Tag Archives: pearl jam indonesia

Pearl Jam Nite bagi Fans Garis Keras

Poster "Pearl Jam Nite IX: Getaway" (desain oleh Roel)
Poster “Pearl Jam Nite IX: Getaway” (desain oleh Roel)

Sebagian orang punya agama. Sebagian lainnya, ambisi. Saya punya Pearl Jam.

Bicara soal yang satu itu, Pearl Jam maksud saya, bukan agama, saya senantiasa serius. Sepenuh hati. Tidak ada istilah main-main atau iseng-iseng berhadiah. Bagi saya, Pearl Jam adalah soundtrack hidup. Energi, lirik, dan segala makna dalam lagu-lagu mereka menemani saya tumbuh sejak remaja hingga menjelang paruh baya.

“Pearl Jam Nite”, gelaran musik garapan komunitas Pearl Jam Indonesia (PJID) adalah bagian serius dari keseriusan saya tentang Pearl Jam. Ruwet, ya? Biar saja. Cinta yang asyik seringkali memang cinta yang ruwet.

28 Februari 2015 nanti, berlokasi di RedBox Café, Jl. Wijaya II No. 123, “Pearl Jam Nite” akan menginjak kali kesembilan. Jika saya hadir, maka itu akan jadi “Pearl Jam Nite” ketujuh yang saya datangi.

Kamu boleh bilang saya berlebihan. Mau-maunya datang ke konser yang isinya cover songs dan sebagian besar digelar tanpa kehadiran seorang “bintang” pun. Tunggu sampai kamu bertemua Faizal, orang Bogor yang seumur-umur belum pernah melewatkan satu pun perhelatan “Pearl Jam Nite”. Gila, kan?

Bagi saya, “bintang” tidak punya makna sama sekali dalam “Pearl Jam Nite”. Ada atau tidak, saya tetap akan melahap semua lagu yang ditumpahkan di panggung. Melumatnya sampai ke tulang belulang. Sampai habis.

Jujur saja, “bintang” yang cuma bisa bawain “Jeremy” atau “Black” sebaiknya tidur di rumah. Belajar lagi soal Pearl Jam. Tidak usah repot-repot keluyuran malam-malam di klub yang padat asap rokok. Nanti malah masuk angin.

Bicara soal lagu, kabarnya “Pearl Jam Nite IX: Getaway” bakal menggeber 50 nomor. Kamu tidak salah baca. Lima puluh lagu!

Jika kamu memang suka Pearl Jam, rasanya tidak ada lagi alasan yang tersisa untuk mangkir dari konser itu. Seret kakimu ke sana. Bawa serta pantatmu sekalian. Mari berpesta!

Getzcoustic

Poster Getzcoustic (desain oleh Roel)
Poster Getzcoustic (desain oleh Roel)

Selain insiden penjambretan smartphone milik Ega dan tiadanya bid terhadap lelang poster ciamik konser Pearl Jam di Berlin karya Ames/Klausen, “Getzcoustic” yang digelar di Getz Café, Jl. Jatipadang Raya No.4 semalam (16/11) berlangsung asyik. Hangat, cair, dan sangat menyenangkan.

The Mind Charger, NXCS, Artificial Sun, Andmore, dan jam session jadi suguhan musik sehat bagi jiwa. Apalagi di jam session saya sempat menyumbangkan suara – dan ini benar-benar sumbang – di nomor “Off He Goes”.

Bagi saya sendiri, jelas, sesi paling berkesan adalah ketika saya diberi kesempatan menceritakan seluk-beluk pembuatan #BukuGrungeLokal. Mulai dari ide, proses, tim, hingga penggalangan dana publik untuk pencetakan gelombang ke-2 di sini: http://wujudkan.com/project/Buku-Grunge-Lokal/view

Hasley, tidak seperti biasanya, kali ini bukan menyanyi melainkan bertanya ke saya. Dia tanya, bagaimana pendapat dan sikap saya soal kritikus?

Sejujurnya saya menjawab, saya sama sekali tidak suka kritikus. Menurut saya, itu profesi omong kosong! Jika saya tidak suka pada sebuah karya musik lokal, entah itu berbentuk CD atau konser, maka saya memilih untuk tidak menuliskannya. Itulah bentuk dukungan saya pada musik lokal, khususnya yang bernuansa grunge. Kritik, menurut hemat saya, sebaiknya disampaikan ke diri sendiri saja supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik, bukan ditujukan pada orang lain, terlebih pada seniman yang sudah sepenuh jiwa menghasilkan karya.

Mengutip Hegarty dalam bukunya yang berjudul “Hegarty on Creativity: There are No Rules”, syarat utama untuk berkarya adalah menjauhkan diri dari sifat sinis. Ya! Sinisme tidak akan menghasilkan apa-apa! Meski terkesan cerdas, orang-orang sinis adalah musuh utama bagi kita, orang-orang yang berusaha kreatif dan memberanikan diri berkreasi.

Pengalaman saya menyusun dan jumpalitan mengkampanyekan #BukuGrungeLokal selama 3 bulan terakhir menunjukkan betapa akuratnya Hegarty. Sinisme datang dari berbagai sudut dan dalam beragam bentuk. Saya, seperti biasa, tetap melangkah sambil berkata, “Fuck it!”

Bagi sebagian besar orang, saya arogan. Bagi yang mengerti dan mengapresiasi, apa yang saya tulis dan wujudkan dalam #BukuGrungeLokal adalah kebenaran. Adalah kenyataan. Adalah perasaan dari banyak orang yang juga ada di sana. Dalam hingar bingar yang mencerahkan. Dalam keindahan bunyi yang selamanya tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri.

The Mind Charger, dengan Andra yang sekarang bergelar haji, membawakan aransemen akustik yang rapi seperti biasanya. Nomor-nomor dari The Foo Fighters, Three Doors Down, dan Pearl Jam mereka suguhkan dengan ciamik. Jika ada kekurangan maka itu adalah waktu yang rasanya terlampau pendek. Hanya setengah jam!

NXCS kembali tampil dengan formasi baru, yang sudah mereka sajikan di gig di BepBop tempo hari. Andi dan Nito berduet membawakan harmoni vokal a la Cantrell/Staley. Not bad! Beberapa kali latihan lagi maka mereka akan siap menghantam di konser khusus yang kabarnya bakal digelar bulan Januari nanti.

Dan sesi ini, bagi saya, adalah yang paling asyik! Kenapa? Ya karena NXCS, dalam rangka memberi ucapan selamat ulang tahun ke saya, membawakan “Scalpel”. Yeah! Fucking awesome!

Artificial Sun adalah menu berikutnya. Setlist awal mereka, saya sama sekali tidak ingat. Namun rendisi “Eldery Woman” yang disambut koor meriah audiens jelas membuat merinding. Dalam momen yang singkat itu, saya kembali teringat kenapa hingga sekarang saya gemar sekali nongkrong di PJID. Ya karena ini, nyanyi-nyanyi gila tengah malam sepenuh hati. Meneriakkan lirik dari lagu-lagu yang saya kenal baik seperti telapak tangan saya sendiri.

Lanjut dengan “Nothingman”, Artificial Sun kemudian menutup penampilan mereka dengan… “Black!”. Tidak usah ditanya, suara curut-curut-curut membahana tak kurang dari dua menit lamanya, sebelum akhirnya lagu itu benar-benar dituntaskan.

Andmore tampil sebagai menu pamungkas. Seperti biasa, mereka menyuguhkan aransemen akustik minimalis dari lagu-lagu Pearl Jam dalam nuansa yang sepenuhnya berbeda. “Go” jadi terdengar asing dengan kocokan dan petikan gitar yang bertempo lambat dan membelit. Nomor-nomor lain, sejujurnya, saya lupa karena asyik ngobrol dengan beberapa kawan lama yang kebetulan malam tadi mampir.

Keceriaan malam itu akhirnya benar-benar disudahi dengan jam session yang menghadirkan Che, Anne, Niken, dan saya. Che, bersama Nito, Uwie, dan Made membawakan “Release” dan “River of Deceit” dengan aduhai. Sementara Anne, dibantu Amus, membawakan “Black”, Niken membawakan “Smile”, dan saya kebagian “Off He Goes”.

Surya, yang semalam hadir jauh-jauh dari Cikarang, merangkum semua dalam kalimat singkat yang menohok, saat saya ajak dia ngobrol di tengah lagu “Heaven Beside You”. Sambil tertawa dia bilang, “Sori, lagi enak, nih! Soalnya kerjaan di kantor boring…”

Semoga bakal lebih banyak gig mungil yang asyik seperti “Getzcoustic”, supaya kita tidak lekas mati bosan di kantor. Amin!

#BukuGrungeLokal

SAYA ADA DI SANA - Banner

Literatur soal musik di negeri ini sedikit sekali, jika tidak bisa dibilang nyaris tidak ada. Sebagian literatur yang ada, nyaris seragam. Bicara soal sejarah musik. Akibatnya, hampir semua orang yang mendengar rencana saya menuliskan #BukuGrungeLokal langsung menyimpulkan bahwa saya akan menulis tentang sejarah musik grunge di Indonesia. Bah!

Saya suka sejarah. Waktu sekolah, saya malah dapat nilai 9. Tapi supaya jelas, #BukuGrungeLokal yang sedang saya susun bukanlah buku sejarah musik. Setidaknya, bukan sejarah sebagaimana yang sering kita baca.

Dalam #BukuGrungeLokal yang edisi e-book-nya akan setebal 232 halaman, saya menyuguhkan tema-tema besar ini: 35 gigs review, 17 albums review, 9 opini, dan 15 events Pearl Jam Indonesia. Sebagai pelengkap, hadir juga lebih dari 50 foto yang sebagian (setidaknya menurut selera saya pribadi) sangat grunge sekali.

Semua itu, menurut hemat saya, rasanya sudah lebih dari cukup untuk memotret geliat grunge lokal yang, meski tidak kunjung mengorbit, namun demikian keras kepala menolak mati. Namun jelas, itu semua sangat tidak memadai untuk dijadikan sumber referensi akademis, lebih-lebih untuk disebut sebagai buku sejarah grunge lokal di Indonesia.

Apapun, #BukuGrungeLokal adalah sumbangsih saya kepada diri saya sendiri. Kepada diri saya di masa depan. Agar saya bisa senantiasa percaya, bahwa musik bagus tidak selamanya harus muncul di televisi.

Seperti yang disebut Dankie Navicula dalam pengantar buku ini: menulislah terus, agar grunge tidak sekedar jadi mitos!

Cuplikan #BukuGrungeLokal (Slideshare)

Facebook fanpage #BukuGrungeLokal

Jika buku ini sudah terbit, silahkan beli, baca, dan berikan opini kamu. Sebagai pembaca, kamu bebas memberikan reaksi, seperti halnya sebagai penulis, saya punya kebebasan mutlak menentukan apa yang ingin saya tuangkan dalam keabadian.

Salam grunge!