Tag Archives: netflix

Review Film: The Trial of the Chicago 7

Pemerintahan, di mana pun ia berdiri, selalu takut pada satu hal: ide. Ya, ide. Bukan senjata. Pemerintah tentu punya banyak sekali senjata. Bukan pula massa. Dengan uangnya, pemerintah dapat dengan mudah mengumpulkan massa. Dan tepat itulah argumen yang disuguhkan Aaron Sorkin dalam film terbarunya yang ditayangkan Netflix pada Oktober 2020, “The Trial of the Chicago 7”: upaya kotor pemerintah Amerika Serikat untuk membungkam ide dan suara rakyatnya sendiri.

Sorkin mendirikan bangunan filmnya di atas kisah nyata bersejarah yang terjadi di Chicago, Amerika Serikat, pada 1968 dan persidangan penuh skandal yang mengikutinya setahun kemudian. Bentrokan antara demonstran dan polisi, intrik politik dalam sistem peradilan tingkat tinggi, idealisme dan sekaligus kebodohan aktivis, juga pameran berbagai jurus berkelit pengacara untuk mengambil hati para juri jadi menu utama film ini. Tentu saja ada hakim yang tidak kompeten dan sangat menyebalkan.

Seperti film Sorkin umumnya, “The Trial of the Chicago 7” juga sarat dialog cerdas yang mengalir deras. Menonton film ini rasanya kurang pas kalau dilakukan sambil mengunyah pop corn atau makan mi instan. Cara terbaik adalah memastikan terlebih dulu perut penuh terisi, kemudian selama 2 jam lebih sedikit berikutnya membenamkan diri dalam alur cerita dan pertukaran dialog yang sangat menguras konsentrasi.

Dibintangi oleh Joseph Gordon-Levitt, Michael Keaton, dan sederet nama beken lainnya, “The Trial of the Chicago 7” sukses menyuguhkan cerita yang sangat mudah diterima akal sehat. Kebetulan sekali, sebulan terakhir ini kita juga tengah dilanda isu yang punya kemiripan dengan film ini, yaitu pemerintah yang malas mendengarkan rakyatnya dan berderap sendiri membuat RUU Cipta Kerja yang isi dan proses penyusunannya sangat kontroversial, kalau bukan malah penuh skandal.

Hal terbaik dari film ini, tentu saja, adalah bagian penutupnya. Setelah dua jam penuh emosi kita ditarik-ulur-banting-pelintir, akhirnya kita disuguhi sebuah adegan pamungkas yang kemungkinan besar akan menguras air mata. Bukan air mata menye-menye, tentu saja. Melainkan air mata haru. Air mata yang hanya bisa lahir dari pemahaman rakyat atas perjuangan sesama rakyat demi sebuah bangsa yang sehat dan beradab.

Dark by Netflix: Penyiksaan Otak yang Nikmat

Dengan 3 dunia dan setidaknya 6 timeline (1888, 1921, 1954, 1987, 2020, 2053, dan beberapa varian seperti 1986 dan 2019), tantangan terbesar serial “Dark” adalah memastikan kode-kode visual di tiap dunia dan timeline jelas tertangkap oleh audiens. Dan memang demikianlah adanya. Meski harus dengan konsentrasi penuh seperti saat mengerjakan tes masuk kerja, tidak satu dunia dan timeline pun yang kemudian salah saya pahami. Gilanya lagi, tiap karakter juga sama jelasnya. Saya tidak mungkin salah mengenali Jonas muda di dunianya pada timeline 2020, Jonas dewasa di dunianya pada timeline 1888, Jonas yang sudah berubah jadi Adam yang mengerikan di dunia Martha pada timeline 2020, atau Jonas muda di dunia ketiga yang baru ia temukan bersama Martha di timeline 2020.

Bingung? Tidak apa-apa. Ini bukan ujian. Ini hiburan. Dinikmati saja kalau memang kepengin atau lupakan kalau memang tidak kepengin. Tidak perlu memaksakan diri. “Dark”, tentu saja, memang bukan untuk semua orang.

Bagi saya, serial tv yang baik adalah yang dibuka dengan adegan ditemukannya mayat anak kecil dengan penyebab kematian tidak wajar. “Dark”, sejak episode 1 pada season perdananya, sudah memenuhi syarat tersebut. Dan kemudian ceritanya menggelinding sedemikian rumit sampai-sampai membuat mabuk. Membuat candu. Betapa tidak? Adik pacarmu ternyata adalah bapakmu. Anakmu adalah ibumu. Dan orang yang mengajarimu hal baru ternyata adalah dirimu di masa depan. Dalam “Dark”, semua pemahaman saya soal waktu dengan indah dan keji telah diporakporandakan.

Sebut saya berkecenderungan self-harm atau self-injury – gemar menyiksa diri – tapi saya menikmati setiap penyiksaan yang lahir dari plot dan rahasia-rahasia tergelap manusia dalam “Dark”. Dan rasanya inilah yang menjadi pembeda mutlak “Dark” dan saingan terdekatnya, “The Stranger Things”. Dalam “Dark” kita akan sering sekali berhadapan dengan pertanyaan mendasar soal kehidupan manusia. Pertanyaan yang hanya hadir saat kita tersudut. Saat kenyataan mengimpit. Saat nasib buruk dan takdir celaka datang menghantam. Apakah sesungguhnya kenyataan itu? Apakah sesungguhnya waktu? Apakah manusia memang terikat takdir yang keji atau punya kemerdekaan atas nasibnya sendiri? Pertanyaan semacam itu tidak kita temui dalam “The Stranger Things”.

Sebagian orang akan membenci “Dark” karena ceritanya yang terlampau rumit. Sebagian lagi akan memujanya, lucunya, dengan alasan yang sama. Saya menempatkan “Dark” di sudut hati yang sangat khusus, bersama “True Detective” season pertama, “Mindhunter” season pertama, dan “Broadchurch” season pertama.

Lihat polanya? Tidak ada satu pun serial tv yang punya cerita rumit dan gelap yang mampu mempertahankan pesonanya lebih dari satu season. Tepat di situlah “Dark” layak dinobatkan jadi juara. Tiga season, semua dalam tataran performa yang boleh dibilang sama baiknya. Sama-sama mencengangkan dengan caranya sendiri-sendiri.

Uang dan waktu yang sudah saya belanjakan menonton 3 season “Dark” benar-benar sepadan dengan kenikmatan yang saya reguk.