Tag Archives: pjid

Tentang Buku – Grunge Lokal

Saya mencintai buku sama seperti saya mencintai musik. Dua keajaiban dunia itu, dalam banyak kesempatan, adalah pelarian sempurna bagi saya dari riuh dan ruwetnya kehidupan. Dan dalam kesempatan lainnya, adalah penyelamatan.

Maka tidak heran kiranya ketika akhirnya saya, bersama Rudi (desainer), Davro (ilustrator), dan Gede (penerbit) memutuskan untuk menerbitkan buku perdana tentang musik. Ya, pada pengujung 2014, saya menerbitkan buku perdana berjudul “Saya Ada di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal”.

Tentu saja buku itu berisi catatan musik saya sendiri. Sangat personal. Sangat subjektif. Halaman demi halaman dalam buku itu bertutur tentang gigs tengah malam yang panas dan sarat keringat, tentang berbagai rilisan indie musisi grunge lokal yang nasibnya seperti layang-layang putus, dan tentang sebuah komunitas pecinta Pearl Jam garis keras bernama Pearl Jam Indonesia (PJID).

Tidak ada kajian akademik dalam buku ini. Tidak juga analisis yang objektif. Jadi saya tidak heran – meski tetap merasa kesal – saat ada beberapa orang di social media yang menuding bahwa melalui buku ini saya hanya menulis soal band teman-teman saya sendiri. Ada benarnya juga. Respon saya, seperti biasanya, go to hell! Saya tidak peduli. Silakan tulis dan terbitkan bukumu sendiri, smart-ass!

Upaya menerbitkan buku ini menjadi pertemuan perdana saya dengan sebuah platform pengadaan dana bagi inisiatif kreatif lokal bernama Wujudukan.com. Melalui platform itulah saya bisa menggalang sejumlah dana untuk mengongkosi cetak buku dan kemudian menggelar konser peluncuran buku yang hebatnya, dibintangi oleh sebagian anggota Navicula, Cupumanik, Besok Bubar, Alien Sick, dan Respito, beberapa band grunge lokal yang pada saat buku tersebut diterbitkan adalah nama-nama besar dari sedikit yang masih berkarya.

Secara pribadi, saya berutang rasa pada Sujiwo Tejo. Bukunya yang berjudul “Republik Jancukers” menyemangati saya untuk menulis buku saya sendiri. Ah, kalau tulisan Si Mbah yang seperti itu bisa dibukukan, berarti kumpulan artikel di blog wustuk.com, Kompasiana, dan lainnya juga bisa jadi buku! Demikian saya membatin waktu itu. Sangat naif, sombong, dan tidak pikir panjang. Khas saya.

Toh, akhirnya buku itu benar-benar lahir. Pengalaman saya menunjukkan, terlalu banyak menimbang akan berujung pada tidak adanya karya. Mau sempurna? Mana bisa! Apa tidak malu terhadap karya orang lain yang lebih bagus? Ya, biar saja! Berkarya saja terus. Lama-lama juga bakal bagus.

Jadilah. Buku “Saya Ada di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal” akhirnya menjadi bagian sejarah penting saya sebagai penulis. Sebagai penutur kisah. Sejak buku pertama itu, saya seperti tidak terhentikan. Kecanduan. Dan saya bahagia sekali bisa kecanduan menulis dan menerbitkan buku.

Pearl Jam Indonesia di Kedai Mantap Djiwa

Rasanya sudah seabad lewat sejak terakhir kali saya menikmati Nito memainkan lead guitar dalam Alive, Yellow Ledbetter, dan setumpuk lagu hit sejuta umat miliki Pearl Jam lainnya. Sama lamanya sejak terakhir kali saya menyaksikan dan mereguk energi Hasley saat menyanyikan Porch. Atau bersama dari bangku penonton melolongkan semua lirik dari semua lagu yang ditumpahkan penampil yang menggila di panggung.

Ya. Rasanya memang sudah lama sekali saya melupakan hal-hal yang secara mendalam sangat saya sukai. Saya cintai.

Sabtu malam (7/12), semua itu kembali. Adalah Ikhwan alias Kuda yang menyediakan kedainya sebagai tempat berjumpa. Kedai kopi mungil yang nyaman itu bernama Mantap Djiwa. Terletak di bilangan BSD, tak jauh dari Pasar Modern.

Orang-orang itu, para penampil dan penontonnya, sudah saya kenal lebih dari satu dekade lamanya. Bersama mereka, saya sudah berkali-kali menggelar konser musik komunitas, menerbitkan majalah, dan perjalanan wisata ke luar kota. Mereka, segila dan sepayah apa pun, terasa seperti keluarga. Itulah dia, Pearl Jam Indonesia.

Sesi gonjrang-gonjreng sore itu tidak dari awal bisa saya ikuti. Seharian penuh saya memang ikut kelas penulisan skenario yang dimentori oleh Salman Aristo, yang lucunya, adalah juga bagian dari keluarga besar Pearl Jam Indonesia. Kelas Skenario, setelah sebelumnya selama 3 bulan mengikuti Kelas Cerita – keduanya diselenggarakan oleh Wahana Kreator Nusantara – adalah bagian tak terpisahkan dari fase hidup saya yang belakangan ini berputar-putar di persimpangan jalan.

Saya tiba di kedai Mantap Djiwa sekitar jam 6 sore, ketika penampil sedang rehat setelah menyelesaikan sesi pertama mereka. Suasana sudah ramai. Dan ramah. Wajah-wajah lama yang saya kenal hadir. Berbagi cerita layaknya kawan lama yang sudah sekian waktu tidak berjumpa.

Sebagian sudah bawa anak. Sebagian lainnya membawa cerita yang berbeda. Namun semuanya datang untuk hal yang sama: bernyanyi sambil menikmati sore dan malam dan obrolan santai antarkawan.

Band bertajuk 40+ (kalian tahulah kenapa namanya demikian) yang digawangi oleh Jessy, Nito, dan Alex Kuple tampil prima. Silih berganti Jessy, Hasley, Dedot, Amang, dan Andi mengisi posisi sebagai vokalis. Mereka menumpahkan nomor-nomor beken milik Pearl Jam (tentu saja!), Alice in Chains, RHCP, dan banyak lagi yang lainnya.

Semalam, saya menyadari betapa sebagai manusia kita kerap melupakan apa yang sudah ada. Kita kelewat memfokuskan diri mengejar apa yang kita mau dan belum tersedia. Lebih parah, mengharapkan apa yang barangkali tidak bakal bisa kita dapatkan.

Semalam, di kedai kopi mungil yang nyaman itu, saya menyadari dan mengakui, bahwa bersama Pearl Jam Indonesia, saya sebenarnya punya apa yang barangkali tidak dipunya banyak orang di dunia: kawan-kawan yang sederhana. Yang menjadi bagian penting dalam hidup dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka. Dengan satu kesamaan yang mengatasi semua perbedaan, yaitu kecintaan pada musik.

Kedai Mantap Djiwa, you boleh!

PJID Kembali Sederhana

Nito Kesurupan (foto oleh Hilman)

Nyaris dua dekade dan tidak ada yang berubah. Sebagian bertambah gendut, tentu. Tapi tidak melemah. Sama sekali tidak! Semalam, setelah dua tahun lebih tidak kumpul dalam acara resmi komunitas, Pearl Jam Indonesia (PJID) kembali menggelar ritualnya: Pearl Jam Nite. Seperti biasa, semua berteriak keras, baik dari atas maupun bibir panggung. Melolong seperti anjing hutan. Melepaskan semua yang perlu dilepas.

Omong-omong, semalam adalah gelaran Pearl Jam Nite kesebelas sejak pertama kali perkumpulan fans garis keras itu mengibarkan bendera pada 2005. Sebelas gig digagas dan kemudian dieksekusi oleh dan untuk sebuah komunitas kecil dalam rentang waktu belasan tahun. Wagelaseh!

Ketika Dedot cs. membawakan I Got Shit, siapa pun yang hadir malam itu mestilah langsung paham, ini bukan sembarang acara. Bukan sebuah perayaan cover song yang hanya membawakan lagu hits sejuta umat. Nope! Pearl Jam Nite memang sepertinya tidak pernah dirancang untuk jadi gelaran seperti itu.

Apalagi ketika Jessy, dari atas panggung, mengumumkan bahwa sudah tiba waktunya “PJ dan kawan-kawan”. Itu adalah kode keras. Sejak detik itu, jangan harap ada lagu “normal”. Alih-alih nomor megahit macam Jeremy, yang menggelinding justru Crown of Thorns, Comfortably Numb, Baba O’Riley, sampai Under Pressure. Gila, kan? Gak juga, sih. Biasa aja. Ini PJID, tempatnya orang gila musik berkumpul untuk merayakan keragaman genre.

Tentu saja ada bintang tamu, kalau Nugie yang sejak mula memang sudah tergabung dalam PJID mau dikasih predikat seperti itu. Dan tentu saja dia boleh memainkan lagu-lagunya sendiri. Tidak ada larangan untuk itu. Pearl Jam Nite bukan acara keramat yang mengharamkan lagu selain milik Eddie Vedder cs. berkumandang. Jadilah kemudian trio Nugie, Nito, dan Kuple membawakan dua hits lawas: Pembuat Teh dan Pelukis Malam.

Wah, mereka bertiga sepanggung dan bawakan tembang lawas. Apa tidak tergugah untuk reuni dan menulis materi baru?

Ada masanya ketika PJID menjadi terlalu mainstream. Seingat saya, itu terjadi setelah ada liputan khusus tentang komunitas itu di harian Kompas. Satu atau dua tahun setelah liputan itu, PJID seolah terbebani untuk menampung banyak orang dan mengibarkan bendera perjuangan bertajuk “Bring PJ to Indonesia”.

Masa itu adalah yang paling gemerlap karena banyak sekali musisi lokal menyodorkan diri menjadi bintang tamu. Namun ironisnya, itu juga adalah masa yang paling terasa penuh tekanan, karena kegembiraan membicarakan band yang digilai tercampur dengan kewajiban berdakwah, mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menggilai. Betapa buang-buang waktu dan energi.

Semua itu pada akhirnya masuk ke comberan. Menjadi bagian masa silam yang separuh jadi bahan tertawaan. Dan saya merasa bersyukur bahwa dari comberan itu kemudian malah muncul jiwa-jiwa keras kepala yang memang sejak dulu menyukai Pearl Jam tampa embel-embel. Tidak perlu bintang ini itu. Tidak butuh liputan media anu. Semua dikembalikan ke khitahnya: menikmati Pearl Jam.  Itu saja.

Sekali lagi, semua menjadi sederhana. Terang. Dan sangat menyenangkan.

Seperti malam tadi. Saat masih ada tangan-tangan kokoh yang berkenan mengangkat tubuh tambun ini ber-crowd surfing. Saya sudah kelewat mabuk untuk ingat di lagu apa itu semua terjadi. Namun yang saya ingat, itu sungguh teramat sangat menyenangkan.