Skip to content Skip to footer

Biografi Greysia Polii 02: Cerita Mama

Dalam menyusun biografi Greysia Polii, salah satu narasumber utama yang saya dan BSW temui pertama kali adalah Evie Pakasi. Bukan semata lantaran beliau adalah mamanya Greysia, melainkan karena Evie memang menyimpan banyak sekali catatan detail terkait perjalanan karier bulu tangkis Greysia. Catatannya terutama berasal dari era kanak-kanak hingga Greysia masuk Pelatnas di Cipayung saat berusia 14 tahun.

Untungnya, Evie dapat kami temui di Jakarta. Tepatnya di apartemen milik Greysia di bilangan Jakarta Pusat. Sesi wawancara dengan beliau mudah sekali dijadwalkan.

Dan satu keuntungan lagi bagi saya dan BSW selaku penulis, Evie Pakasi adalah sosok yang gemar bercerita. Wawancara dengan dirinya jauh dari kesan kaku. Yang terjadi malah sebaliknya. Kami tak henti tertawa mengikuti penuturannya tentang kelakuan Greysia cilik yang memang sejak dulu punya kemauan keras. Namun di beberapa kesempatan, kami terenyuh dan bahkan nyaris meneteskan air mata saat penuturannya sampai ke era ketika dirinya harus menghemat uang demi memastikan pendidikan bulu tangkis Greysia berjalan lancar. Di antara penghematan itu adalah mengontrak rumah yang sangat sederhana, mengatur jatah makanan, hingga menjahit sendiri baju latihan Greysia. Alangkah mulianya perjuangan seorang mama untuk anak tercinta!

Sesi wawancara dengan Evie bergulir lancar. Tak terasa, sudah lebih dari 4 jam kami mendengarkan dirinya berkisah. Dari situ, banyak hal baru terkait kisah hidup Greysia yang menyeruak, menghasilkan lebih banyak lagi pertanyaan. Seperti apa sosok Willy Polii, papa Greysia yang meninggal saat dirinya baru berusia 2 tahun? Seperti apa kondisi Manado dan Tomohon sehingga membentuk Greysia kecil yang mau-maunya menceburkan diri ke dunia bulu tangkis? Dan lain sebagainya.

Pada titik itulah saya, BSW, dan Bang Rani memutuskan, kami harus mengunjungi Manado dan Tomohon. Hanya dengan kunjungan itulah pertanyaan-pertanyaan tadi dapat terjawab dan biografi Greysia punya kesempatan menghadirkan narasi utuh sosoknya sebagai manusia. Bukan sebagai sosok atlet berprestasi belaka yang seolah muncul begitu saja dari udara kosong.

– Eko Wustuk | 081285892185 –

Leave a comment