Category Archives: Media

Opini dan analisis terkait perkembangan media, terutama digital subscription business di Indonesia dan dunia,

Newsweek: The Beginning of The End?

“Kami menilai bahwa saat ini cara yang paling efektif dan efisien dalam menjangkau pembaca adalah melalui format digital,” demikian Tina Brown, chief editor Newsweek menulis dalam memonya, 18 Oktober 2012 yang lalu.

 

Cover Newsweek edisi 24 September 2012

 

Bersama memo itu juga diumumkan bahwa per 31 Desember 2012 nanti, Newsweek akan menghentikan publikasi cetaknya. Tahun 2013 akan melihat munculnya Newsweek baru yang hanya dipublikasikan dalam bentuk digital berbayar.

Apa yang terjadi? Apakah Newsweek merugi besar-besaran? Apakah industri majalah cetak sudah demikian buruk performanya? Atau, lebih parah, apakah media cetak, apa pun bentuknya, memang sudah mendekati ajalnya?

Berdasarkan laporan tahunan dari Audit Bureau of Circulation, jumlah oplah majalah cetak di Amerika Serikat tahun 2011 yang lalu turun 1% dibanding tahun sebelumnya. Empat tahun terakhir, oplahnya memang terus turun.

Sementara jumlah pelanggan boleh dibilang tetap, pembeli majalah eceran terjun bebas. Selama empat tahun terakhir, jumlahnya terus turun drastis. Terakhir, pada 2011, jumlah pembeli majalah eceran berkurang 9% dibanding tahun sebelumnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa majalah cetak di Amerika Serikat memang terus-menerus kehilangan audiensnya. Industri ini sedang memasuki masa gelap.

Bagaimana dengan Newsweek? Kondisinya bahkan lebih mengerikan!

Tahun 2007, oplah Newsweek dilaporkan sebanyak 3,1 juta eksemplar. Tahun 2010, ketika Washington Post Co menjualnya kepada Sidney Harman, oplahnya sudah terjun bebas ke angka 1,8 juta eksemplar. Kini, oplah Newsweek yang tersisa sekitar 1,4 juta eksemplar saja.

Oplah 1,4 juta eksemplar, yang notabene masih terhitung sangat banyak itu, apakah tidak cukup untuk menghidupi Newsweek?

Menurut Tina Brown, tidak!

Format cetak, menurut chief editor ini, terlampau mahal untuk dipertahankan. Setidaknya dibutuhkan dana US $ 42 juta hanya untuk mencetak dan mendistribusikan Newsweek.

Jumlah oplah yang terus mengecil serta biaya cetak dan distribusi yang besar (dan kecenderungannya terus meningkat) bukanlah akhir dari mimpi buruk Newsweek. Mimpi itu semakin mengerikan dengan kenyataan bahwa pendapatan iklan majalah cetak di Amerika Serikat, sama seperti oplahnya, juga mengalami penurunan.

Publishers Information Bureau melaporkan bahwa, dari 213 majalah yang mereka pantau, terjadi penurunan jumlah halaman iklan sebesar 3,1% di tahun 2011, dibanding tahun sebelumnya.

Maka jelas, secara nalar, keputusan menutup Newsweek edisi cetak dan kemudian menerbitkannya hanya dalam format digital berbayar, berdasarkan pertimbangan biaya operasional dan masa depan bisnis, adalah benar. Atau, setidaknya, masuk akal.

Masalahnya, manusia tidak melulu soal nalar. Manusia punya sisi romantis yang hampir selalu tidak masuk akal. Sisi tidak rasional yang, sialnya, justru menentukan value dari segala sesuatu dalam hidup ini.

Newsweek format digital jelas efektif dan efisien. Namun, apa yang terjadi dengan brand value Newsweek ketika dia hanya hadir dalam bentuk digital? Apakah ia akan punya value yang, setidaknya, sama dengan format cetaknya?

Sebagai peminum kopi, saya tidak rela mengeluarkan uang sepeser pun untuk produk kopi sachet. Kopi seperti itu, bagi saya, tidak ada value-nya sama sekali. Namun saya, meski tidak selalu, cukup rela merogoh kocek dan mengeluarkan Rp.30.000 untuk secangkir kopi nusantara yang disajikan dengan cara yang baik dan benar.

Newsweek format digital, juga terobosan-terobosan media cetak di dunia digital lainnya, akankah semua menjadi kopi sachet?

Berpacu dalam… SongPop!

Generasi saya (baca: rada tua) gemar menganggap generasi sekarang kurang pengetahuan dan kurang ikatan emosional pada musik. Penyebabnya sederhana: generasi sekarang menikmati single dalam format MP3 (yang umumnya berkualitas rendah), bukan album.

 

 

Penulisan judul lagu, nama artis, dan atribut lainnya dalam MP3 kualitas rendah sudah barang tentu payah. Tak mengapa. Bagi generasi sekarang, atribut-atribut seperti itu memang tidak dianggap perlu.

Bagi musisi, fenomena tersebut tentu saja berdampak sangat buruk. Lagu mereka bisa saja meledak, namun mereka tidak dapat uang sepeser pun karena MP3 yang beredar umumnya adalah produk bajakan.

Dan yang lebih mengerikan, musisi tersebut tetap tidak dikenal dengan baik oleh audiensnya yang asyik menikmati karya mereka secara gratis dan melanggar hukum!

Nah, entah sengaja atau tidak, sebuah game bernama SongPop saat ini beredar luas di kalangan pengguna smartphone. Game dengan tema utama pengetahuan musik berbagai genre dan periode yang dibuat oleh FreshPlanet ini dapat dimainkan di platform Android maupun iOS. Juga di Facebook desktop.

Game ini, menurut saya, akan punya dampak yang sangat baik bagi musisi di seluruh dunia. SongPop dapat menjadi gerbang bagi generasi sekarang untuk lebih mengenal musisi, baik yang sedang tenar saat ini maupun yang berasal dari masa lalu. Juga sebaliknya. Semacam efek Glee, namun lebih orisinil.

SongPop mengharuskan pemainnya melakukan duel untuk menebak judul atau penyanyi dari sebuah lagu dalam sebuah playlist. Semakin cepat dia menjawab dengan benar, semakin tinggi skornya. Rekam jejak kemenangan dan kekalahan duel juga tercatat selama periode tertentu.

Sepertinya SongPop adalah game yang menyenangkan dan sangat kompetitif ya?

Saya sih tidak begitu peduli. Saya bahkan tidak memainkan game ini.

Namun demikian, saya yakin sekali jika semua pemain SongPop akan merambah musik dari genre atau periode yang sebelumnya tidak pernah mereka nikmati. Mereka akan melakukan itu semua atas nama petualangan, tantangan, dan ego untuk jadi yang nomor satu. Si serba tahu soal musik.

Itu, jika benar terjadi, akan bermuara pada satu hal saja: semua orang yang memainkan SongPop akan semakin luas pengetahuan musiknya. Yah, jika setelah tahu masih tetap tidak tertarik untuk membeli, itu persoalan lagi lagi, hahaha!