2014: Teruslah Gelisah. Teruslah Berkarya!

Kegelisahan kita akan masa depan, selamanya akan selalu ada. Di sana. Jauh di lubuk jiwa. Tidak mengapa.

Siapa pun kita, pada posisi karir mana pun saat ini kita bercokol, masa depan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya terang. Dalam banyak kasus, masa depan justru sama sekali tidak kelihatan.

Sekali lagi, tidak mengapa.

Ketika diminta jadi editor buku manajemen bertajuk “The Coconut Principles”, saya sama sekali tidak punya bayangan akan seperti apa tantangan yang menghadang. Ketidaktahuan itu menimbulkan kegelisahan mendalam. Meski ternyata, dengan segala kekurangannya, buku itu akhirnya bisa terbit dan memberi inspirasi pada audiensnya sendiri.

Bahkan saat menyusun buku tentang musik yang sangat saya kuasai, yang kemudian lahir dengan nickname #BukuGrungeLokal, saya boleh dibilang berlari seperti babi. Tabrak sana sini, karena tidak tahu buku itu mau dibentuk seperti apa nanti.

But it turned out to be alright. Sekarang edisi keduanya malah sudah dicetak, dengan dukungan dana dari Wujudkan.com.

Maka ketika saya diminta menulis pengalaman dua entrepreneur cewek yang muda dan kick ass, tanpa pikir panjang dan repot-repot menerawang masa depan, saya terima! Kapan terbit? Tidak tahu. Hingga saat ini, naskah buku yang kemungkinan bakal punya nickname #EMA tersebut baru separuh selesai.

Dalam menulis, saya menemukan apa yang disebut Sir Ken Robinson sebagai “The Element”. Perpaduan antara minat dan bakat yang demikian memuaskan hati pelakunya. Bagi saya, menulis terasa sangat indah. Dan mudah.

Setiap buku ternyata punya jalan hidupnya sendiri. Saya, sebagai penulisnya, tidak sepenuhnya memahami, seperti apa wujud buku itu nanti. Yang saya tahu dan sepenuhnya yakini adalah bahwa pesan yang saya tulis penting. Mendesak. Harus segera ditulis!

Dalam ketidakpastian, juga kegelisahan itulah saya menemukan keindahan menulis.

Kiranya itulah nuansa 2014 bagi saya. Keinginan kuat untuk menulis, untuk berkarya, meski dalam prosesnya saya menemukan segudang ketidakpastian yang membuat saya hidup dalam kegelisahan yang kadang nyaris tidak tertanggungkan.

Selamat tinggal 2014. Selamat datang 2015. Teruslah gelisah. Teruslah berkarya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *