Category Archives: Sosok

Opini dan kisah mengenai sosok inspiratif yang ada di sekitar kita

Sosok: Benny Arnas (Cerpenis, Novelis, Sastrawan)

Benny Arnas di Ljubljana, Slovenia, 2019

Saat wawancara ini dilakukan (Oktober 2020), Benny Arnas tengah sibuk menampilkan potongan-potongan pengetahuan soal kepenulisan di YouTube dan menyiapkan kelahiran dua buku anyarnya. Satu adalah novel berjudul “Bulan Madu Matahari” yang dimodali oleh pasangan Lara Hassan dan Nik Khusairie dari Malaysia, satu lagi adalah catatan perjalanannya ke Eropa selama April-Mei 2019 yang diberi judul “Ethille! Ethille!” yang akan diterbitkan oleh DIVA Press. Dengan 25 judul buku yang sudah dia terbitkan sebelumnya, nama Benny Arnas terbilang mentereng di belantara sastra Indonesia.

Benny sendiri, bersama Benny Institute yang didirikannya pada 2007, giat sekali mengupayakan pencerahan literasi. Meski berdiri dan beroperasi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, sepak terjang lembaga kebudayaan dan pendidikan itu terasa sampai ke tingkat nasional. Bersama pemerintah daerah dan beberapa perusahaan swasta yang punya minat meningkatkan literasi bangsa, Benny Institute rutin menggelar kelas menulis, bahasa, skenario, hingga pembuatan film.

Dalam wawancara singkat yang kemudian dituliskan (secara bebas, tentu saja) di sini, Benny mengungkapkan pandangan, pengalaman, dan mimpinya terkait sastra dan dunia literasi.

Ketika ditanya kenapa dirinya memilih dunia sastra untuk digeluti, Benny menjawab bahwa sebenarnya tidak tepat demikian. Dia merasa yang terjadi justru sebaliknya. Sastralah yang telah memilihnya. Bagaimana bisa? Begini ceritanya…

Sejak kecil Benny suka sekali membaca. Buku apa saja, disikat. Minat utamanya adalah buku-buku yang memuat narasi; cerita yang mengalir. Apa pun temanya, kalau buku tersebut disusun dalam bentuk narasi, akan dibaca tuntas. Kegemarannya akan narasi, menurut Benny, erat kaitannya dengan pengalamannya semasa kecil yang rutin menikmati dongeng-dongeng orangtuanya.

Minat dan volume baca itulah yang kemudian ternyata memudahkan Benny menulis cerpen. Cerpen perdananya dimuat di sebuah koran dan dikategorikan sebagai cerpen sastra. Jadilah! Pemuatan cerpennya dalam kategori sastra di koran itu jadi semacam wisuda yang kemudian mengantarnya semakin dalam ke dunia sastra. Sejak itu, sadar atau tidak, Benny menulis cerpen dan bahkan novelnya dalam cita rasa sastra.

Seperti banyak sastrawan lainnya, Benny juga berutang rasa pada buku-buku luar biasa yang dibacanya. Karena dia banyak sekali membaca, maka buku-buku berikut ini sajalah yang bisa dia ingat segera, sesaat setelah ditanya.

Buku pertama, “The Art of Happiness” karya Khalil Khavari. Bagi Benny, melalui buku ini dirinya belajar tentang cara berpikir jernih dan sekaligus religius. Cukup aneh, mengingat buku ini sebenarnya adalah buku psikologi. Di buku inilah Benny menemui kesadaran bahwa kebaikan tidak harus selalu bersumber pada agama. Lebih radikal, dia merasa bahwa kebaikan memang tidak butuh agama.

Berikutnya adalah “Merajut Cahaya: Kumpulan Cerpen Terbaik Anninda” karya Helvy Tiana Rosa. Buku yang dibaca semasa dia kuliah di Universitas Andalas inilah yang kemudian membuatnya jatuh hati pada format cerpen. Terakhir, buku “Moneyless Man” karya Mark Boyle. Cara penulisnya menuturkan pengalaman hidup tanpa uang, menurut Benny, demikian mempesona sampai-sampai dia tak peduli lagi apakah di akhir bukunya nanti akan ada plot twist atau tidak.

Sudah jadi rahasia umum bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang gemar membaca. Tingkat literasi kita bahkan sedikit saja – kalau bukan malah sama – di atas beberapa negara Afrika yang tengah dilanda perang dan kelaparan. Maka tak heran kalau kemudian pertanyaan soal uang menjadi sesuatu yang dipastikan muncul kalau kita bicara sastra. Sastra di Indonesia apa ada uangnya?

Menurt Benny, ada. Berdasarkan pengalamannya sendiri, setidaknya ada 3 aliran uang yang menghidupi dirinya di dunia sastra. Yang pertama, tentu saja, dari hasil publikasi karyanya di koran-koran. Sampai hari ini, masih banyak koran nasional yang menayangkan karya sastra seperti cerpen dan puisi. Demikian juga dengan koran-koran daerah. Kalau rajin dan memang bagus karyanya, koran-koran itulah sumber uang bagi sastrawan.

Jalan kedua adalah royalti dari penerbitan buku. Berbeda dengan koran yang kian hari kian kembang-kempis nafasnya, buku – terutama di jalur indie – malah menunjukkan daya hidup yang semakin kuat. Semakin meyakinkan secara finansial. Dema Buku, Berdikari, Mojok, DIVA Press, dan lain sebagainya muncul sebagai toko online dan penerbit yang punya kecenderungan bermain di dunia buku indie.

Jelas, menerbitkan buku sastra di jalur mainstream melalui penerbit Gramedia, Mizan, dan semacamnya untuk kemudian menjual buku di jaringan toko Gramedia masih menjadi pilihan utama. Bagaimana pun, model bisnis seperti itu sudah mapan selama puluhan tahun di Indonesia. Mainstream atau indie, selama si sastrawan punya karya dan nama yang dapat dipertanggungjawabkan, sama saja. Sama-sama menghasilkan uang.

Jalan ketiga, yang disebut Benny sebagai sumber uang terbesar, sayangnya, tidak bisa ditempuh sembarang orang. Jalan tersebut menyaratkan si sastrawan punya banyak karya, citra yang baik (setidaknya diterima oleh standar umum), dan terutama masih konsisten terus berkarya setiap tahunnya. Jalan ketiga itu adalah mendapatkan uang sebagai pembicara, juri, pemberi materi kelas, dan lain sebagainya di banyak event sastra dan literasi yang rutin digagas pemerintah maupun lembaga swasta.

Sebagai catatan pinggir – atau nyinyir, terserah saja – jalan ketiga seperti itu banyak dipotong kompas oleh orang-orang yang bergerak di bidang marketing dan motivasi diri. Mereka bikin satu buku yang entah isinya seperti apa dan dengan modal buku itu kemudian mematut-matutkan dirinya sebagai ahli yang layak diundang jadi pembicara di event-event berbayar atau malah bikin kelas sendiri dengan tarif yang nyaris tidak masuk akal. Di dunia sastra, sebagaiman yang sudah dijalani Benny, hal seperti itu untungnya tidak mungkin terjadi.

Dunia sastra dan literasi, bagi Benny, tidak ada bedanya. Dia menceburkan diri ke sana sepenuhnya tidak dengan kesengajaan.

Merasa di Lubuklinggau tidak banyak – kalau bukan malah memang tidak ada! – tempat kumpul kreatif yang membahas kecintaan pada buku, film, dan hal sejenis, Benny memutuskan untuk membuat itu semua sendiri. Kelas menulis, Forum Lingkar Pena, kelas seni peran, festival film, kelas Aksara Ulu, diskusi film pendek, dan lain sebagainya dia gagas dan gerakkan bersama siapa pun yang berminat. Semua tanpa mimpi yang berpanjang-panjang. Tidak ada visi muluk. Benny hanya kepengin Lubuklinggau, kota yang banyak menjadi pusat cerita dalam karya-karya sastranya itu, punya wadah bagi energi muda dan kreatif.

Sepuluh tahun sejak pertama kali berdiri, sepak terjang Benny Institute mendapat tanggapan serius dari pemerintah. Pada 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meminta Benny Institute menjadi penggerak dan pengelola kampung literasi Lubuklinggau. Bersama dengan “perintah” itu tentu saja ada dana yang digelontorkan. Dan Benny, seperti biasanya, melakukan lebih dari yang diminta. Dari 4 kegiatan literasi yang diwajibkan kementerian, Benny Institute malah membuat 20!

