Skip to content Skip to footer

Greysia Polii Testimonial Day

Seisi Istora Senayan bergemuruh ketika Greysia Polii muncul dari sudut gelap dan berjalan mantap ke tengah lapangan, setelah sebelumnya pasangan MC Valent/Donna Agnesia menyampaikan prestasi tertingginya sebagai peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama Apriyani Rahayu. “Indonesia! Prok-prok-prok-prok-prok! Indonesia! Prok-prok-prok-prok-prok!” demikian koor massal tanpa komando lancar berkumandang.

Minggu (12/6) pagi itu jadi momen mengharukan bagi Greysia dan semua pecinta bulu tangkis Indonesia. Meski tajuk acaranya berbunyi “Testimonial Day”, semua orang paham sejatinya itu adalah sebuah perpisahan. Ya, setelah 30 tahun berjibaku di dunia bulu tangkis profesional – dengan 19 tahun di antaranya dihabiskan di tingkat dunia – Greysia akhirnya memutuskan untuk gantung raket. Pensiun.

Bagi saya, bagian paling mengharukan dalam acara ini tentu bukan kata sambutan dari dua petinggi bulu tangkis maupun olahraga nasional kita. Meski dalam sambutan itu dinyatakan puja-puji setinggi langit terhadap sumbangsih Greysia untuk keharuman nama bangsa di kancah dunia selama ini, yang betul-betul menggetarkan hati justru momen ketika Greysia berpelukan dengan mamanya (Evie) dan mantan pasangannya (Apriyani) di tribun VIP yang berisi anggota keluarga dan jejeran pemain bulu tangkis dunia yang diundang khusus untuk “bertanding” di gelaran ini. Seiring tangis ketiganya tumpah, runtuh pula kejaiman saya. Diam-diam (untung kondisi bangku penonton gelap!) saya menitikkan air mata.

Setelah setengah tahun penuh “menguliti” kisah hidup Greysia melalui puluhan jam wawancara langsung, wawancara narasumber pelengkap hingga ke Tomohon (kampung halaman Greysia), dan menggali puluhan (kalau bukan ratusan!) sumber literatur dari berbagai media massa sebagai bagian penulisan naskah buku biografi resminya (saya menulis buku ini bersama seorang kawan yang masih enggan disebut namanya dengan berbagai alasan pribadi), saya paham betapa dalamnya makna air mata Greysia di Istora. Itu adalah tumpahan kebahagiaan atas keberhasilan dia dan mamanya, juga semua orang yang selama ini terus percaya pada dirinya, dalam meraih mimpi terbesarnya: jadi juara Olimpiade. Itulah yang Greysia ungkapkan di pengujung salam perpisahannya pagi itu sembari menatap tajam dan melambaikan tangan ke mamanya yang berdiri penuh haru di jejeran bangku VIP. “Ma… Akhirnya tercapai juga, ya. Mimpi kita.”

Dan benarlah kiranya Menpora Zainudin Amali yang dalam sambutannya di acara itu menekankan pentingnya peran dan pengorbanan keluarga dekat Greysia dalam perjalanan kariernya sebagai pebulu tangkis tingkat dunia yang sudah mengharumkan nama bangsa. Tanpa dukungan keluarga (dan belakangan terlebih dukungan Felix, suaminya tercinta), Greysia tidak mungkin jadi juara.

Pada akhirnya, kembali mengutip kata-kata yang diucapkan Greysia dalam “Testimonial Day” yang menggetarkan jiwa itu, bakat memang bisa membawa seseorang ke puncak prestasi. Namun karakterlah yang akan mampu membuatnya bertahan di sana. Di puncak prestasi tersebut.

Dan karakter Greysia, seperti yang kini saya pahami setelah sekian dalam menyelami kisah hidupnya, adalah karakter pejuang sejati. Sosok pantang menyerah yang sekaligus mau dan mampu menghargai sumbangsih orang-orang di sekitarnya. Bersama mereka, Greysia menapaki jalan terjal mewujudkan mimpi masa kecilnya. Dan berhasil.

Leave a comment