Skip to content Skip to footer

“Legam”, Single Teranyar Pohon Tua

Legam. Serupa warna arang. Kiranya demikianlah situasi kebatinan teranyar Dadang Pranoto, musisi kawakan yang sudah dua dekade lebih menggawangi Navicula dan Dialog Dini Hari. Bagi siapa pun yang menyatakan dirinya penggemar musik indie, dua nama besar itu tentu tak asing lagi. Bahkan dihormati.

Dalam single terbarunya yang dirilis pertengahan September lalu, Pohon Tua menuangkan sejuta kegelapan batinnya ke dalam sebuah lagu berdurasi nyaris 8 menit. Ini sungguh di luar kebiasaannya, baik bersama Navicula, Dialog Dini Hari, dan proyek solonya sebelum ini. Ditambah lagi komposisi biola, piano, timpani, dan paduan suara yang disusun dengan demikian teliti. Legam, demikian single anyar ini diberi judul, secara sempurna menghadirkan nuansa mistis nan megah.

Gesekan biola yang menyayat hati jadi pembuka. Tak berapa lama, masuk suara piano yang bukannya berdenting malah menghentak seperti hujan kenangan yang menerpa kaca jendela. Di latar, perkusi berlari. Seolah ada sesuatu yang mengejar. Sebuah urusan yang belum selesai. Perasaan terdalam yang ditekan. Dikubur.

Tepat pada menit 2.40, alur musik berubah. Semua kini berderap. Mantap menderu, menuju bait pembuka yang seolah menjadi kulminasi pemikiran sang pemilik suara parau itu, Pohon Tua. “Aku lelah bicara tentang cinta/Untuk setiap kata yang berujung derita/” demikian dia bertutur, menumpahkan semua lelah.

Dan rupanya kelelahan itulah yang menjadi fokus komposisi luar biasa ini. Karena saat orkestrasi bunyi-bunyian magis ini tiba di ujung kisahnya, Pohon Tua bersatu dengan paduan suara di latar, berulang kali membisikkan mantra ini, “Aku lelah selelah-lelahnya/Aku rindu serindu-rindunya/”

Kalau ada yang bisa kita simpulkan dari perjalanan bermusik Pohon Tua yang sudah 25 tahun lamanya, itu adalah kebiasaan uniknya untuk selalu menerabas batas. Komitmennya untuk sepenuh jiwa melahirkan karya yang menolak tunduk pada status quo.

Leave a comment