Review Film: Mare of Easttown – Luka Perempuan, Luka Sebuah Kota

Mare of Easttown (2021), dengan Kate Winslet sebagai bintang utama, kembali membuktikan bahwa serial detektif di televisi bukanlah sebuah genre ecek-ecek. Dengan brilian, Winslet yang memerankan Marianne “Mare” Sheehan, detektif perempuan yang galak, manupulatif, dan bahkan kasar, membawa penonton menyelami labirin misteri dalam kehidupan masyarakat sebuah kota kecil yang murung di pinggiran Philadelphia, AS. Limited series yang hanya terdiri dari 7 episode ini juga mengukuhkan posisi HBO sebagai penghasil serial detektif papan atas setelah sebelumnya sukses mendapat pengakuan publik melalui True Detective musim pertama (2014) yang dibintangi Matthew McConaughey dan True Detective musim ketiga (2019) yang dibintangi Mahershala Ali.

Perkawinan Twin Peaks dan Broadchurch
Menonton Mare of Easttown rasanya tidak mungkin lepas dari ingatan akan serial Twin Peaks (1990) besutan sutradara kondang David Lynch yang dibintangi Kyle MacLachlan dan Broadchurch (2013) yang dibintangi David Tennant. Mare of Easttown dan Twin Peaks sama-sama bicara banyak soal runtuhnya kesucian manusia yang secara normatif umumnya diagung-agungkan di kota kecil. Juga soal gagalnya para orangtua melindungi anak-anak mereka dan sebaliknya, betapa anak – terutama remaja – sungguh jauh dari citra tidak bersalah. Meski, tentu saja, Mare of Easttown tidak memuat hal-hal berbau mistis atau adegan-adegan aneh yang memusingkan kepala khas David Lynch yang memang kental mewarnai tiap episode Twin Peaks hingga penayangan musim ketiganya.

Untuk urusan simpan-menyimpan rahasia, Mare of Easttown jelas punya kemiripan sangat banyak dengan Broadchurch. Sah rasanya menyatakan bahwa tiap karakter dalam serial ini (yang satu sama lain bersaudara atau setidaknya merupakan tetangga dekat) punya rahasianya masing-masing. Entah itu berkaitan dengan masalah utama dalam cerita atau sama sekali tidak berkaitan dan malah (sengaja) menyesatkan. Bagaimanapun, pada akhirnya penonton akan mengamini bahwa rahasia-rahasia yang ada dan kemudian satu per satu terungkap tersebut memang wajar. Bukan sesuatu yang dipaksakan hadir demi sekadar memberi kejutan-kejutan murahan atau yang biasa diglorifikasi penggemar film sebagai plot twist.

Di Balik Layar: Brand Inglesby
Sebagian besar penonton pasti setuju bahwa naskah adalah salah satu keunggulan utama serial ini. Topik utama, lokasi, alur cerita, karakter, konflik, hingga pesan terselubung alias story argument tersusun dan terjalin dengan rapi. Sublim. Ditambah penggunaan logat khas pinggiran Philadelphia yang disebut “Delco accent”, serial ini terasa begitu meyakinkan, sampai-sampai berkembang rumor di internet bahwa karakter dan kejadian dalam Mare of Easttown didasarkan pada karakter dan kejadian di dunia nyata.

Sepanjang serial tidak ada karakter yang hadir sekadar sebagai pemanis. Tiap karakter yang awalnya demikian remeh sekalipun seiring waktu terbukti memegang peran penting yang menentukan bagaimana cerita bergerak, bahkan mencapai akhirnya. Peran yang dijalankan dan rahasia yang mereka simpan rapat-rapat berkelindan, bertumpuk menyusun lapis demi lapis cerita yang di tiap episode tak henti menyuguhkan kejutan-kejutan yang sebagiannya bukan hanya terasa murung, melainkan gelap dan sangat menekan perasaan.

Adalah Brand Inglesby, sarjana penulisan naskah film dari American Film Institute, yang bertanggung jawab atas apiknya alur cerita dalam serial ini. Berasal dari keluarga pebasket profesional (bapak dan saudaranya adalah pelatih basket), Inglesby menempuh jalan hidup yang sepenuhnya berbeda. Kepiawaiannya menulis naskah film sudah bergema jauh sebelum Mare of Easttown. Dia pernah bekerja sama dengan sutrada papan atas semacam Ridley Scott. Jejeran aktor kelas dunia seperti Christian Bale, Liam Neeson, hingga Ben Affleck juga tercatat pernah memerankan karakter yang ditulis dalam naskah-naskahnya yang kemudian menjadi film keluaran Hollywood berjudul Out of The Furnace (2013), Run All Night (2015), dan The Way Back (2020).

Kehidupan sehari-hari tampaknya menjadi inspirasi utama Inglesby dalam menulis naskah film. Ini terlihat dari beberapa naskahnya yang menjadikan kota Philadelphia atau negara bagian Pennsylvania sebagai lokasi. Juga dunia basket sebagai semesta cerita. Sebuah pendekatan yang terdengar sederhana namun terbukti sukses menjadikan naskahnya terasa sangat nyata.

Kate Winslet Tampil Luar Biasa
Demikian meyakinkan penampilan Kate Winslet sebagai Mare si detektif galak yang penuh luka batin, The Guardian sampai menulis “Kalau ada yang mampu menyuguhkan penampilan luar biasa di masa senja kariernya, jelas Kate Winslet-lah orangnya. Dia sangat mengagumkan.”

Tidak butuh jadi ahli peran dulu untuk mengamini pernyataan yang barangkali terdengar sedikit berlebihan itu. Sepanjang serial ini, Winslet dengan sempurna menyuguhkan karakter galak, terluka, sinis, realistis, manipulatif, obsesif, berani, tegas, pegang kendali, hingga kasar melalui ekspresi mikro. Catat. Ekspresi mikro. Bukan aksi bombastis terjang sana terjang sini atau luapan emosi yang berlebihan. Kalau boleh disederhanakan, Winslet melambungkan serial ini ke jajaran terbaik dunia hanya dengan modal ekspresi-eksrepsi mikro di wajahnya semata.

Lihat saja bagaimana alis matanya naik tatkala diajak kencan oleh lelaki yang semula dia anggap sama sekali tak tertarik pada dirinya. Atau ujung bibirnya yang diam-diam bergerak tipis saat berhasil memanipulasi orang untuk menjalankan rencananya tanpa orang itu sadari. Juga matanya yang membara di tengah wajah kosongnya saat dicaci maki oleh orang yang merasa Mare gagal menjalankan tugasnya sebagai detektif. Atau, lebih menyakitkan lagi, sebagai seorang ibu.

Pesan Tentang Beratnya Hidup Seorang Perempuan
Menonton Mare of Easttown, kita tidak terhindarkan akan masuk ke alam pemikiran mengenai perempuan. Tentang bagaimana mereka, setiap hari, berjuang mempertahankan kewarasan dan tentu saja hidup itu sendiri.

Pelan dan menusuk kesadaran, lapis demi lapis, kita akan disuguhi pertunjukan tentang bagaimana dengan ajaib perempuan-perempuan di Easttown mampu mengurus cucu dari anak yang telah hilang, mati-matian membantu saudara yang demikian dalam terjerat narkoba, bertahan dari badai perselingkuhan, tetap berdiri meski jadi sasaran tembak amuk massa, dan kengerian trauma masa lalu sambil terus menjalani peran keseharian seolah hidup mereka baik-baik saja.

Lama setelah serial ini usai, yang tertinggal di kepala bukan sekadar kisah seorang detektif perempuan memecahkan kasus yang telah meresahkan orang satu kota, melainkan kesadaran bahwa apa yang dialami Mare dan perempuan-perempuan lain dalam kisah fiksi ini sesungguhnya betulan terjadi di sekeliling kita. Di keseharian kita.

Pada akhirnya, Mare of Easttown secara terselubung mengajak – bahkan mendesak – kita untuk menyadari dan kemudian menerima bahwa perempuan memang menanggung banyak luka. Menanggung demikian banyak beban hidup. Entah itu dari masa lalu, pasangan hidup, anak, pekerjaan, atau lingkungan mereka. Dan betapa lihai Inglesby menunjukkan bahwa perempuan mampu, dan memang harus mampu, menjadi penentu bagi cerita hidup mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *