaskan saja secara singkat. Judul album itu kira-kira maknanya adalah kumpulan bunyi-bunyian yang mereka susun dari kepingan pengaruh bunyi-bunyian musisi lainnya yang sudah terlebih dulu berlaga di industri musik. Bukan mencontek, melainkan dengan jujur mengakui mengambil banyak pengaruh dari sana-sini.

“Anti Stagnan” jadi nomor pembuka. Punk rock. Bukan jenis yang meledak-ledak, melainkan yang sedikit mengalun. Dengan vokal yang melodius. Sangat bisa dinyanyikan bersama.

Dan sejak lagu pertama, lirik sudah jadi sesuatu yang menonjol. Barangkali malah jadi bagian terpenting. Tidak ada tema yang sepele. Tidak ada untaian kalimat yang tidak perlu. Sejak detik pertama saya langsung mendapat kesan bahwa Lokus menjadikan lagu-lagunya sebagai kendaraan untuk mengirimkan pesan ke siapa pun yang mau mendengarkan.

Lagu kedua berjudul “Mengindahkan Kami”. Sebuah tantangan yang terang-terangan dilemparkan ke wajah kemunafikan. Hembusan napas panas di tengkuk orang-orang yang rakus. Yang doyan memperkaya diri sendiri dengan bayaran penderitaan orang lain.

“Perubahan Tak Butuh Rating”. Nah, ini dia! Jelas ini bicara soal industri televisi, perfilman, atau media massa pada umumnya. Semua orang yang cukup waras juga paham, betapa rendah standar mutu konten di negara ini. Semua berkilah bahwa itu demi mengikuti selera pasar. Pasar yang mana? Dan musiknya, well, ini salah satu lagu yang sangat saya sukai di album ini.

Sarkas. Tidak mungkin dicapai tanpa tingkat kecerdasan tertentu. Dan dalam lagu keempat, “Kelas Menengah Indonesia”, itu dicapai dengan mulus. Bagi saya, nomor ini bakal terdengar wajar kalau jadi lagu Slank. Rock yang enak, tidak terlampau keras atau cepat, dan bicara soal orang Indonesia. Khususnya kelas menengah. Ya. Tentang kau yang sedang baca tulisan ini. Dengarkan saja sendiri lagu ini, nanti pasti tersenyum kecut.

“Kisah Tentang Janji” jadi yang kelima. Sepertinya lagu cinta. Not for me.

Lagu keenam jadi salah satu yang paling seru. “Adil Berani” judulnya. Kencang musiknya, kencang juga pesannya. Barangkali ada sisipan nafas Pramoedya di dalamnya. Sepertinya asyik dinyanyikan ramai-ramai sambil mengacungkan tangan kiri yang terkepal di udara.

Soal Slank tadi, saya tarik kembali. Lagu ketujuh yang diberi judul “Belajar Bernapas” punya intro  dan verse yang akan mengingatkan generasi X pada era Slank yang masih doyan bermain-main dengan bunyi-bunyian. Lirik lagu ini spektrumnya benar-benar absurd. Dari napas menggelinding ke cinta hingga penjara. Silakan dimaknai sendiri nanti.

Tempo turun di lagu kedelapan. Bagaimana pun, album rock yang baik tentulah harus punya balada. “Personal Itu Politik” tidak bicara soal cinta. Setidaknya bukan cinta yang bermakna asmara. Ia bicara soal cinta pada negara. Pada bangsa. Pada kesetaraan dalam hidup bagi manusia.

Nomor sembilan adalah salah satu favorit saya. “Di Dunia Kerja” kembali memadukan punk rock dan lirik sarkas yang cerdas. Sangat cerdas. Nada vokalnya pun tidak bisa dibilang jelek. Enak untuk dinyanyikan. Simak liriknya: Dengarkan baik-baik/Apa yang dikatakan rupiah/Sebab itu satu-satunya perintah. Modyar kowe, mas!

Album ini ditutup dengan “Kudeta Merangkak”. Judul yang sangat rawan di era kedua pemerintahan Jokowi yang entah kenapa menjadi sangat mirip dengan gaya Orba. Kritik sedikit, dihajar buzzer. Kumpul massa diskusi, digilas aparat. Ini adalah pilihan yang cantik.

Lagu kesepuluh ini meninggalkan napas punk rock yang kental di telinga sehingga memunculkan keinginan untuk memutar ulang album.

Memutar ulang album. Ah, saya memang generasi analog. Bodo amat.