Petualangan ke Gunung Semeru

Ini adalah kenangan akan petualangan. Sepuluh tahun lebih muda dan 15 kg lebih ringan yang lalu 🙂

 

Pukul 5 pagi.

Ranu Pani, danau vulkanik berketinggian 2.200 m dpl di kaki gunung Semeru, Jawa Timur diselimuti kabut tebal. Udara dingin menusuk tulang. Sinar matahari belum menampakkan diri. Embun membeku di permukaan tenda, kulit kayu, dan ujung-ujung daun. Sunyi. Bening. Luar biasa menenangkan…

 

Ranu Pani, 2.200 m dpl (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Dua hari sebelumnya, petualangan ini dimulai dari stasiun kereta rakyat di Senen, Jakarta.

Semalam penuh kami terperangkap dalam kereta terkutuk, melintasi jalur Jakarta-Surabaya. Pagi keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus antar kota menuju Malang. Kami pindah ke angkutan kota untuk sampai ke Tumpang. Dari sana, kami menumpang jip yang sudah dimodifikasi mesinnya, mendaki jalan sempit dan terjal menuju pintu masuk ke gunung Semeru.

Jip itu, demi Tuhan, seperti terbang di atas jalan terjal berdebu, sementara jurang-jurang sedalam ratusan meter menganga, siap menelan kami semua yang hanya bisa terdiam, pucat, dan kehilangan senyum gembira. Nasib kami semua, saat itu, berada di ujung jemari dan kaki supir jip, yang sepertinya tidak pernah sedikit pun takut mati!

 

Sarungan is The Best! (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Pagi di Ranu Pani, hari pertama pendakian, benar-benar sempurna. Matahari, ketika akhirnya menampakkan diri, bersinar cerah. Embun dan udara dingin segera berlalu. Setelah sarapan dan berbenah, kami mulai menapakkan kaki menuju target pertama siang itu: Ranu Kumbolo!

Diantara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo terbentang jarak kurang lebih 9 km. Tentu saja tidak dalam bentuk jalan datar, melainkan jalan setapak menembus semak dan hutan yang mendaki dan penuh kelokan. Namun demikian, perjalanan yang memakan waktu nyaris 4 jam penuh itu rasanya tidak sepadan dengan keringat yang mengucur deras, karena kami hanya menambah ketinggian sebesar 200 m dpl.

Ranu Kumbolo, sejauh apapun jaraknya dari gerbang masuk pendakian gunung Semeru, ternyata “hanya” berada di ketinggian 2.400 m dpl!

Setelah cukup lelah menembus hutan dan terpanggang matahari, kami melintasi semak dan jalan menurun. Di balik kelokan tajam, seolah muncul dari dalam bumi, terbentanglah danau vulkanik yang besar dan indah itu, Ranu Kumbolo.

Permukaan airnya yang beriak terkena angin gunung memantulkan bayangan bukit-bukit, pohon, dan langit. Menapaki jalan menuruni bukit terasa menjadi luar biasa indah, dengan Ranu Kumbolo terhampar di bawah. Membisu. Seolah tertidur dengan nyaman dalam belaian matahari Semeru yang semakin tak kenal belas kasihan.

 

Ranu Kumbolo, 2.400 m dpl (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Sebagian besar pendaki akan memutuskan untuk menikmati keindahan Ranu Kumbolo dengan bermalam di tepiannya. Tapi kami sudah memutuskan sejak awal pembuatan manajemen perjalan di kampus UI Depok, bahwa kami hanya akan istirahat makan siang saja di sana dan melanjutkan pendakian ke wilayah gunung Kepolo (jika saya tidak salah mengingat namanya).

 

Semburan asap kawah Semeru dilihat dari Ranu Kumbolo (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Tepat setelah Ranu Kumbolo terdapat sebuah tanjakan panjang yang disebut Tanjakan Cinta. Ya, betul! Legenda pendakian menyebutkan bahwa jika seorang pendaki berhasil melewati tanjakan ini tanpa berhenti sekali pun, maka cintanya pada siapa pun yang saat itu tengah disasar akan kesampaian.