Sejak itu, aliran dana tidak hanya dari pemerintah, melainkan dari berbagai lembawa swasta yang beroperasi di Lubuklinggau dan Sumatera Selatan. Benny Institute dan program literasinya menjadi kanal baru bagi kegiatan corporate social responsibility (CSR) yang memang sudah menjadi kewajiban perusahaan yang diperintahkan negara.

Dengan begitu banyak karya dan kegiatan, nyatanya Benny masih menyimpan sebuah mimpi. Mimpi yang sederhana, sebenarnya. Itu adalah menulis cerita anak. Bukan untuk diterbitkan, melainkan untuk dia ceritakan ke anak-anaknya sendiri. untuk apa? Tentu saja untuk mendorong mereka gemar membaca dan kemudian juga menulis. Benny, rupanya, ingin anak-anaknya hidup dalam dunia literasi seperti yang sudah dia bangun selama ini.

Wujudkan Mimpi di KPK

“Bapak tahu koruptor?”

“Ya,” jawab seorang nelayan di Nusa Tenggara Timur itu, tegas. “Koruptor itu orang hebat. Kaya. Hidup mewah dan terkenal. Tiap hari masuk tivi. Nanti kalo anak saya sudah besar, saya suruh jadi koruptor saja!”

Heh?

 

Koruptor

 

Dialog ini nyata! Bukan buah pikiran gila saya. Adalah Mohamad Rofie Harianto, pegawai Fungsional Dikyanmas KPK yang mengalaminya pada suatu kesempatan di tahun 2011. Ngeri, ya?

Terima kasih pada media massa di seluruh Indonesia yang selama tahun 2012 saja mempublikasikan tak kurang dari 20.000 berita terkait korupsi. Dan sebagian besar, jika mau jujur, menampilkan wajah penuh senyum kemenangan dari para koruptor dari segala kelas. Dari yang mukanya buluk dan tembam seperti babi hingga yang cantik mulus seperti Angelina Sondakh. Lengkap dengan adegan sujud syukur dan lambaian tangan. Macam parade pemenang medali emas Olimpiade saja!

Rofie adalah teman kuliah saya. Sungguh mengejutkan bahwa dia, yang selama ini saya kenal sebagai seorang pengusaha bimbingan belajar yang sangat sukses, banting setir menjadi pegawai KPK. Ah, sungguh menarik!

Mari kita kuak apa alasannya dan bagaimana sesungguhnya wujud profesi uniknya ini. Yang sedang cari motivasi untuk kaya dan sukses dalam jenjang karir, sebaiknya tidak perlu lanjut membaca. Semua itu tidak ada dalam artikel ini. Silahkan ke blog tetangga.

Kamu bukannya sudah sukses di industri pendidikan sebagai bos Bimbingan Belajar?

Betul. Saya 12 tahun bekerja di Bimbingan Tes Alumni (BTA) yang cukup sukses di Jakarta, Serang, Bandung, Bengkulu, Bukit Tinggi, Banda Aceh, Mataram, dan beberapa kota besar Indonesia lainnya. Posisi terakhir saya di sana adalah General Manager.

Lalu kenapa banting setir jadi pegawai KPK? Saya tidak pernah dengar orang mendadak tajir setelah jadi pegawai di sana. Apa yang ingin kamu capai?

Sederhana saja. Saya berasal dari keluarga Betawi. Konsevatif. Kedua orang tua saya ingin saya aman. Mereka minta saya jadi PNS. Maka saya mendaftar ke KPK, yang pada tahun 2010 kebetulan sedang membuka lowongan melalui program Indonesia Memanggil ke-5 (IM5).

Tapi saya juga punya keinginan pribadi. Saya malu dan prihatin karena tingginya angka korupsi bangsa kita. Saya ingin berkontrobusi nyata menghilangkan itu semua.

Di Pontianak, Abraham Samad pernah mengajukan pertanyaan yang sama kepada saya. “Ngapain kamu masuk KPK?” katanya. Namun sebelum saya menjawab, beliau malah menukas, “Jawab nanti, 10 tahun lagi. Kamu bakal ngerti. Ini jalan yang sudah ditentukan Tuhan untuk kita.”

Jadi pegawai KPK di era ketika koruptor sangat kaya dan berkuasa seperti sekarang ini, apa hidupmu dan keluargamu tidak dalam bahaya?

Resiko dalam setiap pekerjaan pasti selalu ada. Ya, kita jalani saja.

