Skip to content Skip to footer

Biografi Greysia Polii 03: Kunjungan ke Manado dan Tomohon

Proses penulisan biografi Greysia Polii menggelinding kian intens. Saya dan BSW sepakat, tidak mungkin (dan tidak boleh!) menulis kisah hidup Greysia tanpa menguak kisah orangtua dan masa kanak-kanaknya. Untuk itu, dalam benak kami hanya terpikir satu jalan yang dapat ditempuh: mengunjungi Tomohon dan Manado, kampung Greysia Polii.

Jadilah. Pada pekan kedua April 2022, saya, BSW, dan Bang Rani terbang ke Manado. Misi kami sederhana: mewawancarai kakak Greysia, Adri Lomban yang “menemukan” bakat bulu tangkis Greysia, menggali kisah tentang almarhum ayah Greysia, dan mengunjungi rumah serta tempat Greysia mungil dulu berlatih.

Kami bertiga juga mengamini kalimat legendaris Steve Jobs yang dia comot dari sebuah majalah sains kesukaannya. Kalimat itu berbunyi “the journey is the reward”. Maka kami bertiga pun menikmati setiap momen yang terjadi dalam kunjungan ke Manado dan Tomohon demi menggali informasi penting bagi buku biografi Greysia Polii yang sedang kami susun.

Tiba di Mando, kami dijemput oleh Hershya Polii yang merupakan kakak kandung Greysia. Dari bandara, petualangan pun dimulai…

Hari pertama dibuka dengan menikmati kopi dan camilan khas Manado di sebuah kedai yang apik dan ramai. Belum lagi jam makan siang, namun kedai sudah dipadati pengunjung. Wajar. Kopi tubruk, kue cucur, dan tinutuannya memang enak! Tak banyak komentar, semua kami sikat sampai tandas.

Selepas menikmati kuliner khas Manado, kami bertolak ke Tomohon. Melintasi jalan berkelok yang menanjaki gunung, kami menikmati sejuknya udara. Kabut tipis turun dan menebal ketika sore menjelang, saat kami tiba di jantung kota Tomohon yang cantik. Bunga-bunga banyak dijajakan di kedai-kedai yang berjejer di tepian jalan utama.

Sore dan malam kami isi dengan mewawancarai Pak Vence. Dia adalah orang kepercayaan Willy Polii (almarhum papa Greysia) selama masih hidup dan menjalankan bisnis. Dari Pak Vence inilah kami mendapat banyak kisah dan informasi menarik soal masa kanak-kanak Greysia. Tanpa kisah yang dituturkan Pak Vence, rasanya biografi Greysia akan kehilangan satu bagian penting.

Malam itu kami menginap di Tomohon.

Esoknya, kami berkemas dan bertolak kembali ke Manado. Agenda utama hari itu ada 3: menemui Adri Lomban, melihat rumah masa kecil Greysia, dan melihat gedung olahraga tempat Greysia berlatih bulu tangkis. Semua agenda berhasil kami jalani dengan lancar. Sungguh beruntung!

Dari Adri Lombang kami mendapatkan kisah dan terutama penjelasan mengenai kultur orang Manado yang memang sejak dulu lekat dengan bulu tangkis. Kisah itu menjadi penting karena menguak sebuah tradisi lokal yang kami yakini punya sumbangsih besar pada pencapaian prestasi bulu tangkis Indonesia selama ini.

Melalui kunjungan ke Manado dan Tomohon ini, saya dan BSW sebagai penulis biografi Greysia Polii mendapat banyak sekali kisah dan data-data yang memang kami perlukan. Pada akhirnya, betullah kata-kata yang dituliskan Bre Redana, wartawan senior Harian Kompas, dalam salah satu artikelnya beberapa waktu lalu, bahwa menulis terutama adalah kegiatan kaki. Artinya, sang penulis harus berada di lokasi kejadian atau lokasi tempat kisah yang mau dia tuliskan berada. Bukan di kedai kopi entah di mana dan mengarang indah sambil sibuk bermain medial sosial.

Leave a comment