Payung Hitam oleh Dialog Dini Hari

Sudah saatnya anak indie mengurangi kecanduan mereka terhadap senja, kopi, dan patah hati. Kiranya sudah tiba masanya untuk menengok sekeliling. Meresapi kenyataan sosial dan perlahan menyadari betapa banyak ketidakberesan di sekitar kita. Entah itu kesenjangan ekonomi, ketidakadilan politik, diskriminasi agama dan gender, atau hal lainnya. Hal-hal yang, sejujurnya, jauh lebih genting ketimbang meratapi nasib buruk percintaan.

Dialog Dini Hari (DDH), yang sejak kali pertama kemunculannya memang kerap mengusung tema “berat” dalam lagu-lagu mereka, merilisi Payung Hitam bertepatan dengan peringatan Hari Hak Asasi Manusia sedunia. Bagi siapa pun yang tidak melupakan sejarah, payung hitam sudah barang tentu terasosiasi dengan Kamisan di depan istana negara, Sumarsih, Bernardus Realino Norma Irawan, Universitas Katolik Atma Jaya, Tragedi Semanggi, dan aksi mahasiswa pada November 1998.

DDH sepertinya memang tidak bisa memungkiri hati nurani. Meski mereka terbilang banyak juga menulis lagu soal cinta, muatan soal kritik sosial dan gugatan yang lahir dari kegusaran melihat berbagai ketidakadilan selalu merembes dalam lirik-lirik nan puitis. Itulah kiranya pengejawantahan kesenian sesungguhnya, seperti yang sudah lama disuarakan W.S. Rendra. Apalah gunanya berkesenian bila tercabut dari kenyataan. Demikian kira-kira suara Si Burung Merak. Dalam Sajak Sebatang Lisong bahkan keras dia menggugat kawan-kawan seniman yang memalingkan wajah dari buruknya kenyataan negeri ini. Begini dia menulis: “Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian.”

Payung Hitam, yang tentu saja berisi pertanyaan dan gugatan, saya jamin akan mengalami nasib serupa dengan sajak W.S. Rendra. Lagu itu akan membentur jidat birokrat yang mengilap akibat terlalu sering memikirkan cara-cara mengibuli rakyat dan mencuri uang negara. Tak mengapa. Tugas kesenian memang berhenti di situ. Menggugat, menggetarkan hati, dan menginspirasi. Perjuangan selanjutnya, kalau memang bakal ada, menjadi tanggung jawab anak indie. Agar anak indie masa kini tidak kemudian digugat masyarakat menjadi “anak indie masa gitu?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *