Respito Bersimpuh dalam Bunyi

“Hampura (2012)”, single terbaru milik Respito, membawa kita pada cakrawala bunyi yang sama sekali berbeda dari lagu-lagu yang termuat di album pertama mereka yang berjudul “Jalan Menuju Surga (2010)”.

 

 

Tidak banyak distorsi. Nyaris tak ada ledakan.

“Hampura”, bagi saya, terasa seperti gelombang besar yang perlahan menyapu. Menyeret semua kenangan. Menghempaskan jiwa ke pantai sepi perenungan.

Ya, single ini memang bercerita tentang perenungan hidup. Tentang penyesalan akan segala dosa dan kesalahan. Permohonan ampun kepada Yang Maha Kuasa.

Hampura. Meminta maaf.

Intro murungnya menarik tangan kita. Mengajak berjalan pelan di padang rumput berwarna emas. Di bawah matahari sore, mengenang semua yang telah lalu.

Seperti sebagain besar cerita hidup kita, semua berjalan lambat. Ditingkahi sitar Jawa yang terdengar di kejauhan.

Sayatan pedih bow kemudian membelit, menerbangkan jiwa pada sesal. Pada semua salah yang tak bisa diubah. Pada cerita hidup yang tak bisa diputar kembali.

Meski luar biasa mengawang-awang, saya tidak merasakan kegelapan dalam “Hampura”. Perenungan dan penyesalan rupanya bisa mengambil bentuk murung nan megah. Tanpa perlu terperangkap dalam gelap.

Lalu ada seruling. Juga pukulan drum yang berderap. Rangkaian ombak yang membawa kita pada badai terakhir dari lagu berdurasi 8 menit ini.

Badai suara hati dan pikiran kalut berupa jeritan vokal dan ledakan musik yang menyatu. Bergulung. Menghantam tanpa ampun, sampai semuanya berhenti.

Berhenti di keheningan yang diisi dentang bel kematian…

Catatan: Download lagu “Hampura”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *