Category Archives: Musik

Opini, review, laporan pandangan mata konser, dan lain sebagainya terkait musik.

DDH Rilis Single Baru Berjudul “Garis Depan”

Akhirnya Dialog Dini Hari (DDH) benar-benar sampai ke sana. Ke tempat di mana musisi menanggalkan atribut hiburan dari tubuhnya dan meninggalkan peran lamanya sebagai peramu bunyi. Di tempat barunya itu, DDH menyucikan diri dan merelakan tubuh musik mereka menjadi alat suling kenyataan. Hasil sulingan itu tentulah bukan lagi sekadar sebuah lagu, melainkan cerita tentang manusia. Tuturan tentang zaman yang sedang kita lewati. Kita perjuangkan. Sebuah kesaksian.

Menyusul “Kulminasi II” yang bertutur tentang porak-porandanya tatanan hidup akibat dihantam badai korona, hari ini DDH merilis “Garis Depan”. Siapa pun pasti langsung bisa tahu, “Garis Depan” bicara soal perjuangan tenaga medis di seluruh penjuru dunia menghadapai badai kematian korona. Perjuangan sepi dan mengerikan yang hampir sepenuhnya mereka jalani sendiri, karena tidak ada yang orang awam bisa lakukan untuk membantu. Paling jauh, kita hanya bisa meringankan beban pekerjaan dan hidup mereka dengan berdiam di rumah agar tidak tertular atau menulari yang lain. Syukur-syukur dengan itu laju wabah bisa ditahan.

Meski banyak sekali yang mencibir bahwa korona hanyalah omong kosong, kita yang punya akal sehat dan cukup gemar membaca tentulah sadar, ini bukan perkara sepele. Hadirnya korona di tengah umat manusia sudah dipastikan akan mengubah arah kebudayaan. Kita semua saat ini sedang berdiri di atas patahan kebudayaan. Kalau tidak dihadapi dengan serius dan sepenuh hati, korona bagi kita bisa berdampak layaknya meteor bagi dinosaurus.

Saya tidak pernah membayangkan bakal hidup dan menyaksikan secara langsung runtuhnya kapitalisme dan demokrasi. Bukan karena perang, melainkan karena virus. Betapa sistem ekonomi yang dibanggakan banyak orang pintar di seluruh dunia nyatanya tidak berdaya – dan bahkan semakin memperburuk keadaan – ketika berhadapan dengan korona. Dan lihatlah betapa demokrasi Indonesia yang memang pekat berkutat dengan politik identitas nyatanya hanya mampu menghasilkan jajaran pemerintah/penguasa yang sama sekali tak becus bekerja.

Mendengarkan “Garis Depan”, menikmati perubahan peran DDH dari musisi menjadi penyaksi, saya teringat sepotong sajak milik Rendra. Judulnya “Sajak Sebatang Lisong”. Demikian dia berseru, seperti biasa, dengan berapi-api dan terdengar sepenuhnya benar: “Aku bertanya/Tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon/Yang bersajak tentang anggur dan rembulan/Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya”.

Barangkali dua bulan di rumah dengan sebulan di antaranya didera sakit membuat saya kelewat serius. Atau sebaliknya, barangkali kita terlampau bebal dan menganggap sepele semua persoalan, karena kita terbiasa berdoa kepada Tuhan dan mengharapkan pertolongan pihak lain. Bukan menolong diri sendiri.

Teruslah manyuguhkan kesaksian melalui lagu-lagu indahmu, DDH. Saya sama sekali tidak keberatan.

Cupumanik Rilis Single Anyar “Yang Kan Terjalani”

Siapa pun yang pernah jatuh hati pada album perdana Cupumanik (rilis 2005) dipastikan bakal suka single teranyar mereka yang berjudul “Yang Kan Terjalani” (rilis 2020). Apa pasal? Dalam single itu termuat semua yang sebelumnya jadi ramuan maut Cupumanik: lagu manis yang nyaris terdengar syahdu, lirik serius nan puitis, permainan instrumen yang harmonis, dan vokal yang terdengar seperti lelaki kesepian yang baru saja dihantam badai kehidupan. Ramuan yang anehnya mereka lupakan saat menyusun album kedua (Menggugat, 2014).

Barangkali saat itu mereka kehilangan Rama. Atau mungkin Che sedang kepengin marah-marah. Entah.

Tapi “Yang Kan Terjalani” jelas jadi bukti bagaimana indahnya Cupumanik kalau hadir secara utuh. Dan kita bisa cermati – juga nikmati – betapa sesungguhnya Che bisa bernyanyi dengan cara yang sama sekali berbeda.

Saat ini kita masih terperangkap dalam badai korona. Belum ada titik terang sedikit pun. Manusia seperti dipaksa untuk mengurung diri di rumah dan banyak merenung. Tentang hidup, relasi, dan tentu saja tentang dirinya sendiri. “Yang Kan Terjalani” terasa pas sekali, karena lagu itu memang bicara soal relasi manusia. Tentang cinta.

“Biar/tumbuh liar dalam kalbuku/kutunggu kau jinakkan hasrat/tentang dirimu/” begitu Che berulang menyanyikan chorus. Sesekali pelan, sesekali kuat. Nyaris tercekat.

Dalam balutan bunyi yang disuguhkan Cupumanik kali ini, penggalan lirik itu terdengar seperti bisik lirih lelaki yang memasrahkan hatinya. Berhadapan dengan cinta, lelaki memang hanya bisa pasrah. Tidak ada satu pun kekuatan yang bisa memaksakan cinta. Biarkan saja cinta tumbuh dengan kekuatannya sendiri.

Biar… biar…

DDH Rilis Lagu Terkait Korona Berjudul “KULMINASI II”

Sejak kali pertama mendengar langsung dari mulut Dadang cerita sesungguhnya di balik lagu “Pohon Tua Bersandar”, saya paham bahwa Dialog Dini Hari (DDH) memang punya cara unik yang sakti untuk mengubah kisah pahit hidup menjadi lagu yang indah. Di tangan mereka, nasib buruk tidak lahir menjadi dendam, melainkan doa.

Kali ini pun sama saja. Ketika wabah korona melanda Indonesia dan sudah mencabut tak kurang dari 113.000 nyawa manusia di seluruh dunia, mereka merilis single anyar berjudul “Kulminasi II”. Tidak mungkin salah dipahami, lagu itu bercerita tentang hidup kita yang mendadak berubah gara-gara korona. Langit jadi biru, jalanan mencekam, jendela terbuka, rumah ibadah ditutup. Sebuah gambaran mengerikan betapa kehidupan berbelok ke arah yang kita tidak tahu ujungnya.

Tapi coba tengok liriknya. Dadang, dengan nada megah menyanyikan “manusia bernyanyi menghibur lainnya/ manusia bersujud berdoa ‘tuk lainnya”. Alangkah indahnya! Bait itu dengan tepat menangkap kekuatan kemanusiaan yang memang hanya bangkit saat tertekan keadaan.

Yang membuat saya terkejut gembira, di single anyarnya ini, DDH menyuguhkan porsi gitar listrik. Ya, betul! Tidak ada lagi batas kaku folk/blues yang mengharuskan aransemen gitar akustik. DDH, seperti juga kita semua yang sedang berjuang menghadapi wabah korona, seperti membebaskan dirinya dari keterbatasan. Dari kekangan. Menuju arah bunyi yang sama sekali baru.

Kalau “Kulminasi II” ini ternyata merupakan cetak biru album baru DDH, saya pribadi akan menyambutnya dengan gembira. Sangat gembira. Mengikuti perjalan musik mereka sama nikmatnya seperti mengikuti kehidupan itu sendiri. Mengalir tak terduga. Berbelok dengan berani. Namun tetap setia pada inti dari semua, bahwa tujuan seni adalah menggetarkan jiwa. Bahwa dalam setiap lagu termuat doa.

Dan tepatlah kiranya bait ini jadi penutup lagu “hari ini kita paham tentang kematian/ tapi cinta terus tumbuh kembali di kehidupan”.