Menangkap dan memenjarakan koruptor kan pekerjaan di ujung. Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan korupsi kian menggila di negara kita?

Pada dasarnya, korupsi adalah kejahatan. Dan sebagaimana semua kejahatan lainnya di dunia, itu adalah buah dari perselingkuhan antara niat dan kesempatan. Persis seperti yang dikatakan oleh Bang Napi.

Niat bisa muncul dari kebutuhan atau keserakahan. Sementara kesempatan, lahir dari sistem yang buruk. KPK bekerja untuk mengedukasi semua orang agar niat korupsinya hilang, sekaligus memperbaiki sistem yang ada agar kesempatan untuk korupsi juga lenyap.

Dengan begitu banyaknya koruptor, apakah Indonesia masih bisa dan boleh berharap?

Harapan selalu ada. Namun, jujur saja, mustahil menghapuskan korupsi dari muka bumi. Yang dapat dilakukan adalah menekannya hingga ke tingkat yang paling rendah.

Kita perlu belajar dari negara tetangga. Mereka memberantas korupsi tidak hanya di level hukum, namun hingga ke level bahasa dan alam pikiran!

Orang China menyebut korupsi dengan “tanwu” yang artinya “keserakahan bernoda”. Di Thailand, korupsi disebut “ginmoung” yang maknanya adalah “memakan bangsa”. Sementara orang Jepang menggunakan “otsuko” untuk menyebut korupsi, yang artinya “pekerjaan kotor”.

Gantilah kata “korupsi” yang melangit dan tidak jelas maknanya ini dengan kata yang lebih nyata dan punya arti buruk, sehingga orang malu jika diasosiasikan dengan kata tersebut!

Sekarang banyak koruptor kelas kakap yang usinya muda. Sepertinya regenerasi mereka cukup baik. Apakah tidak ada upaya untuk memasukkan perlawan terhadap korupsi ke jiwa generasi berikutnya?

Sesuai amanat UU No 30 tahun 2002 pasal 13 huruf c, KPK sudah menyelenggarakan Pendidikan Anti Korupsi. Program ini intinya menanamkan 9 nilai kepribadian utama ke dalam diri siswa SD, SMP, dan SMA: jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.

Saat ini program tersebut sudah berjalan di tak kurang dari 2.000 sekolah.

Format lain dari program ini juga akan segera diluncurkan yaitu dalam bentuk film, kartun, dan komik anti korupsi.

Ya, seluruh orang Indonesia yang waras pasti mendukung KPK! Semoga upaya pendidikan ini mampu melahirkan generasi yang lebih bersih dibanding generasi sebelumnya. Generasi gagal yang saat ini sedang bergelimang kekuasaan dan dosa. Amin!

Yoris Sebastian Bicara Tentang Industri Kreatif

Memangku jabatan General Manager di usia 26 tahun, Yoris Sebastian sampai hari ini adalah pemegang rekor sebagai General Manager termuda di Hard Rock Cafe untuk kawasan Asia. Di dunia, dia adalah yang termuda kedua.

 

 

Kini ia sudah keluar dari perusahaan internasional yang membesarkan namanya itu. Yoris kini aktif di perusahaannya sendiri, Oh My Goodness! (OMG!) Creative, sebuah perusahaan konsultan kreatif.

Bagi kamu yang berminat untuk terjun secara profesional di bidang industri kreatif, wawancara saya dengan Yoris berikut ini kiranya dapat menjadi sumber inspirasi. Atau setidaknya, penambah semangat dan keberanian kamu.

 

1. Sekarang mas Yoris kan bisnisnya jualan ide kreatif. Lebih susah mana, menciptakan ide kreatif atau menjual ide itu kepada klien? Apa alasan/penjelasannya?

Tentunya lebih susah menciptakan ide kreatif.  Apalagi ide kreatifnya harus out of the box dengan inside the box execution ideas.  Jadi bukan sekedar die gila-gilaan, namun harus ide kreatif yang meaningful.  Biasanya ide seperti itu lahir dari banyak ide jelek terlebih dahulu.

Kalau untuk menjual kepada klien, pertama saya tidak pernah jualan.  Biasanya klien yang cari saya atau OMG. Kedua, saat menjual ide ke klien, reputasi dan credibility yang berbicara.  Lagiula karena execute inside the box, saya sudah berpikir di sepatu klien sehingga lebih besar kemungkinan klien buy the idea 😉

 

2. Sepanjang karir mas Yoris, proyek ide kreatif apa yang dirasa paling berkesan dan “wah!”? Bisa tolong ceritakan sedikit?