Namun seperti sebagian besar legenda lainnya, yang satu ini juga terbukti sebagai omong kosong belaka, hahaha!

Adalah hamparan padang rumput dan perbukitan raksasa di balik Tanjakan Cinta itu yang membuat saya terpesona. Oro-oro Ombo, demikian penduduk lokal menyebutnya. Hamparan padang rumput yang luar biasa luas, sehingga saya merasa sebagai sebuah jarum dalam tumpukan jerami, ketika melintasinya dari badan bukit yang rebah di sisinya.

Oro-oro Ombo adalah nama yang terdengar seksi untuk sebuah pemandangan alam liar Indonesia yang memang sesungguhnya terlihat dan terasa luar biasa seksi. Oro-oro Ombo. Okh!

 

Oro-oro Ombo (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Senja menjelang dan matahari kehilangan kekejamannya. Setelah melewati hamparan rumput yang terang-benderang dan penuh angin, kini kami kembali ke teduhnya hutan pinus dan pohon-pohon besar. Gunung Kepolo. Di sanalah kami mendirikan tenda dan bermalam.

Malam itu berlalu dengan tegang karena si Pandir a.k.a M. Arief Lukman dengan nomor mesin G9601UI, seperti biasa, mengeluarkan ide-ide cerita mengenai binatang buas yang menurutnya berkeliaran di wilayah ini pada malam hari, mencari air. Ide-ide yang, untungnya, tidak pernah terbukti menjadi kenyataan 🙂

 

Gunung Kepolo (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Keesokan harinya kami melanjutkan pendakian menuju Kalimati. Itu adalah nama dataran luas terakhir di ketinggian 2.700 m dpl, sebelum kami memasuki leher gunung Semeru yang terjal hingga ke puncak. Setelah Kalimati, tidak lagi tersedia tempat bermalam yang luas. Hanya satu dua lokasi sempit tempat kita bisa mendirikan tenda dome berkapasitas 4-6 orang. Tidak lebih.

Saya kurang paham apakah nama Kalimati berasal dari matinya sumber air yang dulu ada di lokasi itu. Medan pendakian memang menjadi terjal dengan jurang-jurang yang cukup dalam, yang tampaknya dulu bisa saja adalah aliran sungai. Yang jelas, ketika kami melewatinya tahun itu, tanah di jalur pendakian demikian rapuh sehingga mudah longsor dan menyebabkan debu hitam beterbangan di udara, sepanjang perjalanan.

Debu vulkanik yang masuk ke hidung dan nyelip di kelopak mata, longsoran tanah kering dan kerikil, kelelahan yang memuncak, serta sinar matahari yang membakar kepala adalah resep ampuh untuk menghancurkan semangat pendakian.

Bahkan pada waktu itu, ketika berat badan saya hanya 70 kg dan saya masih sanggup berlari sejauh 7 km tanpa henti, jalur pendakian Kalimati ke Arcopodo terasa menyiksa. Gunung jahanam!

 

Pos Kalimati 2.700 m dpl (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Bagi yang suka bunga, di hamparan pasir Kalimati cukup banyak tumbuh Edelweis berwarna kuning. Bukan bunga terhebat di dunia, jika boleh disebut begitu. Meski tentu saja, ribuan pendaki gunung dari golongan kutu kupret cukup sering memetiknya untuk dijadikan oleh-oleh pendakian. Yah, namanya juga kutu kupret!

 

Edelweis. Bunga abadi (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Kami mencapai Arcopodo beberapa saat setelah jam makan siang lewat. Kelelahan setengah mati, kami segera menyiapkan makan dan beristirahat.

Matahari cepat sekali tergelincir. Tak buang waktu, kami mendirikan tenda, menyiapkan perlengkapan untuk summit attack dini hari nanti, dan memasak makan malam.

Dengan jadual summit attack yang ditetapkan akan dilakukan pada pukul 02:00 dini hari, kami berniat untuk tidur cepat malam itu. Tapi apa daya, alih-alih tidur cepat, kami semua tak henti main gaple dari sore hingga larut malam, hahaha!

 

Main gaple di ketinggian (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Summit attack, seperti direncakan semula, dijalankan tepat pukul 02:00. Jangan ditanya dinginnya udara yang menerpa! Dengkul dan gigi bergemeretak tiada henti. Hanya impian manis untuk menikmati sunrise di puncak tertinggi se-pulau Jawa yang membuat kami rela menanggung itu semua.

Puncak Semeru, kami dataaannnggg!!!

 

Selamat datang di… Mordor! (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Terjal dan mengesalkannya jalur pendakian Kalimati-Arcopodo tidak ada apa-apanya dibanding jalur pendakian Arcopodo-puncak Semeru.

Di bagian akhir pendakian ini, yang kami lakukan tanpa membawa ransel (hanya makanan kecil, air, senter, dan perlengkapan P3K), tanah dan kerikil nyaris selalu luruh ketika dipijak. Alhasil, kami harus mendaki dengan cepat dan menemukan tempat berpijak yang kokoh agar tidak ikut terbawa longsor ke bawah bersama luruhan kerikil-kerikil itu. Benar-benar melelahkan!

Namun kelelahan itu semua kehilangan relevansinya ketika akhirnya kami semua berhasil mencapai puncak gunung Semeru (3.676 m dpl) beberapa puluh menit sebelum sunrise. Bersama, dalam dingin dan kebisuan yang mengharukan, kami berdiri dan menanti hadirnya matahari baru dari titik tertinggi di pulau Jawa.

Pemandangan dan pengalaman seperti itu kawan, tidak akan pernah bisa diceritakan dengan sempurna, baik melalui kata-kata maupun gambar.

Soe Hok Gie boleh berpuisi dan menulis bahwa ia mencintai gunung karena ia mencintai keberanian hidup. Saya sih sederhana saja. Saya mencintai gunung karena keindahan, ketenangan, dan keharuan yang diberikannya, setiap kali saya datang mendaki.

 

Hari baru merekah (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Puncak Semeru, sialnya, tidak bisa dinikmati terlalu lama. Sebelum pukul 10:00 pagi semua pendaki harus turun dan meninggalkan kawasan puncak agar terhindar dari kabut gas beracun yang disemburkan oleh kawahnya.

Dua minggu sebelum kami menjejakkan kaki disana, kabarnya seorang ahli vulkanologi AS meninggal dunia akibat kepalanya terkena batu pijar yang terlempar dari perut kawah! Barangkali dia terlalu bersemangat dengan profesinya dan melupakan bahaya maut yang tak pernah lelah mengintai, bersembunyi di balik keindahan Semeru.

 

Di balik keindahan, tersembunyi bahaya mematikan (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Setelah dua jam penuh berbagi kegembiraan dalam gigitan udara dingin yang membekukan tulang, kami bergegas turun. Dari puncak Semeru, kami bisa melihat jalur pendakian yang terhampar di bawah, yang selama 3 hari terakhir telah menguras keringat, tenaga, dan semangat kami semua.

Luar biasa jarak yang bisa ditempuh oleh langkah-langkah kecil manusia, bukan?

 

Gunung Kepolo dilihat dari puncak Semeru (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Sore hari kami sudah menapakkan kaki kembali ke Ranu Kumbolo. Kali ini kami bermalam di tepiannya dan menikmati semua keindahan yang ditawarkan oleh danau vulkanik itu.

Entah karena efek gas beracun, terlalu lama terpanggang sinar matahari, atau memang sudah bodoh dari sananya, kami memutuskan untuk merayakan keberhasilan pendakian kali ini dengan: berenang di lengketnya air Ranu Kumbolo yang dingin seperti es!

 

Bukan untuk berenang. Itu pasti! (foto oleh M. Bayu Andhika)

 

Semeru, terima kasih atas semua keindahan yang telah kau berikan…

2 thoughts on “Petualangan ke Gunung Semeru”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *