Review Buku: The Element (2009)

the element

Ini adalah salah satu buku paling penting yang pernah saya baca sepanjang hidup saya. Ini adalah buku yang membuat saya kembali menekuni hobi menggambar komik. Ini adalah buku yang membuka mata hati saya, bahwa setiap manusia, seperti juga kamu, tidak seharusnya melupakan apa alasan utama terlahir ke dunia.

Ini, percayalah pada saya, adalah buku yang akan mengembalikan gairah dan kebahagiaan ke dalam hidup kamu, tidak peduli sepayah apa pun kondisi jiwa kamu saat ini.

Buku ini, meskipun sangat ilmiah, judulnya seperti fiksi. “The Element”. Pengarangnya, seorang penderita polio yang menggugat sistem pendidikan di seluruh dunia, adalah Sir Ken Robinson.

Apakah The Element itu?

The Element adalah pertemuan antara kemampuan alamiah seseorang dengan minatnya. Dan untuk masing-masing manusia, tersedia The Element yang unik.

Sir Ken Robinson, dengan latar belakang ilmu pendidikan yang dikuasainya, mati-matian berusaha mengubah sistem pendidikan di dunia agar mengarah ke upaya menggali The Element dalam diri setiap siswa. Dia mengusung konsep pendidikan yang menekankan cara mendidik yang unik untuk masing-masing siswa, bukan satu metode untuk dipukul rata kepada semua siswa seperti yang sekarang berkembang dan menjadi standar pendidikan di seluruh dunia.

Jika kamu dihadapkan pada pertanyaan ini: “Seberapa pintarkah kamu?”, maka sebaiknya kamu tidak langsung menjawab, melainkan mengubah pertanyaannya menjadi: “Dalam hal apakah kamu pintar?”

Kepintaran atau inteligensia manusia, menurut Sir Ken Robinson, punya 3 karakter utama: teramat sangat beragam (dari kemampuan luar biasa memotong bahan makanan hingga menghitung orbit pesawat antariksa), teramat sangat dinamis (tidak tunduk kepada waktu dan usia), dan sepenuhnya unik (setiap orang punya potensi kepintarannya sendiri-sendiri).

Ya. Tes IQ (atau tes standarisasi kemampuan manusia sejenis) adalah omong kosong. Enam milyar manusia di dunia saat ini terlampau unik untuk disamaratakan melalui sebuah tes yang hingga hari ini tidak valid relevansinya dengan pencapaian manusia dalam bidang apa pun.

The Element, sederhananya, adalah perpaduan bakat dan minat. Manusia tidak sepantasnya mengabaikan bakatnya. Di sisi lain, kita juga tidak bijak jika hanya mengandalkan minat. Pendidikan, setidaknya versi Sir Ken Robinson, seharusnya menjadi gerbang bagi semua manusia untuk menemukan perpaduan bakat dan minat tersebut. Untuk menemukan The Element.

Kenapa itu menjadi penting?

Karena berkarya dengan mengabaikan bakat dan hanya mengandalkan minat tidak akan bisa menghasilkan sebuah master piece. Sebaliknya, bekerja sesuai bakat namun tidak punya gairah yang artinya tidak sepenuh hati dalam berkarya, hasilnya sama saja. Kedua pendekatan itu hanya berujung pada karya-karya medioker.

Lebih jauh lagi, manusia yang hidup dengan dua cara medioker seperti itu hanya akan menjalani hidup yang separuh bahagia. Tidak akan pernah merasa utuh. Selamanya.

Matt Groening (pencipta The Simpsons), Bob Dylan, Aaron Sorkin, Albert Einstein, Sir Ridley Scott, Paulo Coelho, Ariana Huffington (pendiri The Huffington Post), Monica Seles, Warren Buffet, dan Sir Paul McCartney adalah contoh kecil dari orang-orang yang menemukan The Element dan menjalani hidup seutuhnya.

Mereka menemukan The Element-nya dan mengikuti kata hati untuk menjalani hidup sesuai temuan itu. Hasilnya? Setiap orang berhasil melahirkan master piece di bidangnya masing-masing.

Apakah kemudian kita harus membuang kehidupan kita saat ini, jika kemudian kita menemukan bahwa sumber penghasilan kita ternyata bukan The Element kita yang sesungguhnya? Di sinilah indahnya pemikiran Sir Ken Robinson: tidak harus seperti itu! The Element tidak ada kaitannya dengan jumlah uang yang bisa kamu kumpulkan.

Dalam bukunya, Sir Ken Robinson menerangkan jenis manusia yang disebut Pro-Am. Orang-orang yang menekuni The Element-nya hingga ke tingkat master namun tidak mencari uang dari sana. Mereka hidup dengan berkarya di bidang yang tidak ada kaitannya dengan The Element mereka.

Kita bisa melihat Pro-Am sangat pesat berkembang terutama di bidang fotografi. Banyak sekali fotografer amatir yang hasil karyanya jauh mengalahkan fotografer profesional. Master-master ini disebut amatir semata karena mereka tidak cari uang dari fotografi, bukan karena kemampuannya yang payah.

Satu konsep lagi, yang menurut saya, sangat membesarkan hati dalam buku ini adalah bahwa tidak ada kata terlambat untuk menemukan The Element bagi diri kita. Dalam bab berjudul “Is It Too Late?”, Sir Ken Robinson menampilkan orang-orang yang menghasilkan master piece dalam usia lanjut. Diantaranya adalah Harriet Doerr yang kembali belajar ke kampus di usia 63 dan kemudian sukses menerbitkan novel pertamanya yang mendapat penghargaan tingkat nasional di usia… 73 tahun!

Lalu, bagaimana caranya kita mulai menekuni The Element? Mudah saja!

Cari tahu apa The Element kamu, cari orang-orang yang sama untuk berkumpul, bertukar ide, dan berkaryalah bersama mereka, dan sedapat mungkin carilah juga mentor untuk membimbingmu.

May The Element be with you!

4 thoughts on “Review Buku: The Element (2009)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *