Skip to content Skip to footer

Biografi Greysia Polii 01: Pertemuan dan Permulaan

Pada suatu siang di pertengahan Desember 2022, saya mendapat sebuah panggilan telepon dari BSW alias Budi Suwarna. Dia adalah teman kerja di Harian Kompas dan sekaligus teman nongkrong saya sejak lama. Singkat saja isi panggilan teleponnya. Ko, lo mau gak nulis buku bareng gua? Biografi Greyesia Polii.

Tidak perlu banyak menimbang, saya tentu langsung mengiyakan. Bungkus!

Maka dibuatlah janji bertemu dengan Greysia Polii, Felix Djimin (suaminya), dan Rani Badri. Saya sudah kenal Bang Rani sejak dua tahun sebelumnya. Saya juga tahu dia adalah otak di balik Soul of Speaking, sebuah lembaga pelatihan unik yang mengkhususkan diri membantu orang mengeluarkan potensi terbaik dalam diri mereka. Beberapa kali kami ngebir bareng di Citos. Baru kemudian saya tahu kalau Bang Rani adalah semacam spiritual coach bagi Greysia dan Apriyani (pasangan mainnya) selama mereka bertarung di ajang Olimpiade Tokyo 2020 (yang digelar 2021 karena pandemi).

Pada pertemuan pertama yang berlangsung pada pekan pertama Januari 2022 di sebuah kafe di golf range Pondok Indah itu, saya mendapat kesan pertama yang sangat kuat (dan baik) atas sosok Greysia. Jelas sekali dia adalah orang yang punya percaya diri tinggi. Namun demikian, kepercayaan diri itu disempurnakan dengan kerendahan hati yang tulus. Bukan dibuat-buat.

Kami bicara banyak hal di pertemuan pertama itu. Utamanya adalah soal penulisan buku biografi Greysia Polii dan semua aspek teknis yang dibutuhkan dalam prosesnya nanti. Namun yang saya ingat benar dari pertemuan itu adalah keyakinan kuat dari semua yang hadir bahwa buku ini ditulis bukan untuk meraih ketenaran atau bahkan uang, melainkan untuk menggerakkan perubahan bagi bangsa Indonesia. Kisah hidup dan terutama perjuangan Greysia di kancah bulu tangkis dunia, kalau mampu saya dan BSW tuliskan dengan “benar”, akan jadi pijakan untuk memulai sebuah perubahan. Perubahan ke arah keyakinan diri bangsa bahwa kita adalah bangsa yang besar. Yang mampu meraih kejayaan dengan kekuatan kita sendiri. Bukan bangsa pengikut yang minder akut seperti yang selama ini banyak didengungkan bahkan oleh diri kita sendiri.

Jadilah! Keinginan untuk menggerakkan perubahan melalui narasi inspiratif memang sejak dulu mengalir dalam darah saya. Dan itulah semangat dasar yang menyelimuti proyek penulisan buku biografi Greysia Polii. Saya suka ide itu.

Disadari atau tidak, saya masih bersuka cita dan penuh semangat bekerja di Harian Kompas yang ngotot mengusung jurnalisme berkualitas pada saat industri media (terutama yang berbentuk digital) berbondong-bondong membuang integritas dan etikanya ke comberan semata memang karena saya suka dengan ide yang hidup di perusahaan ini. Ide itu adalah berupaya mencerahkan bangsa Indonesia dengan menyuguhkan informasi tepercaya agar kita bisa maju bersama menjadi sebuah bangsa yang makmur sentosa. Itulah intisari sosok Harian Kompas yang saya yakini.

Sebagian orang akan mencibir dan mengatakan cita-cita buku biografi Greysia Polii ini kelewat muluk. Naif. Bahkan munafik! Tidak mengapa. Tidak satu pun perubahan terjadi hanya dengan mendengarkan komentar miring. Perubahan ke arah kebaikan hanya dapat terjadi jika kita mendengarkan apa yang dibisikkan hati nurani kita sendiri.

Leave a comment