Matinya Toko Musik Bukanlah Matinya Musik

Fans musik dan terutama musisi Indonesia minggu ini jiper. Galau berat! Apa pasal? Toko musik legendaris Aquarius Mahakam dikabarkan akan secepatnya berhenti beroperasi. Alamak!

 

death of a music journo

 

Saking jiper-nya, sebuah artikel di media online nasional sampai menurunkan judul yang di dalamnya memuat kata-kata “Kiamat Musik”! Wah, sebagai fans musik, tentu saja ini membuat saya sedih.

Tutupnya toko musik sebesar dan selegendaris Aquarius Mahakam memang menyedihkan. Tapi, setidaknya bagi saya, sama sekali tidak mengejutkan. Toko-toko musik lainnya yang lebih kecil sudah terlebih dulu tutup. Toko musik di City Walk Sudirman, contohnya. Atau Musik+ di Blok M Plaza yang sekarang luas tokonya tinggal 1/3 dibanding setahun yang lalu.

Jika kita cukup sering berkunjung ke toko-toko musik, aroma kematian sesungguhnya sudah tercium sejak lama.

Tapi saya tidak setuju jika tutupnya toko-toko musik kemudian dimaknai sebagai kiamat musik. Kiamat distribusi musik tradisional, betul. Musiknya sendiri, saya rasa, akan langgeng sampai kiamat.

Distribusi musik berbasis fisik (kaset, CD, DVD, dan lain sebagainya) sebenarnya menderita penyakit yang sama dengan distribusi koran cetak: margin keuntungan yang semakin menipis. Saya tahu betul ini, karena sehari-hari saya bekerja di bidang yang banyak mengkaji distribusi koran dan segala sesuatu yang terkait dengan itu.

Untuk membiayai ongkos sewa gedung, karyawan, listrik, dan perlengkapan fisik lainnya, rupanya keuntungan dari penjualan CD dan kawan-kawannya tidak lagi mencukupi. Volume penjualan, harus diakui, sekarang memang turun. Jadi mustahil untuk menaikkan harga jual CD musik, kan?

Maka tersedotlah bisnis toko musik ke dalam lingkaran setan penurunan volume penjualan dan sekaligus penurunan margin keuntungan. Akhir dari lingkaran setan ini sangatlah jelas: gulung tikar!

Seperti banyak produk fisik lainnya, toko kemudian bergeser dari dunia nyata ke dunia maya. Lihatlah Amazon dan iTunes! Yang satu masih menjual musik berbasis fisik, satunya lagi murni berbasis digital. Pencapaiannya? Sama-sama sukses menangguk keuntungan!

Amazon sendiri, selama 4 tahun terakhir, mencatatkan peningkatan penjualan piringan hitam sebesar 745%! Baca opini saya selengkapnya soal itu di sini: Penjualan Vinyl Amazon Melejit.

Kenapa kedua institusi bisnis raksasa itu bisa demikian sukses menguangkan musik yang katanya, di banyak belahan dunia, menuju kiamat? Di mata saya, setidaknya mereka memegang teguh kata kunci ini: menjadikan musik relevan dengan jaman.

Amazon menghadirkan cara belanja musik yang relevan dengan era digital, yaitu melalui toko online yang sangat nyaman dan terpercaya. Konsumen musik tinggal browsing musik apa yang mereka suka, beli, lalu tunggu di rumah.

iTunes, setali tiga uang, menyuguhkan format musik yang relevan dengan era digital, yaitu musik dalam format MP3, FLAC, dan lain sebagainya yang bisa dimainkan di berbagai digital devices yang umum dimiliki orang.

Jadi, kiamat musik itu, menurut saya, omong kosong belaka. Yang sesungguhnya terjadi adalah: kematian sebuah bisnis musik yang tidak lagi relevan dengan jaman. Itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *