Curi Dengar Lagu Terbaru Pearl Jam: Sirens

Sebelum lanjut baca, sebaiknya dipahami dulu bahwa saya menulis opini ini berdasarkan lagu yang belum resmi dirilis. “Sirens”, salah satu lagu dalam album terbaru Pearl Jam yang berjudul “Lightning Bolt”, baru akan dirilis di seluruh dunia pada 14 Oktober 2013 mendatang.

 

 

Sirens (artwork by Don Pendleton)
Sirens (artwork by Don Pendleton)

 

Seperti keinginan untuk buang air besar, kencing, ataupun menenggak vodka, keinginan untuk menuliskan opini memang kerap tidak bisa ditunda, dipindahtempatkan, terlebih dibatalkan. Maka, menulislah saya…

Ketika Pearl Jam mengeluarkan album “Pearl Jam” (dikenal juga sebagai “Avocado”) pada tahun 2006, satu lagu berjudul “Come Back” mengemuka. Lagu ini digadang-gadang memiliki kesetaraan nuansa dengan lagu paling mematikan milik mereka yang termuat di album “Ten” yang dirilis tahun 1991, yaitu “Black”. Tentu saja, seperti dugaan semua orang, itu hanyalah omong kosong.

“Come Back” memang muram dan menyentuh hati. Namun lagu ini bicara soal kehilangan sosok teman sekaligus bapak. Bicara soal rasa kehilangan yang diderita Eddie Vedder akibat meninggalnya Joey Ramone setelah 7 tahun berjuang melawan lymphoma.

Dengan segala hormat, “Come Back” tidak berada di level yang sama dengan “Black”.

Lalu lahirlah “Sirens”…

Ya, saya tahu. Kalian pasti langsung tertawa sembari menjerit: “Sirens Sungkar!” Atau, jika mau lebih dramatis, kirim fotonya ke saya. Yeah, bite me!

Ini jelas bukan “Black”. Sama sekali berbeda.

Namun “Sirens”, sejauh pendengaran kuping dan penerimaan jiwa saya, berada di level yang sama dengan “Black”. Kemegahan, kesedihan, keindahan, kedalaman makna dan kebengisan racun bunyinya, nyaris tidak bisa dibedakan. Jika ada yang kurang, itu adalah agresi dan kemarahannya saja.

“How to take your hand and feel your breath / or feel this someday will be over / I pull you close, so much to lose / knowing that nothing lasts forever / I didn’t care before you were here / I danced with laughter / with the ever-after / But all things changed / Let this remain.”

Jika “Black” bicara soal menerima kehancuran dan menyeret langkah untuk memulai hari baru, maka “Sirens” adalah ungkapan syukur tiada tara atas segala berkah hidup. Tentang menikmati dan mensyukuri setiap detik yang berlalu. Demikian dalam rasa syukur itu sampai-sampai rasanya mustahil melewati menit-menit tanpa menitikkan air mata haru.

“Sirens”, bagi saya, adalah ketegaran “Black” yang melebur dalam rasa syukur “Just Breathe”. Sebuah perkawinan yang seharusnya dilarang, karena membuat pagi saya di kantor jadi terharubiru…

14 thoughts on “Curi Dengar Lagu Terbaru Pearl Jam: Sirens”

    1. Barangkali juga. Saya baca2 sih Joey. Tapi, sejujurnya, saya bukan fans The Ramones. Lihat dokumenternya mereka aja saya susah bedain satu sama lain, hehehe… Thx masukannya

  1. Wahaha, ternyata come back itu ceritanya begitu toh, mana gw masukin ke playlist resepsi ntar pulak.. Gpp lah yg penting ada pearl jam nya nanti, hihihi..

    *komen gak trlalu nyambung dgn isi tulisan*

  2. kalau gw pribadi dari dulu suka pearl jam karena musiknya, bukan karena mengesampingkan lirik2nya ya tapi karena musik mereka memiliki soul yang dahsyat, bebas dari belenggu industri musik, seakan musik mereka muncul dari galaksi lain 🙂 makanya sangat mau ngeband bawain lagu2 mereka. nah lagu ‘sirens’ ini menurut opini gw secara aransemen musik kok rada kurang soul-nya yang dulu ya? ini secara komposisi musik ya, sirens serasa kehilangan energi liar dan menyerah pada komposisi pop yang ringan. hehe 🙂

    1. Hahaha… Progresi chord-nya standar banget ya? Menurut gua sih, secara objektif, tanpa embel2 PJ harus keras dan canggih aransemennya, Sirens adalah lagu yg jujur banget. Begitulah perasaan seorang bapak terhadap anaknya. Mellow abisss… Huehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *