Skip to content Skip to footer

Review Film: Pulau Plastik (2021)

Menonton “Pulau Plastik (2021)” di Netflix membuat saya mual. Dengan gamblang film itu menunjukkan betapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan dari aktivitas setiap hari. Sebagai ilustrasi (yang saya duga tidak jauh meleset dari kenyataan sebenarnya), tiap 15 menit sebanyak 57 truk sampah plastik tumpah ke laut Indonesia. Bayangkan. Tiap 15 menit!

Namun, bukan itu yang menohok jantung. Polusi di laut bukan berita baru. Lagi pula, rumah saya jauh dari laut. Narasi soal laut yang sekarat tidak terlalu menggelisahkan bagi saya. Dan tepat di situlah kelihaian (atau kebengisan!) penyusun narasi “Pulau Plastik” terlihat.

Dia (atau mereka) tidak berhenti di laut yang sekarat, melainkan terus menusuk dengan argumen yang didukung fakta empiris: sampah plastik sudah masuk ke tubuh orang Indonesia! Ya. Dari 100 sample kotoran manusia yang diambil di berbagai kota, semuanya menunjukkan kandungan microplastics yang signifikan.

Robi (vokalis Navicula dan aktivitas lingkungan hidup) ikut menyumbang kotorannya sebagai sample. Hasilnya? Kandungan microplastics dalam kotoran Robi 6 kali lebih tinggi dibanding kandungan kotoran dalam sample yang diambil di 8 negara Eropa. Padahal Robi tergolong sosok yang menjaga asupan makanannya dan tinggal di Ubud, Bali, yang terbilang minim polusi. Ya, ampun!

Apa itu microplastics? Silakan pelajari sendiri. Intinya, itu adalah sampah plastik berukuran kurang dari 0,5 mm yang sudah menyusup ke dalam tubuh kita dan jelas berpotensi membuat kita sakit.

Sebagai film dokumenter, bagi saya “Pulau Plastik” tidak memiliki plot yang jelas atau kuat. Selama 1 jam 40 menit saya seperti terombang-ambing mengikuti perjalanan tiga karakter utama yang kurang tergambar kaitannya. Sebagai karakter utama dalam narasi film dokumenter tersebut, baik Robi, Tiza Mafira, dan Prigi Arisandi memang bicara soal sampah plastik, di sungai maupun di laut. Namun selain itu, saya tidak melihat motivasi apa yang menggerakkan mereka. Terlebih, mimpi besar apa yang mereka tuju sampai mau repot-repot menghabiskan waktu mengurusi campaign soal sampah plastik (tepatnya: menolak penggunaan plastik sekali pakai).

Namun, menurut saya, kekuatan film itu terletak pada argumennya yang sederhana dan didukung fakta nyata: microplastics sudah masuk ke dalam tubuh kita. Cepat atau lambat, kita semua akan jatuh sakit karenanya. Titik! Tidak peduli bagaimana caranya, kenapa bisa begitu, dan bagaimana mengatasinya. Itu bukan urusan film ini.

Film ini, pada akhirnya, menjadi semacam lonceng tanda bahaya yang sayangnya, berbunyi ketika bencana sudah menghantam kita. Bukan sebelumnya.

Leave a comment