The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

Sebagian besar orang yang sudah menonton merasa kurang puas. Yang sudah baca bukunya bilang film ini terlalu bertele-tele, seperti dipaksa menjadi trilogi. Yang menggemari film trilogi The Lord of The Rings menilai film ini terlalu dipaksakan agar nyambung dengan trilogi fenomenal tersebut.

 

 

Tidak hanya itu, mereka semua sepakat bahwa satu jam pertama dari film berdurasi 169 menit ini berjalan terlalu lambat dan bagi sebagian orang terasa sangat membosankan.

Saya sendiri, anehnya, ternyata bisa menikmati film ini. Dengan santai 🙂

Bagi saya, The Hobbit: An Unexpected Journey (2012) yang disuguhkan dalam format 48 frame gambar per detik (dua kali lebih banyak dibanding film pada umumnya) – disebut sebagai format High Frame Rate atau HFR – cukup seru.

Dibanding trilogi The Lord of The Ring, film ini memiliki alur cerita yang jauh lebih sederhana.

Jika The Lord of The Ring punya banyak alur, mulai dari perjalanan hidup Aragorn, perjuangan Frodo dan berbagai alur-alur sampingan lainnya, maka The Hobbit: An Unexpected Journey (2012) hanya punya satu alur cerita: petualangan Bilbo Baggins dan Gandalf.

Bilbo Baggins? Ya, betul!

Kisah dalam film ini adalah tentang dirinya. Tentang asal mula penemuan kembali cincin terkutuk milik Sauron si penguasa Mordor.

Tentang pertemuan pertama Bilbo dengan makhluk menjijikkan (dan menyedihkan) bernama Smeagol alis Gollum, 60 tahun sebelum perjuangan Frodo dan sahabat-sahabatnya untuk menghancurkan cincin terkutuk itu di Mount Doom (Amon Amarth) yang tertuang dalam kisah The Lord of The Rings.

Sebagai hiburan akhir tahun, The Hobbit: An Unexpected Journey (2012) saya rasa cukup menyenangkan. Meski, tentu saja, sama sekali bukan film terbaik tahun ini dan pastinya belum mampu bersaing dengan pendahulunya yang luar biasa memukau, trilogi The Lord of The Rings.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *