Skip to content Skip to footer

Pohon Tua Bicara Soal Kematian

Ngobrol bersama Pohon Tua selalu asyik. Entah itu di rumahnya yang asri, kedai kopi, bar, atau di sudut kafe sesaat sebelum dia manggung seperti yang semalam (3/8) kami lakoni di Hard Rock Cafe Jakarta. Obrolan selalu melintir dan menukik. Tidak pernah berjalan biasa-biasa saja apalagi membosankan! Bersama beberapa kawan, termasuk Endah Widiastuti yang nantinya menggila saat bermain gitar di nomor “Aku Bukan Mesin” bersama Marcello Tahitoe, kami bicara banyak hal, terutama soal kematian.

“Aku kalau mati nanti kepingin dikremasi,” tegas Pohon Tua. Kami yang mendengarnya tentu jadi penasaran. Terutama Endah. Dia mengejar penjelasan lebih dalam.

Namun seperti biasa, Pohon Tua bukanlah sosok yang hitam putih. Meminta penjelasan dari dirinya hampir selalu berakhir pada pertanyaan-pertanyaan baru. Kebingungan baru yang tiap saat malah bertambah luas. Justru di situlah asyiknya ngobrol bersama Sang Pohon. Dalam perspektifnya, tidak ada kebenaran tunggal. Semua punya dimensi rasanya masing-masing.

Saya ikut nimbrung soal kematian berhubung saat ini sudah separuh jalan membaca buku “Death: An Inside Story” karangan Sadhguru. Dengan berani, sampul buku itu dibubuhi kalimat “Sebuah buku yang sebaiknya dibaca oleh orang-orang yang pasti akan mati”.

Kita semua pasti mati, demikin Sadhguru menulis dalam bukunya itu. Namun anehnya, pembicaraan soal kematian ditabukan, bahkan dilarang! Kematian selalu kita tangisi dan hindari. Sungguh sama sekali tidak alami. Bagaimana mungkin kita menghargai dan menikmati setiap detik anugerah kehidupan kalau jauh di dalam hati kita menolak kematian? Diam-diam, kita semua memendam keinginan untuk hidup abadi. Bukankah begitu?

Saya, dan ternyata juga Pohon Tua, sama-sama meyakini bahwa kematian adalah pepesan kosong belaka. Sejatinya, tidak ada kematian. Kita begitu takut pada kematian karena kita memandang hidup hanya dari sudut pandang badaniah. Padahal, kita sesungguhnya adalah jiwa. Tubuh, pikiran, dan emosi kita hanyalah perangkat bagi jiwa kita untuk mewujud di dunia. Tidak lebih. Dan jiwa, silakan dicek dalam pemahaman spiritual mana pun, adalah sesuatu yang abadi.

Jadi, kematian hanyalah sebuah perpindahan dari dunia ini ke dunia berikutnya. Sebuah gerbang yang memang harus kita lewati untuk melanjutkan perjalanan jiwa kita yang tiada batas. Maka bergembiralah! Karena dengan demikian, kematian bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang indah.

“Yang penting bukan matinya,” lanjut Pohon Tua. “Tapi apa yang sudah kita perbuat selama hidup. Dengan segala bakat yang sudah dianugerahkan ke diri kita”. Dia berkata demikian sambil menggerakkan jemari kedua tangannya, seolah sedang memainkan gitar elektrik.

Sekali lagi, saya setuju. Sadhguru, dalam bukunya yang lain, memaparkan soal pentingnya memahami kehidupan. Dalam perspektifnya, yang penting adalah konteks, bukan konten.

Seorang CEO dan penyapu jalan kontennya jelas beda. Yang satu kaya raya, satunya sederhana atau malah kekurangan. Namun dalam konteks, keduanya bisa sama. Baik CEO dan penyapu jalan bisa sama-sama merasa bahagia dengan dirinya, terlepas dari apa profesi dan bagaimana tingkat ekonomi mereka.

Itulah satu-satunya hal yang penting dan layak diperjuangkan dalam hidup: kebahagiaan. Percuma kalau berlimpah harta namun hatinya tidak bahagia. Demikian juga sebaliknya. Alangkah mengerikannya hidup yang kere dan serba kekurangan kalau juga harus ditambahi dengan perasaan yang terus-menerus menderita.

Lalu, bagaimana caranya berbahagia?

Pohon Tua, dengan pemahamannya sendiri, menyatakan dengan sederhana: caranya bahagia adalah melatih dan memanfaatkan bakat yang ada dalam diri agar bermanfaat bagi umat manusia. Bagi semesta.

Dan malam itu, bersama Navicula yang baru saja merilis album teranyar berjudul Archipelago Rebel, Pohon Tua mengerahkan seluruh bakat, pengetahuan, dan kesaktiannya memainkan gitar elektrik, menghantam Hard Rock Cafe yang dipadati ratusan penonton, termasuk saya. Melihat bagaimana dia memainkan banyak solo guitar yang panjang, saya dengan yakin berani bilang, malam itu Pohon Tua benar-benar sedang berbahagia.

Leave a comment