Pastinya “I Like Monday”.  Karena selain hasilnya fenomenal dan bisa dibilang bisa dikenang sepanjang masa. Juga karena sebenarnya ide tersebut awalnya langsung ditolak saat saya usulkan di internal meeting.  Jadi proyek tersebut salah satu proyek yang sangat komplit karena ada penolakan, ada beberapa kegagalan kecil dan disertai banyak sekali kesuksesan untuk perusahaan, untuk musisi, untuk tamu dan tentunya untuk saya sendiri.  Biasakan bikin sesuatu yang menguntungkan banyak pihak. Jangan hanya menguntungkan perusahaan atau kita sendiri.

 

3. Belum banyak yang mengerti bisnis ide kreatif. Sebenarnya seperti apa sih alurnya, mulai dari pencetusan ide, menjualnya ke klien, hingga eksekusinya? Apa tantangan terbesarnya?

Sebenarnya ini bisnis consulting.  Kebetulan saja saya, Yoris Sebastian yang memilih agak unik, menjadi konsultan ide bisnis.  Nah, karena selama ini saya memang selalu kreatif makanya namanya OMG Creative Consulting.  Supaya hasilnya selalu Oh My Goodness alias never been done in the industry 🙂 Nah, alurnya mulai dari terima brief dari klien, lalu kami pikirkan secara internal di kantor, tim OMG bekerja, Saya akan memeriksa hasilnya, lalu kami akan present ke klien, nah pada saat eksekusi kami sebagai konsultan biasanya supervisi saja.

 

4. Saat ini di Indonesia, bidang apa yang paling kuat nuansa kreatifnya? Musik, media massa, teknologi informasi, EO, atau ada bidang lainnya?

Sebenarnya semua bidang perlu kreativitas.  Namun yang paling butuh adalah bidang yang sedang menurun sekali revenue-nya atau bidang yang sedang bagus sekali revenue-nya.  OMG Consulting handle bukan saja lifestyle and entertainment, juga handle media bahkan terakhir rumah sakit.  Semua bisnis perlu sentuhan kreatif supaya beda dari pesaing dan supaya lebih bermakna untuk customer dan bahkan karyawannya.

 

5. Saya beli dan baca buku Creative Junkies, dan isinya sangat menggugah. Apakah kreativitas itu sungguh-sungguh bisa dilatih hingga sampai ke level yang tinggi, tak peduli bakatnya ada atau tidak? Bagaimana cara praktisnya?

Terima kasih karena sudah membeli dan membaca buku Creative JunkiesYes, saya sangat yakin bahwa kreativitas bukan faktor bawaan.  Kreativitas bisa dilatih.  Bukti simple-nya, sudah sangat banyak pembaca buku CJ yang sukses karena menerapkan point-point yang ada di buku CJ. Salah satunya Holycow! Steakhouse by Chef Afit yang nantinya akan menjadi salah satu wajah baru di cover buku CJ updated edition.  Saya sengaja menampilkan semua wajah baru di cover baru buku CJ untuk menunjukkan bahwa buku ini tidak hanya memberi inspirasi tapi benar-benar menghasilkan orang kreatif yang bisa sukses sesuai kapasitas mereka masing-masing.

 

6. Apa proyek besar yang saat ini sedang ditangani oleh mas Yoris (jika berkenan untuk di-share sedikit)?

Saat ini kami di OMG sedang membuat konsep hotel di Gianyar Bali.  Kenapa Gianyar? Karena Kuta, Seminyak maupun Ubud sudah terlalu penuh, terlalu macet.  Selain berharap jadi trend setter untuk daerah Gianyar, hotel ini juga kami buat dengan konsep yang belum pernah ada di Bali sehingga (di atas kertas) akan punya kans untuk dijual dan dibiacarakan orang banyak.

Selain itu, kami sedang membuat sebuah business innovation concept untuk tim iklan harian Kompas. Tunggu sesuatu yang out of the box namun sangat Kompas akan hadir di akhir tahun ini atau paling lambat 1 Januari 2013.

 

Mantap banget, mas! Terus berkarya ya, agar industri kreatif Indonesia makin besar dan bisa jadi lahan pekerjaan bagi banyak orang!