Skip to content Skip to footer

Dan Sekarang, Yoga…

Bagi saya, 2022 sepenuhnya tentang yoga. Bukan yoga untuk kesehatan atau memaksa tubuh melintir seperti mi goreng sisa, melainkan yoga dalam makna sejatinya yang amatlah sederhana: penyatuan. Penyatuan apa? Penyatuan diri dengan alam semesta. Dengan seluruh penciptaan.

Itu semua dimulai dari kegelisahan. Dari keresahan yang konstan. Perasaan bahwa hidup saya mentok meski saya punya pekerjaan yang baik, keluarga yang patut dibanggakan, dan banyak hal lain yang bagi sebagian besar orang adalah tanda-tanda sukses yang nyata. Saya merasa hidup ini tidak bergerak ke mana-mana. Dalam gelimang kenikmatan hidup, saya malah menderita! Kesadaran itu menggelayut abadi. Menolak pergi.

Maka mulailah saya melihat ke dalam

Gerbang yoga dikuak oleh Nadia, seorang instruktur yoga berlisensi intetrnasional dan sekaligus sahabat saya, sekitar dua tahun lalu. Dialah yang dengan sabar mengenalkan saya pada berbagai asana dan manfaatnya. Mulanya tentu saja untuk kesehatan, mengingat kondisi tubuh yang payah sampai-sampai harus pasang ring jantung satu buah. Tidak ada secuil pun spiritualitas yang terbersit dalam pikiran saya waktu itu.

Namun dunia yoga yang tiada batas dibentangkan selebar-lebarnya oleh Sadhguru, sosok mistis dan visioner dari India yang terbilang kontroversial, kira-kira setengah tahun lalu. Sadhguru memang tidak untuk semua orang. Dialah yang menyalakan kesadaran saya bahwa hidup sejatinya adalah kebahagiaan tanpa batas. Bahwa manusia sepenuhnya mampu memerdekakan diri dari segala macam penderitaan. Kebahagiaan adalah kondisi dasar manusia. Bukan sebuah tujuan, apalagi tujuan yang sulit dicapai sehingga harus mati-matian diperjuangkan. Kebahagiaan adalah situasi harian yang sama normalnya dengan tarikan nafas.

Sekali kesadaran saya muncul, seolah tiada jalan kembali. Upaya saya melihat ke dalam yang semula tersendat dan seperti tiada arah, mendadak jadi demikian kencang dengan arah yang sangat pasti: penyatuan. Jangankan orang lain, saya sendiri pun terkejut melihat betapa mudahnya saya bertransformasi.

Contoh sederhana adalah soal bangun pagi. Empat puluh lima tahun saya hidup sebagai makhkluk yang malas bangun pagi. Bukan sekadar malas, saya merasa rugi kalau bangun pagi! Seperti ada jatah tidur yang dirampas. Namun kini, dengan mudah saya terbangun jam 4 pagi untuk yoga. Tiap hari. Tidak ada rasa keberatan sedikit pun.

Menu makan pun berganti. Buah dan sayur segar masuk, mengambil alih sebagian besar porsi makan harian saya. Dan bunga. Ya, bunga! Bukan untuk dimakan, tentu saja. Namun diletakkan di ruang tamu dan kamar tidur, karena kehadirannya membawa nuansa tenang yang tak terbantahkan.

Satu hal lagi. Saya jadi sadar transaksi yang terjadi antara paru-paru saya dan pepohonan di sekitar. Tanpa disadari, tiap momen saya bertukar nafas dengan dedaunan. Apa yang mereka keluarkan saya ambil, apa yang saya keluarkan mereka ambil. Kesadaran itu menampar kesombongan yang selama ini mengakar dalam diri, bahwa saya adalah individu yang tidak perlu bantuan siapa-siapa untuk berhasil. Saya kuat dan mampu. Ah, ternyata nafas yang merupakan penopang utama kehidupan saya sepenuhnya bergantung pada pepohonan!

Namun pengalaman terhebat yang saya rasakan adalah sadhana. Meditasi. Seni berdiam diri. Isha Kriya yang saya lakukan sehari dua kali, jam 4 pagi dan malam hari sepulang kerja, sangatlah sederhana. Jangankan orang sehat dengan tubuh yang kuat, orang yang semaput pun saya yakin dapat melakukannya dengan enteng. Namun demikian, kesadaran yang dilahirkan dari Isha Kriya sangat mampu meruntuhkan pemahaman saya tentang hidup. Pemahaman usang yang sudah menjerat saya pada demikian banyak kemarahan dan kesedihan. Pada penderitaan yang sebetulnya sama sekali tidak perlu saya alami.

Fungsi paling mendasar dari Isha Kriya adalah membangun kesadaran bahwa diri kita bukanlah tubuh kita dan bukan juga pikiran kita. Sekali jarak antara diri dengan tubuh dan pikiran terbentuk, maka teranglah semua aspek kehidupan ini. Runtuhlah ratusan bahkan ribuan identitas diri yang sejatinya adalah omong kosong yang kita cekokkan ke dalam pikiran kita tiap hari, sepanjang hidup ini. Betapa konyol semua penderitaan yang sejatinya bersumber dari pikiran kita sendiri. Dari identitas omong kosong itu! Dari kenangan akan luka-luka batin masa silam dan imajinasi tentang kekhawatiran masa mendatang.

Isha Kriya, bagi saya, adalah gerbang ke dimensi lain dalam hidup. Sebuah dimensi yang di dalamnya segala bentuk penderitaan sirna. Dimensi yang lucunya sesungguhnya ada di sini, saat ini. Hanya saja selama ini saya abai dan tidak mampu menyentuh dimensi itu. Di dimensi itu hanya ada penyatuan yang indah. Mahaluas dan abadi.

Memasuki 2023, saya dengan santai bisa bilang, hidup adalah anugerah terindah. Bukan sekadar kata-kata puitis omong kosong, melainkan kesadaran penuh yang kini saya jalani tiap hari. Apa pun yang terjadi di luar diri, tidak akan mengurangi kesadaran itu sedikit pun. Kebahagiaan saya sepenuhnya berada dalam kendali diri saya sendiri. Bukan di tangan orang lain. Bukan pula dipertaruhkan pada situasi dunia yang terus-menerus berganti.

Adalah harapan saya kiranya semua orang akan sampai pada kesadaran seperti ini melalui upayanya masing-masing. Sebuah upaya melihat ke dalam diri yang saya yakin adalah upaya sunyi dan bahkan tanpa kepastian yang memang harus dititi oleh setiap insan.

Leave a comment