Category Archives: Sports

Jerman dan Italia, Bermainlah Seperti Biasanya!

Sindhunata, dalam tulisannya di KOMPAS (28/6) menyebut timnas Italia di Euro 2012 ini sebagai orkestra anarkis. Kumpulan para anarkis yang memainkan sepakbola cerdik, emosional, dan penuh kejutan dibawah koordinasi Prandelli.

 

 

Nanti malam mereka akan dihadang Jerman, yang secara tradisional sama sekali tidak identik dengan permainan bola yang emosional, lebih-lebih indah.

Jika boleh dibilang, sepakbola Jerman itu dingin. Terukur. Pasti.

Tapi kali ini Jerman ditukangi oleh Joachim Loew, si maniak permainan menyerang. Mereka juga punya bocah ajaib bernama Mesut Ozil. Mesin bola Jerman, sepertinya, akan bisa berlari kencang dan menggilas orkestra anarkis Italia.

Tentu saja ada sejarah. Catatan buram yang menyudutkan Jerman. Berhadapan dengan Italia, mereka seolah tak pernah punya kesempatan untuk menang.

Sebenarnya, Jerman pernah menang sebanyak 7 kali dari Italia. Masalahnya, itu semua terjadi di pertandingan persahabatan! Lebih buruk lagi, Italia menang 14 kali melawan mereka!

Biar saja! Sepakbola toh tidak pernah tunduk pada sejarah. Selalu ada kali pertama untuk semuanya. Selalu ada tikungan misterius dan tangan yang tak terlihat. Nasib.

Andrea Pirlo boleh saja mengecoh Joe Hart dan mengirim Inggris pulang dengan tendangan pinalti sendoknya yang super anarkis. Namun berhadapan dengan permainan Jerman yang menekan, otak briliannya akan lebih banyak dipaksa untuk berpikir, bagaimana mengatur pertahanan.

Sebagai penonton, kita hanya bisa berharap agar Jerman dan Italia tetap bermain bola seperti karakter yang sudah mereka tunjukkan selama Euro 2012 ini.

Jika demikian adanya, maka kita akan bisa menyaksikan bagaimana konsep disiplin bertarung melawan konsep anarkis. Bagaimana kecerdasan kelompok yang terkoordinasi bertarung dengan kejeniusan individual yang diberi ruang gerak tak terbatas.

Pada akhirnya, kita bisa menikmati permainan bola yang sudah melompat jauh, menjadi permainan pikiran. Permainan nilai-nilai hidup. Pertunjukan karakter dari sebuah bangsa.

Lalu siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Biarlah bola yang menentukan…

Dari Bob Dylan untuk Arjen Robben

Akhirnya Arjen Robben lah yang paling pertama menangis di Piala Eropa 2012. Air matanya membasahi rumput di stadion Metalist, Ukraina. Air mata itu, ironisnya, menjadi semir yang membuat sepatu centilnya CR7 semakin mengkilap!

 

Arjen Robben

 

Tiga kali bertanding, tiga kali kalah!

Bagi tim sepakbola kelas dunia seperti Belanda, yang juga adalah finalis Piala Dunia 2010, pencapaian itu bisa dibilang sangat memalukan! Entah akan ditaruh dimana muka Bert van Marwijk dan segenap pemangku jabatan penting di organisasi sepakbola negeri kincir angin itu.

Bersama Robben menangis pulalah seluruh rakyat Belanda. Juga semua penjudi yang barangkali terlanjur mempertaruhkan segalanya pada Belanda.

Namun itulah wajah sepakbola, juga kehidupan, yang sesungguhnya. Omong kosong tentang peringkat, prediksi, dan segala analisis teknis pra-pertandingan lainnya tinggallah omong kosong. Yang menentukan, pada akhirnya, adalah performa di lapangan. Di pertandingan sesungguhnya.

Entah apa yang terjadi dalam rentang dua tahun terakhir ini di tubuh timnas Belanda. Sebuah unit sepakbola yang super efisien menaklukkan lawan-lawannya di Piala Dunia 2010 bisa terpuruk demikian memilukan. Tak mampu memetik satu poin pun dalam tiga pertandingan di babak penyisihan Piala Eropa 2012!

“It’ll soon shake your windows… And rattle your walls… For the times they are a-changin’…”, demikian Bob Dylan bernyanyi.

Barangkali lirik itu cocok sekali untuk merangkum wajah sepakbola Belanda saat ini. Gerombolan jenius bola yang seolah sibuk mengagumi kehebatannya sendiri dan mengabaikan perkembangan terbaru lawan-lawannya.

Untuk Arjen Robben beserta seluruh rakyat Belanda yang sedang meratapi nasib sepakbolanya, kiranya hanya Bob Dylan jugalah yang tahu bagaimana ungkapan terbaik untuk membuat mereka tetap bersemangat dan menegakkan kepala.

“For the loser now… Will be later to win… For the times they, they are a-changin’…”