Skip to content Skip to footer

Review Film: Iron Man 3 (2013): Tak Sehebat yang Diharapkan

Tidak banyak yang dapat kita harapkan dari “Iron Man 3 (2013)”. Seperti sekuel film-film super hero lainnya, “Iron Man 3 (2013)” kehilangan banyak sekali kekuatan dasarnya. Yang tersisa adalah pameran teknologi animasi dan efek visual yang tidak ditopang oleh kerangka cerita mumpuni.

Baju terbangnya sudah tak lagi mempesona kita. Hilang sudah kegembiraan dan ketegangan yang menyenangkan saat kita melihat bagaimana baju terbang super canggih itu mengubah seorang ahli teknologi menjadi sosok super hero slenge’an yang begitu dicintai di seluruh dunia.

Dalam sekuelnya ini, demikian banyak versi baju terbang disuguhkan hingga semua itu jadi sama wajarnya dengan jas atau t-shirt yang dikenakan Tony Stark.

Namun yang paling mengganggu adalah tokoh antagonis utamanya, Mandarin. Dengan segala permainan teror di balik layarnya, juga tipu muslihat peran yang sesungguhnya cukup mengejutkan, hingga film berakhir tidak kunjung terang apa sebenarnya tujuan utama sosok jahat ini.

OK, Mandarin berusaha membunuh Iron Man dan menghancurkan Amerika Serikat. Tapi untuk apa? Apa yang ingin dia raih dengan segala kerepotan itu?

Kekacauan alur cerita bertambah parah karena “Iron Man 3 (2013)” dibebani tugas menjadi sambungan dari dua film sekaligus: “Iron Man 2 (2010)” dan “The Avengers (2012)”. Penonton yang belum sempat menonton kedua film terdahulu ini dipastikan akan tersesat dan kebingungan mencerna beberapa adegan dan dialog dalam film ini.

Sebagai salah satu film paling ditunggu tahun ini, rasanya “Iron Man 3 (2013)” hanya bisa menggantungkan kesuksesannya pada pamor masa lalu. Dana produksi sebesar US $ 200 juta rupanya tidak mampu menghasilkan kesenangan yang orisinil bagi penonton, apalagi inspirasi.

2 Comments

  • Nito SFB
    Posted April 26, 2013 at 7:34 am

    Positifnya: jualan mainannya bisa banyak :p

    • wustuk
      Posted April 26, 2013 at 7:41 am

      Hahahaha… Bisa jadi emang sengaja dirancang begitu ya? Banyak versi biar satu bocah mesti beli beberapa mainan. Dasar Hollywood isinya otak dagang semua

Leave a comment