Review Film: “Jalanan (2014)”

Jalanan (2014)

Jakarta disesaki cerita duka dan orang-orang melarat. Semua orang sudah tahu itu. Namun melalui mata Daniel Ziv, kehidupan orang pinggiran seolah terlahir kembali. Lebih optimistis dan di satu-dua tikungan, lebih romantis.

Ambil contoh rayuan gombal yang dilontarkan Ho kepada janda manis di sebuah warung nasi Padang ini: “Aku suka anakmu yang kecil itu. Siapa namanya? Aku mau lho, jadi bapaknya”. GUBRAK!

Boni, Ho, dan Titi. Melalui sosok 3 pengamen jalanan ini, film “Jalanan (2014)” membawa kita menukik ke dasar kota Metropolutan. Ke kolong jembatan, gang sempit, dan meloncat dari satu bis kota bobrok ke bis kota bobrok lainnya.

Film dokumenter ini mengalir deras tanpa banyak menggurui. Semua aspek dalam “Jalanan (2014)”, yang direkam selama 5 tahun ini, terasa sangat jujur, kocak, sedikit porno, dan luar biasa mengharukan.

Mungkin karena Daniel Ziv berkebangsaan Kanada, maka film dokumenter ini tidak jatuh ke lubang yang sama dengan kebanyakan film dokumenter lainnya: berat, menggurui, dan umumnya mati-matian mencari simpati dan belas kasihan penonton. “Jalanan (2014)” adalah banyak hal, kecuali roman picisan yang memaksa kita jatuh iba.

Boni, yang sejak umur 8 tahun cari makan di jalan dan selama 10 tahun terakhir tinggal di kolong jembatan, sama sekali tidak minta dikasihani. Sebaliknya, dia dengan gagah terus menyalakan mimpinya, yaitu tinggal dengan teman hidupnya di rumahnya sendiri, seperti kebanyakan orang pada umumnya.

Gak mungkin kan, kita terus-terusan tinggal di kolong jembatan?” tukasnya, menghadapi pahitnya kenyataan penggusuran.

Jika ada orang yang mampu melihat sisi positif dari parahnya kondisi kota Jakarta maka Bonilah orangnya!

Titi, perempuan kampung beranak tiga yang kawin lagi di Jakarta, dengan semangat hidupnya yang menyala seperti matahari, memaksa dirinya untuk belajar pendidikan formal demi selembar ijazah yang sudah diimpikan belasan tahun lamanya. Disaat jutaan orang malas bersekolah karena alasan-alasan remeh, dengan penuh semangat Titi belajar di sela-sela kesibukannya mengamen yang sesungguhnya tidak kenal waktu.

Dan Ho, cowok gimbal yang kata-katanya tulus seperti mata air dari gunung, menolak hancur dilindas kerasnya kehidupan jalanan di Jakarta. Seperti Boni dan Titi, dia bertahan dengan cara hidup yang jujur. Mencari makan dengan cara-cara yang pantas.

Dengan puitis, mereka bertiga mengarungi hidupnya masing-masing, mencari celah dalam derasnya kehidupan jalanan di Jakarta. Dengan segala kekurangannya, justru merekalah orang-orang yang sesungguhnya hidup berkelimpahan. Karena dengan sadar, mereka menyambut semua tantangan yang dilemparkan kehidupan kepada mereka dan menjalaninya dengan ikhlas.

Film dokumenter ciamik ini, dengan lugas dan tanpa maksud merendahkan, seolah mau bilang: jadi orang jangan cengeng!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *