Skip to content Skip to footer

Review Film: Oblivion (2013)

Berbekal bujet produksi sebesar US $ 120 juta dan kemegabintangan Tom Cruise, sutradara Joseph Kosinski sukses menyajikan novel grafis karangannya yang gagal terbit menjadi sebuah film fiksi ilmiah yang indah. Bahkan Universal Studio, yang membeli hak produksinya dari Disney, menyebutkan bahwa “Oblivion (2013)” adalah salah satu naskah terbaik yang pernah mereka beli.

 

 

Tentu saja semua itu bunga-bunga marketing. Untuk membuktikannya, tidak ada cara yang lebih baik dibanding beli tiket bioskop dan tonton sendiri!

Kamu boleh saja tidak suka Tom Cruise. Namun jika kamu penggemar fiksi ilmiah dan doyan kendaraan-kendaraan futuristik, maka kamu dipastikan bakal jatuh cinta pada helikopter yang diterbangkannya sepanjang film.

Jack Harper, tokoh utama dalam “Oblivion (2013)” yang diperankan Tom Cruise, hampir selalu menerbangkan helikopter super canggih yang dalam desainnya diberi nama Bubble Ship ini. Dirinya dan Bubble Ship seolah tidak terpisahkan. Seperti tukang pos dan motornya.

Berbeda dengan film-film fiksi ilmiah bertemakan alien pada umumnya, “Oblivion (2013)” tidak menyuguhkan alam yang gelap dan suram. Sebaliknya, sebagian besar aksi dalam film ini justru mengambil tempat di ruang terbuka dan pada saat matahari bersinar terang.

Hal yang tetap sama adalah pesan moralnya: kemanusiaan bertahan karena semangat eksplorasi. Kebenaran selalu dapat ditemukan, selama kita tak pernah menyerah dalam mencarinya.

Dalam 124 menit durasinya, “Oblivion (2013)” menyajikan bentangan alam Islandia yang sangat memukau. Juga memamerkan teknologi kendaraan dan robot yang mengagumkan. Canggih, namun tidak berlebihan. Kita seperti diajak mengintip sarana transportasi masa depan.

Dan tentu saja, drama percintaan khas film-film Tom Cruise. Intens, dewasa dan sedikit picisan.

Tapi setidaknya film ini punya selera musik yang baik dengan menampilkan potongan lagu “Ramble On” milik Led Zeppelin dan sebuah balada absurd embrio progressive rock milik Procol Harum berjudul “A Whiter Shade of Pale”.

Dibanding “Prometheus (2012)” yang konsep cerita dan teknologinya kelewat rumit hingga akhirnya malah terkesan mengada-ada, “Oblivion (2013)” jelas lebih enak ditonton.

Leave a comment