Review Album Musik: “Love Bomb” by Navicula (2013)

Love Bomb by Navicula (2013)
Love Bomb by Navicula (2013)

Dengan 16 lagu rock kualitas nomor satu yang termuat dalam 2 keping CD yang dibungkus sampul unik berbahan dasar materi daur ulang, “Love Bomb (2013)”, album teranyar Navicula, boleh dibilang sangat memuaskan.

Keping pertama berisi 5 lagu yang mereka rekam di Record Plants Studio, Hollywood, AS. “Tomcat”, “Love Bomb”, “Aku Bukan Mesin”, “Refuse to Forget”, dan “Days of War, Nights of Love” tersaji apik di sini.

“Tomcat”, setidaknya bagi saya, terdengar mengejutkan. Sangat grunge! Agresif, dinamis, dan luar biasa eksploratif. Terasa seperti sebuah sesi jamming yang demikian enak hingga akhirnya mengkristal menjadi sebuah lagu.

Dan “Love Bomb”, ow… Sangat manis!

Saya sama sekali tidak keberatan jika lagu ini hadir sebagai single dalam bentuk video clip hitam putih, menampilkan Navicula duduk-duduk santai di klub kecil yang hancur setelah sebuah konser tengah malam yang dahsyat. Tambahkan satu atau dua botol bir dingin ke genggaman mereka, maka sempurnalah semuanya!

Di keping pertama ini, “Love Bomb” dan “Days of War, Nights of Love” menampilkan wajah baru Navicula. Atau, jika tidak bisa dibilang baru, wajah yang lain. Yang lebih lembut, manis, dan hangat.

Keping kedua direkam di Antida Studio dan Ian’s House Studio, Bali. Isinya banyak. 11 lagu! Sebagian besar adalah single-single yang sudah pernah mereka luncurkan sebelumnya dalam berbagai event atau kompilasi.

“Bubur Kayu”, “Ingin Kau Datang”, “Semut Hitam”, “Mafia Hukum”, “Sail On”, “Harimau! Harimau!”, “Do It Yourself is Dead, Now We Do It Together”, “Mafia Medis”, “Orangutan”, “Di Rimba”, dan “Metropolutan” mengalir deras.

Omong-omong, saya tidak bisa membedakan kualitas rekaman keping pertama dan kedua. Di kuping saya (setelah semua lagu saya rip ke MP3, tentu saja), keduanya terdengar sama saja. Sama-sama kick ass!

Bagi fans lama Navicula, “Love Bomb (2013)” adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan semua serpihan karya mereka dalam sebuah collectible item yang luar biasa ini. Sementara bagi fans baru mereka, album ini saya pastikan akan benar-benar mind blowing. Saya tidak akan heran jika nanti ada fans baru yang nyeletuk: “Gile! Ada ya, rock band asli Indonesia yang kayak gini?”

Di keping kedua, aransemen maut “Semut Hitam” menjadikan lagu legendaris God Bless ini seperti punya nyawa baru. Benar-benar mengejutkan!

Favorit saya, tetap, adalah “Di Rimba”.

Setelah sekian kali mendengarkan versi album “Kami No Mori” dan beberapa kali menyaksikan lagu ini dibawakan live, di album ini “Di Rimba” seolah menemukan tempat yang semestinya. Suara alam yang sunyi dan menenangkan ini nyaman bersemayam di antara kisah pilu “Orangutan” dan himpitan mematikan “Metropolutan”.

Dulu, 20 kg yang lalu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rimba, gunung, dan jeram dibanding hidup di kota. Dan “Di Rimba”, dengan semua kemegahannya yang sederhana, membawa kembali kenangan itu. Tidak hanya kenangan, melainkan juga keinginan. Hasrat baru yang tumbuh untuk sekali lagi menapakkan kaki di jalan-jalan kecil dan sunyi, dalam upaya membiarkan alam membantu saya menemukan diri saya kembali.

“Sail On” sebenarnya bisa jadi nomor santai yang berkesan. Namun, barangkali ini satu-satunya kritik saya untuk keseluruhan album ini, artikulasi Robi sedikit kurang jelas. Tanpa membaca teks yang tertera di sampul album, rasanya agak sulit memahami apa sebenarnya yang termuat di lagu ini.

Mengingat Robi banyak sekali ikut kursus yoga dan berkebun, rasanya baik juga jika dia menambahkan kursus artikulasi kata-kata berbahasa Inggris ke aktivitas hariannya.

Secara keseluruhan, “Love Bomb (2013)” adalah album rock yang sangat memuaskan. Di double album ini, Navicula terdengar (dan terasa) penuh tenaga, sangat modern, dan tumbuh.

Jika mereka masih bersikukuh mengibarkan bendera grunge, maka dapat saya pastikan, di tangan mereka, melalui album ini, grunge menjadi tak lekang oleh waktu. Terlahir kembali dan tetap relevan untuk kita nikmati.

7 thoughts on “Review Album Musik: “Love Bomb” by Navicula (2013)”

Leave a Reply to wustuk Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *