Tag Archives: jalan pagi

Yoga Pertama Saya

Matahari pagi terasa hangat. Cahaya lembutnya menyirami tubuh saya yang bersimbah keringat. Segenap otot yang bertahun lamanya kaku, pagi itu ditarik paksa. Memanjang dia. Meregang. Mengirim sensasi membingungkan ke ujung-ujung saraf di sekujur tubuh, antara sakit dan nyaman.

Mendadak saya menyadari betapa tersengal nafas saya. Kacau. Jauh dari aba-aba “tarik dalam, tahan, hembuskan” yang disampaikan berulang kali oleh Nadia melalui layar zoom. Dalam kelebatan-kelebatan, kesadaran saya seperti merambati tubuh. Pelan saja. Mengalir tanpa paksaan. Seiring waktu saya mulai merasakan otot-otot pinggul yang menjerit, tulang belakang yang dalam ketegangannya diam-diam terasa hangat dan nikmat, juga jemari tangan serta kaki yang seolah tiba-tiba saja hadir dan terasa penting sekali.

Di pagi yang terang dan tenang itu, dengan aneh saya menyadari keberadaan diri saya sebagai diri saya sendiri. Bukan sebagai suami, bapak dua anak, pegawai kantoran, atau penulis buku. Saya seperti baru saja berkenalan dengan diri saya sendiri yang rupanya sudah demikian lama saya lupakan.

Pagi itu saya berkenalan dengan yoga.

Sebenarnya tidak persis demikian. Saya kenal yoga pertama kali sekitar akhir 2016, ketika mulai menulis buku yang mengisahkan perjalanan spiritual Lisa Samadikun. Dalam setiap sesi wawancara yang berjalan beberapa bulan lamanya, Lisa selalu menyarankan saya mencoba yoga, setelah memahami bahwa meski terbilang besar, tubuh saya sesungguhnya ringkih sekali. Namun saat itu, bahkan hingga bukunya terbit dengan judul “Teruntuk, Bahagia…” pada Maret 2017, saya sama sekali tidak pernah tertarik pada yoga. Bukan untuk saya, demikian saya membatin.

Namun perjalanan hidup, seperti memang seharusnya, menggelinding ke arah yang sama sekali tidak pernah saya duga, bahkan harapkan. Menumpuknya makanan tidak sehat dalam tubuh dan semakin malasnya saya berolahraga akhirnya memakan korban. Korbannya tentu saja saya sendiri. Pada awal April 2021, tepat setahun lamanya pagebluk Covid-19 mengurung Indonesia, saya disarankan (dengan keras) dokter jantung untuk memasang ring demi melebarkan pembuluh darah utama menuju jantung yang hampir tersumbat oleh tumpukan lemak darah. Jadilah! Sekarang saya resmi masuk ke golongan orang dengan risiko serangan jantung tinggi. Meski, tentu saja, itu semua dapat dikelola dengan menjaga makanan, rajin berolahraga, dan rutin mengonsumsi obat-obatan.

Tepat di bagian “rajin olahraga” itulah saya membelok. Dari yang semula (baca: sepuluh tahun lalu) gemar olahraga high impact semacam naik gunung (bahkan beberapa kali menjajal panjat tebing!), sepak bola, futsal, dan jogging, sekarang saya memilih untuk menekuni jalan pagi, renang (niatnya nanti akan rutin setelah pagebluk Covid-19 berakhir), dan yoga.

Sejak kecil saya memang senang berenang. Saya menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja di wilayah muara dan laut di Bengkulu. Bagi saya, badan air adalah rumah kedua. Entah itu danau, sungai, kolam ikan, kolam renang, hingga laut, semua terasa nyaman saja.

Jalan pagi baru saya lakukan akhir 2019 sebagai upaya untuk sembuh dari luka batin yang, sialnya, disebabkan oleh ketololan saya sendiri. Kalau tertarik baca soal itu, untuk sekadar mengata-ngatai saya misalnya, silakan baca kumpulan puisi saya yang berjudul “Bukan atas Nama Cinta”. Sejujurnya, saya menyukai jalan pagi. Selain udara segar, saya ternyata menikmati pemandangan orang-orang beraktvitas memulai hari mereka. Dari mengantar anak sekolah, menyapu halaman rumah, hingga membuka pintu toko. Pagi hari, bagi saya, terasa seperti energi yang nikmat dan murni.

Dan yoga. Alangkah terkejutnya saya setelah mencoba 4 sesi yoga dalam sepekan lebih, ternyata jiwa saya menikmatinya! Tubuh saya jelas menjerit. Memberontak. Pegal-pegal dan keringat yang membanjir, juga nafas yang tersengal adalah tanda-tanda protes yang sangat jelas. Namun seperti saya ceritakan di awal, yoga menyentuh sisi kesadaran saya yang sebelumnya tidak pernah saya sadari ada dalam diri saya. Kepekaaan yang, barangkali, memang baru lahir dalam diri orang-orang yang sudah sempat diserempet maut namun luput (untuk sementara waktu).

Yoga, ternyata, bukan sesi olahraga, melainkan sesi khusus bagi saya untuk berdialog dengan diri saya sendiri.