6 Konser yang Akan Selalu Saya Kenang

Berikut ini adalah 6 konser yang pernah saya hadiri, yang begitu berkesan sehingga rasanya akan selalu saya ingat selamanya. Sebagian karena kualitas konsernya, sebagian lain karena nilai sentimentilnya belaka 🙂

 

1. Exodus

 

Bersama Dhia & Davro di Konser Exodus

 

29 September 2010. Ini adalah konser metal paling asyik yang pernah saya datangi. Tapi, tentu saja, saya jarang sekali menghadiri konser metal. Jadi, barangkali ini opini yang standar kualitasnya tidak terlalu tinggi.

Exodus, terlepas dari tak satu pun lagu mereka yang saya tahu, menyajikan thrash metal dalam format terbaiknya. Setidaknya menurut definisi yang saya pahami. Keras, seru, penuh energi, dan tak ada basa-basi.

Gitar menderu tiada henti. Gaungnya memantul di aspal keras Plaza Selatan Senayan. Rob Dukes dan Gary Holt jelas yang paling maut!

Keringat berkejaran dan detak jantung berpacu. Semua, tanpa terkecuali, berlari seperti orang gila, dalam sebuah circle pit yang sangat besar, yang meledak sesaat setelah ritual wall of death. Yeah!

 

2. Navicula

 

Navicula di Prost Beer Kemang

 

13 April 2009. Kafe reyot bernama Prost Beer House di Kemang meledak!

Audiens yang menyesaki lubang neraka itu berlompatan, berteriak, dan melepaskan semua energi. Di panggung, menyuarakan nada-nada keras (yang anehnya) penuh harmoni, Navicula menghantam tak kenal belas kasihan.

Itu adalah perkenalan perdana saya dengan mereka, kumpulan grunge kepala batu asal Bali. Sebelumnya saya hanya sempat menicicipi “Televishit” yang masuk dalam album kompilasi garapan Pearl Jam Indonesia (PJID) berjudul “Not for You”.

Sejak malam itu hingga hari ini, saya sudah menghadiri 20 konser mereka. Di panggung raksasa, kafe reyot yang besoknya tenyata gulung tikar, atau dalam momen-momen pribadi.

Navicula, sampai hari ini, adalah definisi grunge terbaik yang dimiliki negeri ini.

 

3. Pearl Jam Nite II

 

Poster PJ Nite II oleh Hilman

 

1 Desember 2006. Front Row, Senayan, jadi saksi betapa event musik kelas kambing dengan tema tribute pun bisa menjadi sangat menyenangkan!

Nugie, Ipang, Edwin, dan beragam nama besar musik rock Indonesia lainnya jadi satu di panggung sempit. Bersama audiens yang sepertinya telah kehilangan akal sehat, bernyanyi sepanjang malam. Apalagi kalau bukan lagu-lagunya Pearl Jam?

Inilah konser yang membuat saya, sampai detik ini, betah berkecimpung dalam kelompok kecil manusia-manusia aneh yang menyebut dirinya Pearl Jam Indonesia (PJID).

Termasuk konser malam itu, total sudah 6 Pearl Jam Nite yang sukses digelar. Empat di Jakarta, sementara dua lagi di Bandung.

Omong-omong, kapan ya Pearl Jam Nite VII bakal digelar?

 

4. Stereophonics

 

Bersama Icha di JRL 2010

 

Siapapun yang hadir dalam konser Stereophonics di Java Rockin’land 9 Oktober 2010 pasti bilang bahwa merekalah yang terbaik. Bagi saya, dari 3 perhelatan Java Rockin’land yang sudah sukses digelar, merekalah yang terbaik! Dari semuanya.

Orang boleh bilang bahwa vokal Kelly Jones berbau whiskey. Terseret malas. Serak dan seksi. Tapi staying power-nya, tak diragukan lagi, layaknya tim bola Jerman. Gak ada matinya!

Satu setengah jam bersama Stereophonics di bawah udara malam Oktober yang berangin itu menjadi salah satu momen terbaik dalam petualangan konser saya.

 

5. Stone Temple Pilots

 

Stone Temple Pilots Meet n’ Greet 2011

 

Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang Scott Weiland, selain agar dirinya bisa bernyanyi dengan sempurna? Dengan catatan kasus obat bius yang seperti tiada akhir, rasanya mustahil menghadiri konser Stone Temple Pilots yang berlangsung lancar, dengan performa vokalis prima.

Namun Jakarta, 13 Maret 2011 melihat betapa semua yang mustahil bisa benar-benar jadi kenyataan. Stone Temple Pilots tampil penuh energi dan Scott Weiland bernyanyi nyaris tanpa cacat!

Ditambah kenyataan bahwa sebelum konser saya sempat bertemu dan berfoto dengan seluruh personil Stone Tempel Pilots di belakang panggung, apalagi yang kurang?

 

6. The Misfits

 

Merecoki The Misfits Makan Malam

 

10 April 2010. Pantai Karnaval, Ancol.

Ini bukan soal punk. Bukan juga soal hingar bingarnya konser rock. Bagi saya, kesan terbaik dari The Misfits terjadi dini hari, setelah konser selesai dan semua orang pulang ke rumah, di restoran yang sepi.

Dalam kesunyian restoran itu, saya mendapati bahwa Jery Only, pendiri asli The Misfits, menghabiskan sisa hari dengan orang-orang terdekatnya. Anggota band dan anak laki-lakinya.

Pesan itu begitu keras menggema. Bahwa pada akhirnya, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, yang punya arti paling penting adalah orang-orang terdekatmu. Lainnya tidak.

2 thoughts on “6 Konser yang Akan Selalu Saya Kenang”

  1. Beruntung banget lu bos bisa meet & greet sama STP, gw aja nonton didepannya Robert senengnya bukan maen, apalagi lu yak.
    Lucky bastard!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *