Skip to content Skip to footer

Review Film: Jurassic World Dominion (2022)

Mudah diduga bahwa edisi finale dari rangkaian film Jurassic tidak menyuguhkan alur cerita maupun perkembangan karakter yang meyakinkan. Dua kekurangan mendasar itu berusaha ditutupi dengan production yang mewah. Luar biasa mewah! Wajar. Film ini setidaknya menggelontorkan bujet produksi sebesar 185 juta dolar AS.

Bagi saya, “Jurassic World Dominion (2022)” terasa seperti upaya menumpuk begitu banyak karakter untuk membereskan sebuah masalah absurd sehingga tidak banyak ruang bagi pengembangan tiap karakter di sepanjang film. Singkatnya, bagi siapa pun yang terpesona (bahkan memuja!) “Jurassic Park (1993)”, edisi pamungkas yang diberi tajuk dominion (kekuasaan) ini jauh sekali dari harapan untuk mampu menyamai, boro-boro mengungguli pendahulunya.

Namun demikian, anak saya yang berusia 8 tahun lebih sedikit ternyata bisa menikmati film ini. Dia jelas tidak pernah merasakan kekaguman seperti yang dirasakan generasi saya ketika kali pertama menonton amukan T-Rex dalam “Jurassic Park (1993)”. Meski sepanjang film dia sering kali menutup matanya dengan tas sekolah, secara umum dia menilai “Jurassic World Dominion (2022)” seru. Sedikit mengerikan bagi alam pikir bocah seumur dia, tapi seru.

Saya rasa memang seperti itulah tantangan yang dihadapi para pembuat film sekuel: ingin menyenangkan audiens lama atau meraih audiens baru? “Jurassic World Dominion (2022)” jelas memilih pendekatan kedua.

Kebetulan saya baru pekan lalu selesai membaca manga “Attack on Titan”. Dalam buku ke-34 itu dikisahkan bagaimana nasib Eren dan semua kemurkaan raksasa dari pulau Paradis berakhir. Sedikit banyak, “Jurassic World Dominion (2022)” punya kemiripan penggarapan narasi dengan manga tersebut: pemicu masalah utama dikembalikan (setidaknya, berusaha keras untuk dikembalikan) menjadi solusi. Kurang masuk akal. Dan terlebih, terasa sangat dipaksakan.

Juni sudah hampir separuh jalan dan kita belum mendapatkan suguhan film musim panas yang benar-benar kick ass. “Top Gun: Maverick (2022)” yang sudah tayang 2 pekan sebelumnya, meski harus diakui sangat menghibur, masih jauh dari standar film yang dapat menyelusup ke hati kita yang paling dalam dan bercokol abadi di sana sebagai film yang menggetarkan jiwa.

Leave a comment