Mendidik Tanpa Teladan, Apa Gunanya?

Setiap pagi, ketika melewati ruas jalan Ciputat Raya-Kebayoran, saya melihat banyak sekali motor melawan arus. Berkendara di atasnya adalah bapak-bapak yang mengantar anaknya pergi ke sekolah. Tanpa helm dan melawan arus. Kira-kira, apa yang mau diajarkan mereka kepada anak-anaknya itu?

 

Pendidikan Anak

 

Saudara saya, belakangan ini, mulai khawatir terhadap anak lelakinya yang duduk di sekolah menengah atas. Pasalnya, tiap kali pulang malam, mulut dan tubuhnya bau rokok. Masalahnya, setidaknya di mata saya, dia sendiri perokok berat. Lalu apa yang dia harapkan diperbuat anaknya? Tiba-tiba menjadi aktivis anti rokok dan pejuang kesehatan publik?

Dipikir-pikir, kita ini sering kali tidak logis. Mengharapkan orang lain melakukan kebaikan, tapi kita sendiri ogah memberi teladan bagaimana sesungguhnya perbuatan yang baik itu.

Mengharapkan anak tumbuh jadi pribadi yang taat peraturan, tapi saban hari memberi contoh buruk: naik motor melawan arus dan tidak pakai helm. Mengharapkan anak tumbuh sehat dan jauh dari kebiasaan buruk, tapi sepanjang waktu isap rokok.

Aneh, ya?

Kita ini kelewat tinggi bicara tapi sangat minim tindakan. Terlalu banyak berharap dan berdo’a tapi enggan berusaha.

Saya masih menunggu kelahiran anak pertama saya. Jadi, saya boleh dibilang tidak punya pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni soal cara mendidik anak. Tapi saya tahu pasti bahwa pendidikan yang berhenti di tingkat omongan, tanpa dilengkapi dengan teladan, adalah omong kosong.

Pendidikan yang seperti itu tidak lebih baik dibanding tanpa pendidikan sama sekali.

2 thoughts on “Mendidik Tanpa Teladan, Apa Gunanya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *