Internet Membuat Kita Bodoh

Dalam semangkuk soto Betawi teracik dengan ciamik potongan daging, jeroan, santan dan beragam bumbu nan sedap. Memakannya menimbulkan rasa nikmat di lidah dan nyaman di jiwa. Betul?

 

 

Coba sekarang semua racikan itu dipisahkan dan kita makan satu per satu. Biarkan tercampur sendiri di perut. Bagaimana rasanya? Bukan saja tidak enak, bisa-bisa kita jatuh sakit gara-gara cara makan yang aneh ini!

Tepat seperti itulah gambaran tentang cara kita mengkonsumsi berita melalui internet saat ini. Fakta-fakta kita lahap dengan cepat, sesuai kehadirannya, tanpa menunggu proses memasak yang benar.

Maka tak heran jika sekarang kita melihat banyak orang keminter, terutama di social media. Orang-orang yang seolah-olah tahu segalanya, padahal sebenarnya tidak. Merasa pintar, padahal gobloknya bukan kepalang!

Orang-orang seperti ini, barangkali kita juga termasuk di dalamnya, hanya mengandalkan kecepatan berita. Meski sepotong, asal cepat, maka kita sikat. Kita anggap itulah kebenaran sejati.

Padahal, tidak satu pun kejadian di dunia ini berdiri di atas satu fakta saja. Semua terjalin dan saling terikat dalam kerangka kejadian yang rumit. Untuk memahaminya dengan benar, tidak hanya dibutuhkan kecepatan, melainkan juga kepakaran mengolah dan menyusunnya dalam sebuah konteks dan kerangka logika yang benar.

Maka tersesatlah kita semua dalam labirin potongan berita di internet. Mati tertimbun onggokan informasi yang saling terpisah dari sebuah kejadian. Kita makan soto Betawi seperti orang gila: garamnya dulu, lalu dagingnya, kemudian kuah, disusul dengan potongan jeroan dan terakhir baru bumbunya!

Dengan angkuh kita mengabaikan si juru masak yang sejatinya adalah orang yang mampu meracik semua bahan tersebut menjadi semangkuk soto Betawi nan lezat. Dalam urusan berita, ini berarti wartawan sungguhan yang terdidik dan dilengkapi pisau analisis super tajam di kepalanya serta kesadaran moral dalam hatinya.

Jika kita terus mengkonsumsi berita di internet seperti sekarang ini, tak pelak lagi, alih-alih mencerahkan peradaban, kecanggihan internet justru akan menjadikan kita semua semakin bodoh.

6 thoughts on “Internet Membuat Kita Bodoh”

  1. Setuju dengan analogi memakan soto betawi per bagian. Kecepatan memang bukan segalanya. Tapi memberikan framing atas kejadian untuk memberikan pencerahan, penting untuk kemajuan peradaban, karena itu diperlukan seorang koki dengan kepakaran di bidangnya.

    1. Hahaha… Soto Betawi emang asoy!
      Rasanya tantangan wartawan makin besar: harus bisa menyusun berita lengkap dlm waktu sangat cepat & dlm bentuk ringkas (mengingat sebagian besar orang mengakses berita digital via mobile devices yg ukuran layarnya relatif kecil)

    1. Hahahaha, kalo Summly fungsinya cuma potong berita aja. Kalo sumber beritanya sampah, ya yang dihasilkan adalah potongan sampah. Kita butuh mesin algoritma yang lebih hebat lagi. Lebih baik lagi: kita butuh mesin yang mampu menampung segala kehebatan wartawan handal, bukan justru mesin yang mengkerdilkan kemampuan mereka. Menurut opini gua sih, pembelian Summly ini gak kalah kontroversial (dan kemungkinan blunder) dibanding pembelian MySpace dulu (yang sekarang udah tutup) :d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *