Skip to content Skip to footer

Apa Bedanya Menulis Buku dan Skenario Film?

Makan siang bersama di kelas skenario film Wahana Kreator Nusantara

Sejak 2012 saya rutin menulis blog. Tentang apa saja. Futsal, buku, kopi, musik, film, konser, media, dan semua hal (yang saya rasa penting) yang melintas di pikiran. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan saat tulisan rampung saya susun dan kemudian saya publish jadi blog post. Hadirnya social media semacam Twitter dan Facebook menambah keasyikan saya menulis karena blog post yang saya publish dapat saya bagikan ke jaringan yang lebih luas lagi.

Atas dorongan (lebih tepatnya lagi hasutan!) teman sekaligus desainer setia saya, Rudi, pada 2014 saya merilis buku pertama yang berjudul “Saya Ada di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal”. Tidak sebombastis judulnya, buku itu sejatinya hanya memaparkan catatan pribadi saya terkait gerakan komunitas pecinta musik grunge di wilayah Jabodetabek, dan satu dua pagelaran di Bandung. Wajar kalau kemudian banyak pihak mencibir, buku ini sama sekali tidak layak disebut sebagai buku babon grunge lokal. Ya, saya memang tidak pernah berniat menulis buku babon. Jadi, santai saja…

Lahirnya buku perdana rupanya memantik kelahiran buku-buku selanjutnya. Selalu bersama Rudi (dan Tim Edraflo: Davro dan Gede), saya menulis dan menerbitkan tak kurang dari 9 buku hingga tahun ini. Temanya pun tidak lagi terkotak dalam musik lokal, melainkan merembes ke wilayah olahraga, entrepreneurship, yoga, wellness, hingga fesyen!

Pada 2019, entah kena embusan angin apa, mendadak saya mendaftarkan diri ke kelas kecil yang membahas dunia cerita secara teknis. Kelas kecil itu digelar oleh Wahana Kreator Nusantara dan diampu oleh Arief Ash Siddiq. Dalam kelas itulah mata saya terbuka. Betapa luasnya dunia cerita dan alangkah minimnya pengetahuan saya soal itu.

Dalam rangkaian pertemuan tatap muka yang berlangsung tiap Sabtu pagi sampai siang tersebut saya mereguk ilmu dasar penyusunan cerita seperti premis dan komponennya, semesta cerita, struktur pembentuk karakter, dan lain sebagainya. Kelas itu, bagi saya, terasa seperti sebuah gerbang yang membawa saya masuk ke dunia yang sama sekali baru. Asing. Menantang.

Lepas dari kelas itu, saya langsung melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi: kelas skenario film. Masih oleh Wahana Kreator Nusantara, namun kali ini gurunya adalah Salman Aristo. Saya sebenarnya sudah lebih dulu kenal Salman (publik biasanya memanggil dia Aris) dari sepak terjangnya bersama band Silentium dalam komunitas Pearl Jam Indonesia. Di kelas ini saya dan 8 orang peserta lainnya digembleng habis-habisan untuk menguasai Kung Fu penulisan skenario film yang mengikuti standar industri tertinggi. Kiblatnya tentu saja Hollywood!

Berbekal pengalaman dan minat menulis buku, saya seperti ikan yang terlempar dari air dan megap-megap di tanah kering saat mempelajari teknis penulisan skenario film. Gaya bahasa dalam buku yang penuh bunga-bunga ternyata dibabat habis di skenario film. Cara bertutur buku yang jamak meliuk dari alam fisik masuk ke kenangan dan pikiran, dilarang keras dalam skenario film.

Menurut Kung Fu yang diajarkan Salman di kelas kecilnya yang super ketat itu, skenario film haruslah clean, crisp, dan terutama menjunjung tinggi “keterbatasan” mediumnya: tulislah hanya apa yang bisa terlihat! Dalam bahasanya sendiri, Salman sering menyebut profesi penulis skenario film sebagai “pemulung adegan”. Cukup akurat karena memang adegan demi adeganlah yang kemudian harus ditulis, dirangkai dalam logika cerita yang solid, agar kemudian dapat menyelusup ke dalam batin penontonnya.

Betapa keringnya! Demikian batin saya waktu itu, ketika masih belajar. Dan ternyata masih demikian juga pemahaman batin saya setelah ikut menulis skenario untuk 3 episode dari 2 judul drama seri yang berbeda. Betapa keringnya!

Kini saya memahami skenario film sebagai karya instruksi. Pada akhirnya, memang itulah dia: sebuah naskah berisi instruksi bagi sutradara, aktor, aktris, dan semua komponen lain yang terlibat dalam mewujudkan sebuah film. Bahwa naskah itu dapat ditulis dengan bersih dan indah, itu lain persoalan.

Jadi apa bedanya menulis buku dan menulis skenario film? Ya, itu tadi. Dalam menulis buku kita boleh (bahkan harus) terbang tinggi ke alam pikiran, menyelam ke kenangan masa silam, dan menuturkan apa-apa yang tidak terlihat mata. Sebaliknya, dalam menulis skenario film, semua kemewahan itu harus kita buang ke comberan. Kita hanya dibekali kosakata yang menunjukkan aksi. Yang terlihat oleh mata penonton.

Contoh sederhana, supaya kalian tidak kebingungan dan mengira saya mengada-ada. Dalam naskah buku kita boleh (bahkan dipuji sebagai penulis puitis!) menulis seperti ini: “Dinda tenggelam dalam kesedihannya. Meski tiada air mata terjatuh, hatinya membeku saat angin malam pantai Kuta memeluknya.” Tulisan semacam ini, kalau ada dalam sebuah skenario film, sudah pasti dibuang oleh produser atau head writer!

Untuk menggambarkan situasi (adegan) yang sama, skenario film yang baik akan berbunyi kurang lebih seperti ini: “Dinda meneteskan air mata dalam diam.” Singkat. Padat. Menohok. Untuk urusan yang satu ini, saya bisa menikmatinya. Menulis secara padat dan menohok, di medium apa pun, menurut saya adalah Kung Fu tertinggi yang dapat diraih seorang penulis. Terlebih dalam dunia perfilman, dimana 1 halaman naskah skenario sudah pasti berarti 1 menit adegan, yang artinya juga adalah sekian rupiah ongkos produksi.

Lebih enak menulis buku atau skenario film? Sampai saat ini saya merasa masing-masing memberi kenikmatan tersendiri bagi saya. Dua dunia itu menawarkan peluang improvisasi yang berbeda, namun anehnya, terasa sama menantangnya. Dan tentu saja sangat menyenangkan!

Leave a comment