Tag Archives: love bomb

Navicula: Pesta Suara di Lubang Neraka

Navicula di Mondo Cafe, Kemang
Navicula di Mondo Cafe, Kemang

Besok Bubar dan Navicula menjadikan konser di Mondo Café, Kemang, semalam (2/3) sebagai salah satu konser terbaik bagi saya di awal tahun 2014 ini. Bagaimana tidak? Ruang bawah tanah yang kecil dan pengap itu meledak oleh badai suara distorsi, teriakan massa, dan aksi moshing serta crowd surfing tiada henti.

Ini adalah konser Navicula ke-29 yang saya hadiri. Dan anehnya, ini mengingatkan saya pada konser pertama mereka yang saya hadiri pada 13 Mei 2009 lampau di Prost Beer House, Kemang. Sebuah pesta suara di lubang neraka!

Turun ke lubang neraka itu sekitar jam 9 malam kurang, saya hanya kebagian sepotong setlist Besok Bubar. Lumayan. Saya masih dapat beberapa lagu seperti “Besok Mati”, “Setan”, “Senjata Pemusnah Massal”, “Awas”, dan “Pahlawan Bertopeng”. Dan setelah sekian lama tidak melihat mereka manggung, rasanya sungguh nikmat melumat nomor-nomor keras yang dibawakan sepenuh hati oleh trio ugal-ugalan ini.

Besok Bubar, sepanjang yang saya pernah tonton, selalu tampil nyaman dengan musik dan jati dirinya sendiri. Rasanya tidak sabar menanti peluncuran album teranyar mereka, yang kabarnya saat ini sudah kelar di-mastering.

Navicula hadir dengan kekuatan penuh. Setelah malam sebelumnya menghantam AtAmerica yang penuh (sampai-sampai saya diusir sekuriti karena kapasitas ruang sudah terlampaui – kabarnya di dalam area konser bercokol 369 fans dan beberapa puluh lagi terpaksa menunggu di luar), mereka sama sekali tidak terlihat lelah.

Tiga belas lagu menghantam seperti kereta cepat. Mulai dari “Everyone Goes to Heaven”, “Mafia Medis”, “Aku Bukan Mesin”, “Harimau! Harimau!”, “Tomcat”, “Days of War, Nights of Love”, “Love Bomb”, “Di Rimba”, “Televishit”, “Mafia Hukum”, “Menghitung Mundur”, “Suram Wajah Negeri”, hingga “Metropolutan”.

Distorsi memantul di dinding, menjadi gema di telinga, dan akhirnya mengendap di dalam jiwa. Jiwa-jiwa merdeka yang tidak henti berlompatan, mengepalkan tangan, dan bersama meneriakkan semangat hidup dan perlawanan pada ketidakadilan.

Di lubang neraka inilah grunge kembali pada khitahnya, konser musik yang tidak memiliki batas jelas yang memisahkan performer dengan audiensnya. Sebuah pertunjukan musik yang tidak terlalu memedulikan showmanship, karena semua bermuara pada ledakan energi murni nan jujur.

Inilah grunge, yang dengan menontonnya berarti kita terlahir kembali. Karena dalam konser seperti ini, dalam kebisingan yang memekakkan telinga ini, kita sesungguhnya bukan menemukan musik yang indah, melainkan menemukan diri kita sendiri…

Review Album Musik: “Love Bomb” by Navicula (2013)

Love Bomb by Navicula (2013)
Love Bomb by Navicula (2013)

Dengan 16 lagu rock kualitas nomor satu yang termuat dalam 2 keping CD yang dibungkus sampul unik berbahan dasar materi daur ulang, “Love Bomb (2013)”, album teranyar Navicula, boleh dibilang sangat memuaskan.

Keping pertama berisi 5 lagu yang mereka rekam di Record Plants Studio, Hollywood, AS. “Tomcat”, “Love Bomb”, “Aku Bukan Mesin”, “Refuse to Forget”, dan “Days of War, Nights of Love” tersaji apik di sini.

“Tomcat”, setidaknya bagi saya, terdengar mengejutkan. Sangat grunge! Agresif, dinamis, dan luar biasa eksploratif. Terasa seperti sebuah sesi jamming yang demikian enak hingga akhirnya mengkristal menjadi sebuah lagu.

Dan “Love Bomb”, ow… Sangat manis!

Saya sama sekali tidak keberatan jika lagu ini hadir sebagai single dalam bentuk video clip hitam putih, menampilkan Navicula duduk-duduk santai di klub kecil yang hancur setelah sebuah konser tengah malam yang dahsyat. Tambahkan satu atau dua botol bir dingin ke genggaman mereka, maka sempurnalah semuanya!

Di keping pertama ini, “Love Bomb” dan “Days of War, Nights of Love” menampilkan wajah baru Navicula. Atau, jika tidak bisa dibilang baru, wajah yang lain. Yang lebih lembut, manis, dan hangat.

Keping kedua direkam di Antida Studio dan Ian’s House Studio, Bali. Isinya banyak. 11 lagu! Sebagian besar adalah single-single yang sudah pernah mereka luncurkan sebelumnya dalam berbagai event atau kompilasi.

“Bubur Kayu”, “Ingin Kau Datang”, “Semut Hitam”, “Mafia Hukum”, “Sail On”, “Harimau! Harimau!”, “Do It Yourself is Dead, Now We Do It Together”, “Mafia Medis”, “Orangutan”, “Di Rimba”, dan “Metropolutan” mengalir deras.

Omong-omong, saya tidak bisa membedakan kualitas rekaman keping pertama dan kedua. Di kuping saya (setelah semua lagu saya rip ke MP3, tentu saja), keduanya terdengar sama saja. Sama-sama kick ass!

Bagi fans lama Navicula, “Love Bomb (2013)” adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan semua serpihan karya mereka dalam sebuah collectible item yang luar biasa ini. Sementara bagi fans baru mereka, album ini saya pastikan akan benar-benar mind blowing. Saya tidak akan heran jika nanti ada fans baru yang nyeletuk: “Gile! Ada ya, rock band asli Indonesia yang kayak gini?”

Di keping kedua, aransemen maut “Semut Hitam” menjadikan lagu legendaris God Bless ini seperti punya nyawa baru. Benar-benar mengejutkan!

Favorit saya, tetap, adalah “Di Rimba”.

Setelah sekian kali mendengarkan versi album “Kami No Mori” dan beberapa kali menyaksikan lagu ini dibawakan live, di album ini “Di Rimba” seolah menemukan tempat yang semestinya. Suara alam yang sunyi dan menenangkan ini nyaman bersemayam di antara kisah pilu “Orangutan” dan himpitan mematikan “Metropolutan”.

Dulu, 20 kg yang lalu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rimba, gunung, dan jeram dibanding hidup di kota. Dan “Di Rimba”, dengan semua kemegahannya yang sederhana, membawa kembali kenangan itu. Tidak hanya kenangan, melainkan juga keinginan. Hasrat baru yang tumbuh untuk sekali lagi menapakkan kaki di jalan-jalan kecil dan sunyi, dalam upaya membiarkan alam membantu saya menemukan diri saya kembali.

“Sail On” sebenarnya bisa jadi nomor santai yang berkesan. Namun, barangkali ini satu-satunya kritik saya untuk keseluruhan album ini, artikulasi Robi sedikit kurang jelas. Tanpa membaca teks yang tertera di sampul album, rasanya agak sulit memahami apa sebenarnya yang termuat di lagu ini.

Mengingat Robi banyak sekali ikut kursus yoga dan berkebun, rasanya baik juga jika dia menambahkan kursus artikulasi kata-kata berbahasa Inggris ke aktivitas hariannya.

Secara keseluruhan, “Love Bomb (2013)” adalah album rock yang sangat memuaskan. Di double album ini, Navicula terdengar (dan terasa) penuh tenaga, sangat modern, dan tumbuh.

Jika mereka masih bersikukuh mengibarkan bendera grunge, maka dapat saya pastikan, di tangan mereka, melalui album ini, grunge menjadi tak lekang oleh waktu. Terlahir kembali dan tetap relevan untuk kita nikmati.