Tag Archives: kedai kopi

Kedai Kopi: Phoenam Makassar

“Kopi Phoenam menggunakan campuran dari berbagai jenis kopi dari seluruh wilayah Sulawesi,” demikian Pak Alex menjelaskan kepada saya. Beliau adalah pemilik kedai kopi Phoenam Makassar yang legendaris itu.

 

 

Di siang hari bulan Januari yang panas itu saya berkesempatan mampir ke kedai kopi Phoenam. Untuk apa lagi jika bukan mencicipi secangkir kopi susu dan seporsi roti bakar srikaya?

Kopi susunya agak terlalu keras untuk ukuran lidah saya. Sedikit terlalu pahit juga. Dengan terpaksa, saya tuangkan sedikit gula pasir tambahan ke dalamnya. Sempurna!

Roti srikayanya, tebal dan gurih. Cukup makan satu saja. Lebih dari itu, sepertinya perut akan terasa kelewat penuh.

Kedai kopi Phoenam sendiri berlokasi di sebuah jalan kecil di kawasan pemukiman Cina di Makassar. Nama jalan itu adalah Jampea. Tidak sulit menemukannya. Lagi pula, banyak orang di pinggir jalan yang bisa ditanyai soal lokasi kedai kopi legendaris ini.

Dengan bangga Pak Alex bercerita bahwa kini kedai kopi Phoenam sudah berdiri juga di Jakarta (2 kedai) dan di Yogyakarta (1 kedai). Saya sendiri  sempat mampir ke kedai yang di Yogyakarta, setelah kunjungan ke Makassar ini. Menunya sama.

Dia juga membeberkan rahasia racikan kopi di kedai Phoenam Jakarta. Begini katanya: “Orang Jakarta minum kopi lebih untuk menikmati aromanya, bukan kekuatan badan kopinya.”

“Mereka gemar minum kopi malam-malam. Jadi, supaya mereka puas dan tidak sulit tidur setelah ngopi, maka saya campur aroma kopi Mandailing dengan cita rasa kopi Sulawesi untuk pangsa pasar Jakarta,” demikian ia melanjutkan. Brilian!

Sebelum berpisah, ketika saya membungkus dua kantong bubuk kopi Phoenam untuk dibawa pulang, Pak Alex memberi tip seduh andalannya. “Seduh dengan air mendidih! Lain dari itu, gak akan keluar karakter kopinya.”

Siap, Pak!

Kedai Kopi: Javva Coffee

Bacang telur asin ukuran jumbo dan kopi Encek yang keras menantang. Itu adalah menu yang layak dicicipi jika kamu berkesempatan mampir ke kedai kopi mungil di Jl. Senopati 71-73, Jakarta Selatan. Nama kedainya Javva Coffee.

 

Javva Coffee (foto diambil dari Cikopi.com)

 

Kopi Encek pada dasarnya adalah kopi susu. Rasanya tidak beda jauh dibanding Vietnamese coffee. Menggunakan jenis kopi Arabika atau Robusta, silahkan pilih sendiri.

Namun harap dimaklumi bahwa racikan kopi Encek menggunakan bubuk kopi 3 kali lebih banyak dibanding racikan kopi biasa, sehingga kafeinnya juga berlipat ganda. Jika tak ingin kena serangan naiknya debar jantung secara mendadak, sebaiknya pilih kopi Encek dengan jenis Arabika saja.

Bagi saya, Javva Coffee punya cerita dan nilai tersendiri. Di kedai inilah pertama kali saya mengenal metode seduh pour-over. Metode seduh sederhana yang di kemudian hari menjadi pilihan utama saya untuk menghasilkan secangkir kopi hitam yang lembut, berkarakter, dan elegan.

Javva Coffee, selain menyediakan kopi berkualitas baik dengan harga yang sangat terjangkau, juga menjual berbagai perlengkapan seduh kopi. Surga kecil bagi orang yang baru mulai belajar mengenai kopi, seperti saya.

Kedai mungil yang bersih dan sunyi, pilihan berbagai kopi dari penjuru Indonesia, dan petugas kedai yang pandai menjelaskan hampir tentang segal hal terkait kopi. Javva Coffee rasanya adalah pilihan yang paling masuk akal sebagai tempat menepi saat kemacetan sore Jakarta menerkam.

Kedai Kopi: Takkie Petak 9

Semua bermula dari Pak Bondan. Punya rencana jalan-jalan kuliner ke Petak 9, Kota, bersama kumpulan Pearl Jam Indonesia (PJID), saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau, menu makan siang apa yang kira-kira layak dicoba disana. Salah satu jawabannya adalah: es kopi di kedai Takkie.

 

Es Kopi Kedai Takkie (foto oleh Melissa Ika Sandra)

 

Sekitar jam makan siang, setelah kami lelah dan kepanasan jalan-jalan di tengah pasar, kami mampir ke kedai Takkie.

Untuk ukuran kedai di tengah pasar, lebih tepatnya di gang sempit bernama Gloria, kedai itu cukup luas. Mampu menampung 30 orang lebih.

Menu minuman utama di kedai legendaris itu ada dua: kopi hitam dan kopi susu. Keduanya disajikan dengan es, dalam gelas besar. Kami mencoba keduanya.

Es kopi susunya, meski lumayan enak, saya anggap biasa saja. Menurut selera lidah saya, masih lebih lezat es kopi Vietnam di Kopi Tiam Oey atau Pho 2000.

Di kedai Takkie, es kopi hitamlah yang jadi juara! Gurih, lembut, pahitnya terasa pas di lidah, dan (anehnya) segar! Di teriknya matahari, segelas es kopi hitam Takkie terasa luar biasa nikmatnya!

Tanya punya tanya, es kopi Takkie menggunakan kopi Lampung. Saya duga dari jenis Robusta, karena pahit dan kadar kafeinnya terasa kuat sekali. Bubuk kopi dijerang dalam sebuah panci besar. Dari situlah kemudian kopi disajikan ke gelas-gelas yang sudah diisi kepingan es terlebih dahulu.

Saking lezatnya cita rasa es kopi Takkie, saya sampai pesan dua gelas. Beberapa temanpun demikian. Asyik sekali kami menyeruput kopi itu sambil ngobrol dan bercanda.

Baru sorenya, setelah kami berpisah dan istirahat di rumah masing-masing, efek dari es kopi Takkie terasa. Kami semua ternyata tidak bisa tidur meski badan lelah dan mata mengantuk! Ditambah lagi dengan degup jantung yang berpacu kencang, seperti orang habis berlari.

Ah, es kopi kedai Takkie, selain nikmat rasanya, juga mengejutkan efeknya, hahaha!