Skip to content Skip to footer

Review Film: Man of Steel (2013): Lahirnya Superman Baru

Meski jauh lebih baik dibanding pendahulunya, “Superman Returns (2006)”, rasanya film “Man of Steel (2013)” tidak akan meraih predikat film super hero terbaik tahun ini. Kolaborasi Nolan-Goyer-Snyder, sesuai dugaan banyak orang, menghasilkan sebuah interpretasi Krypton dan sosok Superman yang sedikit terlalu gelap.

 

 

Mengingat peradaban Krypton adalah sebuah pencapaian dari spesies yang sangat maju, baik dari sisi teknologi maupun moral, rasanya gambaran yang disuguhkan dalam film ini kurang meyakinkan. Tebing-tebing curam, gurun batu yang kering, bangunan miskin warna dan monster terbang? Semua itu lebih cocok untuk menggambarkan planet tempat Doomsday, satu-satunya makhluk di alam semesta ini yang nantinya bisa membunuh Superman, dilahirkan.

Tapi itu tidak berarti film ini jadi sama sekali tidak bisa dinikmati. Sebaliknya, film ini justru dapat kita nikmati dengan sempurna, asal kita mau sedikit melonggarkan logika dan melupakan rambu-rambu dalam setiap cerita mengenai Superman yang sudah kita ketahui sebelum ini.

Adegan perkelahian antara Superman dan Jenderal Zod serta pasukannya, sejauh ini, adalah suguhan yang luar biasa memukau. Dibanding beberapa film super hero lainnya, saya berani bilang ini adalah yang terbaik. Snyder dengan ciamik mampu menghadirkan kehancuran yang sedemikian hebat.

Metropolis luluh lantak dihantam perkelahian makhluk-makhluk Krypton itu. Di mata saya, memang seperti itulah selayaknya pertarungan antar makhluk super dan kehancuran yang ditimbulkannya. Super cepat, brutal dan sangat mematikan. Benar-benar dahsyat!

Terlepas dari gelapnya interpretasi mereka, saya bersyukur bahwa semangat utama dari cerita Superman tidak dihilangkan sama sekali. Mencintai keluarga, membela yang lemah, menahan diri demi kebaikan banyak orang dan nilai-nilai masyarakat beradab lainnya yang sekarang sudah terasa klasik, masih hadir dan bahkan mendapat porsi cukup besar.

Henry Cavill, tak pelak lagi, adalah sosok yang sangat enak dilihat. Wajahnya ganteng, sorot matanya lembut namun dalam, rambut gelapnya lebat, posturnya kokoh seperti pohon dan tentu saja, senyumnya luar biasa memukau. Kilauan gigi putihnya jelas lebih berbahaya dibanding pancaran sinar laser merah yang keluar dari kedua matanya.

Pencapaian terbaik “Man of Steel (2013)” sepertinya akan berkisar seputar jumlah uang yang bisa diraih oleh film itu dari seluruh dunia dan kelahiran sosok Superman baru. Meskipun terlalu sendu dan sering tenggelam dalam pikirannya sendiri, Superman versi Cavill secara fisik tampil sangat meyakinkan.

Apa pun preferensi kamu tentang Superman, saya sarankan kamu menonton “Man of Steel (2013)”. Dan jika kamu memutuskan untuk pergi menonton, bawa serta penutup kuping sekedar untuk berjaga-jaga, karena film ini benar-benar berisik!

1 Comment

  • Nito SFB
    Posted June 15, 2013 at 11:31 pm

    Dengan skala kehancuran melebihi dampak pertarungan Megaloman dengan monster lawannya seperti ini, harusnya di sequelnya nanti ada inisiatif menangkal serangan dari luar bumi *sok jadi sutradara* *kebelet Justice League*

Leave a comment