Tag Archives: kesadaran

Pengalaman Menjelang Kematian

Saya pikir pengalaman menjelang kematian (meski kemudian tertunda) akan mendorong saya menjadi sosok yang semakin berlekas-lekas. Wajar, kan? Kesadaran soal demikian terbatasnya waktu yang kita miliki tentu logis kalau membuat kita kemudian menyegerakan segala sesuatunya agar tidak terlambat. Nyatanya, tidak! Sebaliknya, saya malah jadi sosok yang dengan sengaja melambatkan hidup.

Ya. Berkat kemalasanan saya berolahraga dan nafsu makan yang seperti menolak tunduk pada kondisi kesehatan, dua pekan lalu saya terpaksa menjalani prosedur pemasangan ring di pembuluh utama yang menuju jantung. Biasalah. Penyumbatan. Lebih tepatnya, potensi penyumbatan.

Prosedur itu berjalan lancar dan episode sesak nafas serta nyeri dada yang intensitasnya meninggi sejak sebulan lamanya telah hilang. Tapi saya tentu tak mau terkecoh. Bagaimanapun, kematian pada hakikatnya demikian dekat. Semua prosedur itu hanya ilusi. Bukan sesuatu yang permanen. Sama sekali tidak layak dijadikan andalan.

Kembali ke soal perubahan kecepatan hidup. Setelah sadar bahwa kematian (sebetulnya, sejak dulu!) duduk diam-diam tepat di samping saya menunggu waktu yang tepat untuk membawa saya entah ke mana, saya mendadak merasa hidup tereduksi menjadi hal-hal mendasar yang sederhana sekali. Meski saya sejak dulu memang bukan tipe orang yang ambisius atau banyak maunya, bahkan dari kacamata saya (BTW, saya sebentar lagi memang betulan akan pakai kacamata!) apa yang muncul dari pengalaman menjelang kematian tempo hari luar biasa sederhana.

Dalam kesadaran yang tidak dapat saya telusuri balik prosesnya itu, tiba-tiba saja saya memandang bahwa hidup ini tidak perlu terlalu diributkan. Hal yang penting bagi saya, ternyata, hanya tiga: keluarga, pengembangan Kompas.id, dan buku/cerita yang saya tulis sendiri. Lucu, ya? Silakan tertawa. Tapi nanti kalau kebetulan kalian mengalami hal serupa, yaitu hampir mati namun kemudian tertunda, silakan cari saya. Kita bicara lagi. Mungkin tawa kalian sudah berubah jadi sesuatu yang berbeda.

Keluarga. Ketika saya berhari-hari sendiri di rumah sakit (terima kasih untuk Covid-19 yang memaksa rumah sakit menerapkan kebijakan pasien rawat inap tidak boleh ditemani), yang teringat selalu wajah istri dan kedua anak perempuan saya. Yang ada di kepala adalah pikiran sederhana: ternyata saya rindu mereka. Benar-benar rindu. Bukan keinginan mulia melindungi mereka dari segala mara bahaya. Bukan juga mendadak visioner lalu bercita-cita menjadikan kedua anak saya itu sebagai sosok yang sukses dan cemerlang masa depannya. Tidak. Rindu. Itu saja. Rindu sekali.

Kompas.id. Semua orang yang kenal dekat dengan saya barangkali sudah muak dan menahan muntah tiap kali saya ajak bicara soal masa depan jurnalisme. Ya. Saya sepenuhnya percaya bahwa jurnalisme seharusnya dijunjung tinggi. Dijauhkan dari paham pragmatis, terlebih pikiran-pikran amoral. Jurnalis (tolong diingat bahwa saya bukan jurnalis) dan dokter, menurut saya, adalah sedikit profesi yang sepatutnya dianggap suci. Kenapa? Karena kualitas hidup manusia ditentukan oleh kualitas keputusan demi keputusan yang dia ambil sepanjang hidupnya. Dan tanpa jurnalisme tingkat tinggi, jurnalisme yang menuhankan kebenaran, manusia sulit mengambil keputusan-keputusan strategis dalam hidupnya. Lebih mengerikan lagi, tanpa jurnalisme yang berani (karena memegang teguh kebenaran), kekuasaan akan melahirkan kesengsaraan. Karena rakyat akan jadi korban keputusan-keputusan, bukan pihak yang mendapat manfaat. Dan Kompas.id, menurut saya, mengikuti Harian Kompas yang adalah ibu kandungnya, menempuh jalan ke arah itu, yaitu jurnalisme yang hanya punya satu tujuan yaitu memberi  masyarakat modal untuk membuat keputusan-keputusan bagus bagi hidup mereka. Itu adalah jalan yang terjal, tentu saja. Tapi saya percaya, tidak ada hal penting yang lahir dari rebahan dan bermalas-malasan. Semua hal penting menyaratkan perjuangan dan kekeraskepalaan tingkat dewa.

Buku dan cerita. Ini sudah seperti darah bagi saya. Tidak ada hal yang lebih memesona atau dahsyat ketimbang cerita. Sejarah mencatat, setiap saat tanpa terkecuali, peradapan manusia digerakkan oleh cerita. Entah itu digerakkan ke arah baik atau buruk, saya berani taruhan semua itu bersumber dari energi cerita. Agama apa pun di dunia ini, semua membangun dirinya melalui cerita. Maka wajar kalau saya sering merasa sedih melihat betapa bodohnya bangsa ini dalam urusan cerita. Demikian mudah masyarakat kita dikibuli, bahkan berulang kali, dengan cerita-cerita bohong yang bahkan sebenarnya kalau dinalar sebentar saja sudah ketahuan busuknya.

Orang-orang manajemen barangkali akan menyebut pengalaman saya sebagai “mengubah prioritas hidup”. Saya rasa urusannya tidak teknis seperti itu. Prioritas mengindikasikan, bahkan memaksa, hadirnya atribut peringkat. Bagi saya, keluarga, Kompas.id, dan cerita tidak perlu diperingkat mana lebih penting dibanding lainnya. Ketiga hal itu sama penting dan sekaligus sama sederhananya.

Bicara soal kecepatan hidup, saya benar-benar melambat. Baca buku jadi santai. Baru sepekan lalu saya beli “Dune” setebal 884 halaman. Apakah saya kemudian mengejar setoran seperti biasanya? Baca sampai jauh malam (entah karena ceritanya seru atau sekadar kepingin lekas selesai)? Tidak. Sehari paling saya baca 15 halaman buku itu. Lalu pindah baca buku lainnya yang menarik perhatian saya.

Baca laporan tentang berbagai inovasi industri jurnalisme dunia pun demikian. Sudah tidak ada lagi desakan dalam diri saya untuk secepatnya memahami isi dari laporan-laporan itu. Sebaliknya, saya malah mencerna pelan-pelan satu demi satu inovasi yang dipaparkan. Saya menimbang dengan nalar yang sengaja dilambatkan, apakah semua itu benar? Apakah itu bukan hanya sekadar pamer berbagai polesan seperti yang sering kita temui dalam seminar-seminar industri internasional? Dan yang terpenting, apakah itu selaras dengan tujuan pengembangan Kompas.id dan memang masuk akal untuk diterapkan di pasar Indonesia yang luar biasa unik?

Saya kira sudah terlampau panjang racauan tentang pengalaman menjelang kematian ini. Sederhananya, saya hanya kepingin bilang: ternyata, ketika dihadapkan pada kematian, saya menginginkan hal-hal yang sebenarnya selama ini sudah saya miliki. Pemahaman saya soal nilai penting dari hal-hal tersebut saja yang kemudian semakin menjadi-jadi.

Kalau kalian punya pengalaman yang berbeda, silakan berbagi. Tapi kalau sekadar opini berdasarkan apa yang kalian baca, artinya kalian belum pernah sungguhan berhadapan dengan kematian tapi kemudian “lolos”, sebaiknya simpan pemahaman itu untuk diri kalian sendiri sementara waktu.