Review Film: The Amazing Spiderman 2 (2014)

The Amazing Spiderman 2 (2014)

Dengan alur cerita yang seperti ini, rasanya “The Amazing Spiderman 2 (2014)” lebih cocok jadi materi DC dibanding Marvel. Kali ini si manusia laba-laba hadir dalam balutan kisah yang kontemplatif, sedikit gelap, namun tetap tengil, dan opitimistis. Brilian!

Kemistri antara Peter Parker dan Gwen Stacy, menurut saya, sangat luar biasa. Meski sarat kata-kata gombal khas pasangan yang dimabuk asmara, dinamika aksi dan dialog keduanya terasa alami.

Efek visual dalam “The Amazing Spiderman 2 (2014)” tak kalah mempesona. Aksi Spiderman bergelantungan di gedung pencakar langit New York disuguhkan dengan cara yang demikian apik sehingga kita merasa seolah ikut terbang bersamanya. Dana produksi sebesar USD 255 juta sukses menghasilkan rangkaian efek visual yang luar biasa memukau.

Electro dan Green Goblin, dua musuh utama Spiderman di film ini, dihadirkan dalam wujud yang sangat meyakinkan. Pertempuran-pertempuran yang terjadi kemudian berlangsung cepat dan penuh tenaga. Nyaris sempurna.

Jika ada yang kurang dari “The Amazing Spiderman 2 (2014)” maka itu adalah aspek psikologis dari Electro. Kelahiran sosok penjahat berkekuatan luar biasa ini terlalu dangkal. Terlalu generik. Motivasinya untuk menghancurkan kota juga rasanya kurang keren dan sama sekali tidak mendasar. Sosoknya kemudian jadi seperti seorang bocah yang mengamuk karena mainannya diambil orang.

Namun demikian, secara umum, “The Amazing Spiderman 2 (2014)” adalah tontonan yang sangat menyenangkan. Ini dibuktikan dengan keberhasilan film ini meraup USD 461 juta dari seluruh dunia dalam 8 hari perdana pemutarannya.

Bagi orang tua yang ingin membawa anaknya ke bioskop, pastikan sudah siap dengan jawaban dari pertanyaan ini: “Spiderman kok ciuman melulu ya, sama Gwen?”

5 thoughts on “Review Film: The Amazing Spiderman 2 (2014)”

  1. Yes iyes lah alami. Wong aslinya juga pacaran 🙂

    Bener villainnya rata2 pada dangkal, instan dan kurang tergali. Terlalu fokus pada Spideynya. Untuk filem 2 jam an gitu harusnya Webb bisa bikin alur lebih enak, IMHO.

    1. Ya. Gak bisa bayangin, teknologi kamera dan olah digital kayak apa yg bisa bikin Spidey melejit di antara gedung2 dan kita ngerasa ikut gelantungan, hihihi… Keren!

Leave a Reply to Nito Septian Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *