Skip to content Skip to footer

Review Film: Elysium (2013): Kesenjangan yang Berujung Perang

Kesenjangan sosial yang sudah tak terganggungkan menghasilkan pemberontakan. Kapan dan di mana pun, selalu begitu. Dan “Elysium (2013)”, film fiksi ilmiah garapan Neill Blomkamp, menggambarkan itu dengan cara yang sangat dramatis dan hiperbolis.

 

Elysium (2013)
Elysium (2013)

 

Orang kaya tinggal di langit. Sementara orang miskin, tinggal di comberan. Neill Blomkamp, yang dalam karya-karyanya memang cukup sering mengangkat tema diskriminasi, menuangkan kondisi itu ke dalam filmnya secara harfiah.

Elysium, sebuah Stanford torus (tempat tinggal di angkasa yang super mewah dan sanggup menampung hingga 140.000 orang), hanya boleh dihuni oleh orang-orang yang luar biasa kaya. Di sana tidak ada penyakit. Semua bisa disembuhkan. Virus, kanker darah, usia tua, hingga kematian.

Elysium laksana surga. Orang-orang yang tinggal di sana bisa hidup abadi. Bergelimang segala macam kenikmatan.

Sementara bumi yang sudah sekarat diisi oleh orang-orang melarat. Sebagian besar tidak punya pekerjaan dan dijangkiti beragam penyakit. Salah satunya adalah Max Da Costa, tokoh utama film ini yang diperankan dengan sangat apik oleh Matt Damon.

Mengambil setting tahun 2154, film ini menyuguhkan pemandangan kota Los Angeles yang sama sekali jauh dari keindahan. Di mana-mana bangunan kumuh. Di mana-mana sampah. Harapan hidup menguap seperti alkohol pencuci koreng.

Alur cerita, penokohan, dan efek visual dalam film ini cukup mumpuni. Meski tidak bombastis, “Elysium (2013)” sangat enak untuk dinikmati. Dana produksi sebesar US $ 115 juta boleh dibilang menghasilkan sesuatu yang pantas.

Ada ketegangan di sana. Ada juga rasa haru. Meski sayangnya, sedikit sekali unsur humor.

Menonton film ini, mau tidak mau saya jadi teringat kondisi Jakarta.

Orang kaya membangun komplek rumah megahnya sendiri, seolah terpisah dari struktur kota. Tidak lagi peduli apakah pembangunan itu menyebabkan orang-orang miskin di sekitarnya tenggelam ditelan banjir.

Mereka punya pusat perbelanjaannya sendiri. Mereka juga menikmati layanan kesehatan yang tentu saja berbeda dari kebanyakan orang.

Jika mau jujur, semakin banyak layanan yang tidak dapat diakses oleh orang biasa, namun tersedia secara melimpah bagi kelas yang super kaya di kota ini.

Jakarta, cepat atau lambat, sesungguhnya menuju ke kondisi yang digambarkan dalam “Elysium (2013)”.

Dammit! Nonton film kok jadi serius gini?

Leave a comment